USAI

USAI
Episode 57


__ADS_3

"Tadi pagi dokter mengatakan kondisi anak kita semakin membaik dan beratnya juga semakin bertambah, kini sudah 2.2kg loh. Terima kasih ya sudah memberikan makan terbaik untuknya" Raditya merangkul Aira dan mencium kepalanya, keduanya tengah memandangi putranya dari kaca jendela ruang NICU bayi.


"Sebentar lagi kita pasti akan segera menggendong dan membawanya pulang" sambung Raditya.


"Lalu bagaimana dengan kondisi Reza?" tanya Aira.


Raditya memberikan selembar kertas gambar milik Chelsee yang di berikan oleh Winda kepadanya.


"Apa ini?" tanya Aira sambil membuka kertas tersebut.


Alangkah terkejutnya Aira saat melihat gambar yang pernah di buat putrinya 'Ternyata Reza masih menyimpan ini' gumamnya, ia juga melihat di bagian atas kertas terdapat tulisan  'I really miss you two.'


"Ia masih di ruang ICU, kondisinya masih kritis. Kemarin aku menjenguknya dan menemui keluarga yang sedang menunggunya di ICU untuk meminta izin memindahkan perawatan Reza ke Singapore" ucap Raditya.


"Apa aku boleh menjenguknya?"


"Tentu saja sayang, ia sering menyebut namamu dan juga kakak..."


"Ma-ma...." Chelsee berlari mendekat ke arah mamah dan papahnya, di ikuti oleh Tn.Maruli di belakangnya.


"Kakak, are you okay?" tanya Aira sambil memeluknya dengan erat menumpahkan kerinduannya yang sudah tiga hari ini tak bertemu dengan putri sulungnya "I miss you baby" Aira menghujani Chelsee dengan banyak ciuman di pipi Chubbynya.


"I'm good, I'm worried about you. You scare me hiks..." Chelsee menangis di pelukan Aira "I missed you too huhu..."


"Mamah dan adek baik-baik saja sayang" Aira mengelus punggung putri sulungnya dengan lembut.


"Kakak mau lihat adek tidak?" tanya Raditya yang juga ikut mengelus putrinya.


Perlahan Chelsee melepaskan pelukan mamahnya sambil menghapus air matanya.


"Itu adek sedang bobok" tunjuk Raditya di kaca jendela.


"I want to carry him" pintanya.


"Sebentar lagi adek keluar, kakak bisa menggendong dan bermain dengan adek" ucap Tn.Maruli.


"Is he sick or something?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Tidak, adek masih kecil dan masih sangat sensitif jadi perlu pemeriksaan secara menyeluruh" terang Raditya, ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan putri sulungnya "Kakak masih ingat sama Om Reza kan?" tanya Raditya.


Seketika wajah Chelsee berubah menjadi cemas, ia mengingat kejadian saat dirinya dan mamahnya hampir saja tertabrak mobil "How's he doing?" tanyanya khawatir.


"Om Reza saat ini sedang di rawat di ruang ICU, kakak mau menjenguknya?"


"Ya" Chelsee menganggukan kepalanya.


"Ya sudah kita ke sana sebentar ya, selagi jam besuknya masih ada" Raditya menggendong putrinya berjalan menuju ruang ICU di ikuti oleh istri dan papahnya.


Sempat terjadi sedikit perdebatan sebelum masuk ke ruang ICU, karena standar peraturan di rumah sakit tidak mengizinkan anak di bawah usia 12 Tahun untuk masuk ke dalam ruang ICU, namun karena Reza beberapa kali menyebut nama Chelsee akhirnya petugas pun mengizinkan dengan beberapa ketentuan.


Didampingi oleh Raditya, Chelsee pun masuk dengan menggunakan pakaian khusus. Perlahan Chelsee mendekat ke arah Reza yang terbaring lemah dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya.


"Om Eza, Thank you for helping me and mamah" ucapnya sambil menahan air matanya.


Reza berusaha tersenyum sambil mengedipkan mata, seolah berkata 'Ya, sama-sama'


"Get well soon, I missing playing with you" buliran-buliran air mata jatuh ke pipi Chelsee, ia memegang tangan Reza kemudian menggenggamnya.


Melihat putrinya sudah mulai tidak bisa mengontrol kesedihannya dan durasi waktu yang di berikan pun sudah habis, dengan terpaksa Raditya membawa putrinya keluar dari ruang ICU.


Begitu Chelsee dan Raditya keluar, giliran Aira yang masuk ke dalam untuk menjenguk Reza.


"Ma-af" ucap Reza terbata-bata.


