
Tiba dirooftop Aira dikejutkan dengan lampu vintage klasik bertuliskan 'MARRY ME'
"I believe that God created you for me to love. He picked you out from all the rest cause He knew I’d love you the best. Aira, can you be mine now and forever?" Raditya berjalan mendekat kearah Aira kemudian ia berlutut sambil memegang sebuah cincin dihadapan Aira.
Aira terdiam, ia masih tak menyangka jika Raditya akan melamar dirinya. Kepingan-kepingan memori akan perlakuan dan kata-kata kasar yang diucapkan Aruna kepada dirinya dan Chelsee masih terekam jelas dalam ingatannya, bagaimana ekspresi ketidaksukaan Aruna terhadap dirinya dan Chelsee masih tergambar jelas dalam benak Aira, bahkan Aira masih mengingat jika Aruna pernah mengatakan bahwa bukan hanya dia saja yang tak menyetujui hubungannya dengan Raditya namun keluarga Raditya pun tak menyetujuinya.
"Ra, kehilanganmu kemarin membuatku hampir gila, aku baru bisa sedikit bernafas lega saat Winda berhasil menemukan keberadaanmu, meskipun saat itu aku masih belum bisa menemuimu karena aku masih di Singapore." Raditya berdiri kemudian meraih tangan Aira dan menaruhnya di dadanya.
"Beberapa hari setelah aku kembali ke Indonesia duniaku kembali menghitam saat melihatmu berada dipelukan pria lain. Now, I just need one more chance to prove my love to you, please come back to me."
"Aku datang bukan untuk singgah namun untuk sungguh, karena bagiku kamu adalah rumah. Sejauh apa pun aku melangkah hatiku tetap tertuju padamu dan Chelsee" Raditya menatap mata Aira dalam-dalam.
"Bang Radit, terima kasih atas kejutannya dan terima kasih juga untuk rasa sayang serta semua hal yang telah Bang Radit berikan untukku dan Chelsee. Tapi aku minta maaf, aku tidak bisa menikah dengan Bang Radit" ucap Aira dengan hati-hati.
"Why?" tanya Raditya.
"Karena aku sudah merasa cukup dan tenang hanya berdua dengan Chelsee, sekali lagi aku minta maaf, permisi" Aira membalikan tubuhnya melahkah pergi meninggalkan Raditya, namun Raditya menahannya dan menarik Aira ke dalam pelukannya.
"Aira, please don't leave" bisik Raditya, ia memeluk Aira dengan erat.
"Maaf Bang Radit aku tidak bisa" perlahan Aira melepaskan pelukan Raditya, ia berlari pergi meninggalkan Raditya.
Sekilas ia melihat Winda yang berada didekat pintu lift, namun Aira enggan menoleh ke arah Winda ia terus berlari keluar dari kantor Raditya.
'Maafkan aku Bang Radit, aku tidak ingin anakku dihina dan di rendahkan oleh keluarga Bang Radit dan dengan kesendirianku saat ini aku benar-benar merasa tenang dan nyaman' gumam Aira dibalik kemudi mobilnya, sebenarnya ia pun sedih atas keputusan yang ia ambil namun ia takut untuk melangkah, merasa bahwa ini adalah zona terbaiknya.
Sementara itu Raditya masih terdiam terpaku dirooftop tempat Aira menolak lamarannya.
"Penerbangan digagalkan, Pak Angkasa tidak jadi terbang" ucap Winda melalui Handy Talky, ia menginformasikan jika Raditya tidak jadi menggunakan helikopter.
"Terima kasih atas bantuannya, mulai besok kamu tetap bekerja seperti biasanya" ucap Raditya kepada Winda, ia pun berlalu pergi meninggalkan kantornya, ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi tanpa ia tahu arah.
Pukul 05.30 setelah menunaikan ibadah shalat subuh, seperti biasanya Aira membuka jendela dan gorden rumahnya, ia sangat terkejut ketika melihat ada seorang pria yang tertidur di kursi teras depan rumahnya.
__ADS_1
Aira bergegas mengambil sapu lantai, dengan perlahan ia membuka pintu rumahnya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kananya bersiap memukul pria tersebut.
Aira berjalan mengendap-endap mendekati pria tersebut, alangkah terkejutnya ketika ia melihat pria yang dianggapnya maling.
"Bang Radit" Aira menurunkan tangannya yang sedari tadi sudah siap untuk memukul.
"Bang Radit... Bang Radit..." panggil Aira kembali, Raditya tak kunjung bangung meski Aira telah mencoba membangunkannya.