"Sejak persidangan itu, aku sudah memaafkan A'Reza. Aku benar-benar mengucapkan banyak terima kasih karena Aa telah menyelamatkan aku dan Chelsee, aku sangat berharap Aa bisa segera pulih. Aku janji jika Aa pulih nanti, aku buatin sup untuk A'Reza dan A'Reza bisa main sama Chelsee lagi"


Reza tersenyum, ia terus memandangi wajah Aira yang tengah memberikan semangat kepadanya.


"Sudah habis waktunya keluar dulu ya, nanti aku pasti akan jenguk A'Reza lagi, aku pasti akan selalu mendoakan kesembuhan untuk A'Reza" Melihat tangan Reza yang bergerak, Aira pun menggengamnya "Aku pamit dulu ya" ia melepaskan genggaman tangannya kemudian melangkah keluar dari ruang ICU.


Melihat istrinya keluar dari ruang ICU, Raditya mengajak istri, anak dan papahnya kembali ke ruang rawat inap Aira. Namun Tn. Maruli menolaknya, ia memilih untuk kembali pulang.


"Papah pulang dulu sebentar ya, mamahmu sudah menuduh papah selingkuh dan menikah lagi karena sudah tiga hari tidak pulang, tapi nanti sore papah balik lagi untuk menjemput Chelsee" ucap Tn. Maruli.


Raditya mengerutkan keningnya mendengar ucapan papahnya "Ya sudah papah hati-hati ya. Terima kasih banyak pah" Raditya dan Aira mencium tangan Tn. Maruli secara bergantian.

__ADS_1


"Bye sweety, nanti malam Ompung jemput ya" Tn. Maruli mencium kepala Chelsee.


"Bye Ompung"


Tn. Maruli melangkahkan kakinya keluar rumah sakit, sedangkan Raditya berserta anak dan istrinya kembali keruang rawat inap Aira.


Beberapa hari tak bersama kedua orang tuanya membuat Chelsee rindu dengan kedua orang tuanya, ia tidur di paha Aira yang tengah mempumping ASI untuk putra bungsunya.


"Kakak tidur disini saja, mamah sedang pumping ASI untuk Adek" Raditya menepuk pahanya meminta Chelsee untuk idur di pangkuannya saja. Chelsee pun menurut, ia beralih ke papahnya.


"Pah, was my brother alone?"


"Tidak, ada banyak perawat yang menjaga adek" jawab Raditya.


"Would you still love me?" tanyanya kembali.


"Yes of course, I will always love you and I will always be here for you" Raditya meyakinkan putrinya jika dirinya akan selalu ada untuknya, ia sangat mengerti jika dengan kondisi pskologis seorang kakak yang sedikit khawatir kasih sayang kedua orang tuanya akan berkuraang saat kehadiran adiknya.


Lama Chelsee beceloteh hingga akhirnya ia tertidur di pangkuan Raditya, Raditya pun memindahkan putrinya di sofa bed, kemudian ia menghampiri istrinya yang masih mempumping ASI.


"Masih sakit ya?" tanya Raditya sambil mengelus dada istrinya dengan lembut.


"Just a little"


"Terima kasih ya" Raditya mencium kening Aira.


Tok... tok... tok...


mendengar ketukan pintu Raditya memakaikan apron menyusui ke istrinya, kemudian ia bergegas membukan pintu.


"Masuk Wind" Raditya mempersilahkan Winda untuk masuk.


"Maaf Pak Angkasa, Bu Aira. Aku hanya ingin melaporkan perkembangan kasus penabrakan kemarin. Dari informasi yang aku dapatkan, motif penabrakan tersebut lantaran Bu Cindy stres akibat persoalan keuangan karena sejak Pak Alex mendekam di penjara, Bu Cindy tidak memiliki pemasukan di tambah dengan banyaknya hutang judi Pak Alex yang belakang baru ia ketahui" ucap Winda.


"Tetapi alasan utamanya adalah karena baru-baru ini putri sulungnya meninggal dunia akibat bunuh diri karena tak tahan di bully oleh teman-teman sekolahnya dan tak tahan dengan kondisi keuangannya yang sekarang. Untuk itulah ia mencoba untuk membunuh Bu Aira dan Chelsee, karena ia masih menaruh dendam kepada Bu Aira yang telah menyeret Pak Alex ke dalam penjara" terang Winda.


Raditya menghela nafas beratnya, ia menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran untuk dirinya agar hati-hati dalam bertindak, karena apa pun yang di lakukan oleh orang tua tentu akan berdampak pada anak-anaknya. Ia ingin bisa menjadi panutan bagi istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


Drrrt... drrrt...


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" ucap Raditya saat ia membaca pesan masuk dari salah satu keluarga Reza yang mengabarkan jika Reza telah menghembuskan nafas terakhirnya.


__ADS_2