"Bang Radit" Aira menepuk lengan Raditya dengan lembut "Hah, panas sekali" ia langsung memegang kening Raditya "Wah ia panas sekali"
"Bik.. bik..." teriak Aira memanggil asisten rumah tangganya, tak butuh waktu lama sang asisten pun datang menghampiri Aira.
"Ada apa Bu Aira?"
"Cepat bantu saya membawa Pak Radit kedalam"
"Baik bu" dengan sigap asisten rumah tangga Aira membantu Aira memapah Raditya masuk ke dalam.
"Dimana Bu Aira?"
Tadinya Aira berniat membawa Raditya ke ruang keluarganya namun ia teringat jika sofa di ruang keluarganya baru saja terkena pipis kucing peliharaan Chelsee.
"Dikamarku saja bik" dengan terpaksa Aira dan asistennya memapah tubuh Raditya masuk ke dalam kamarnya.
Dengan sangat hati-hati Aira membaringkan tubuh Raditya di atas tempat tidur miliknya 'Berat sekali' gumamnya.
"Bik tolong ambilin air untuk mengompres ya" perintah Aira.
"Baik bu"
Selagi asistennya mengambil air untuk mengompres, Aira mengukur suhu tubuh Raditya dengan menggunakan termometer digital "38.5° panas sekali"
"Aira, Please don't leave me!" Raditya mengigau menyebut nama Aira.
"Ini Bu Aira" ART Aira memberikan bak yang berisi air serta washlap untuk mengompres.
__ADS_1
"Bik tolong bangunkan Chelsee, kemudian bantu Chelsee bersiap berangkat ke sekolah" ucap Aira
"Baik Bu Aira" ART Aira pun keluar dari kamar Aira menuju kamar Chelsee.
Dengan telaten Aira mengompres Raditya, kemudian ia membuka blazer dan sepatu yang di kenakan Raditya 'Apa dia tidak pulang ya?' pasalnya Raditya masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang kemarin yang ia kenakan.
Aira membiarkan Raditya beristirahat dikamarnya, sementara dirinya membuatkan sarapan untuk putrinya dan membuatkan bubur untuk Raditya.
"Morning baby, mmmuah" Aira menghapiri putrinya di meja makan, ia mencium putrinya yang sudah nampak rapih mengenakan pakaian seragamnya "Hari ini sekolahnya diantar bibik dulu ya, mamah sedang ada keperluan, nanti pulangnya mamah jempu. okay?"
"Okay"
"Good, ayo habiskan sarapannya, mamah ke dapur lagi ya." Aira mengelus kepala putrinya kemudian ia menyelesaikan pembuatan sup untuk raditya.
Selesai sarapan, Aira mengantar putrinya hingga putrinya naik taxi bersama asistennya "Bye honey, semangat ya. Mmmuah... Mmmuah" Aira mencium semua bagian wajah putrinya, kemudian ia menutup pintu mobil taxi.
"Bye mah" Chelsee melambaikan tangannya.
Setelah taxi yang mengantar putrinya kesekolah tak terlihat, Aira kembali menghampiri Raditya dengan membawa sup dan bubur buatannya, ia melihat Raditya sudah terbangun.
"Aku...?"
"Dikamarku, bagaimana badannya?" tanya Aira sambil mengecek kembali suhu badan Raditya.
"Masih pusing" jawab Raditya.
"Sudah turun kok jadi 37°. Sarapan dulu ya" tak menerima penolakan Aira langsung memasukan sendok ke dalam mulut Raditya, meski mulutnya terasa pahit namun Raditya memaksakan diri untuk menelan suapan demi suapan yang Aira berikan hingga bubur buatan Aira habis.
"Untuk sementara minum obat penurun demam dulu ya, nanti aku akan suruh pegawaiku mengantar Bang Radit ke rumah sakit karena hari ini aku rapat dengan anggota komunitasku" Aira memberikan paracetamol kepada Raditya.
"Lain kali jangan tidur diteras lagi ya"
"Rumah yang aku punya ternyata sudah terkunci rapat, tapi aku akan terus berada diteras itu sampai pintu itu terbuka lagi untukku" ucap Raditya.
"Pernikahan itu tidak hanya menyatukan dua orang tapi juga dua keluarga, aku yakin Bang Radit pasti akan menemukan wanita yang tepat untuk Bang Radit dan juga untuk keluarga Bang Radit. Mulai sekarang, kita kembali ke orbit masing-masing tanpa saling mengganggu satu sama lain" Aira beranjak dari tempat duduknya, ia bersiap untuk memulai aktivitasnya.
__ADS_1
Selesai bersiap, Aira kembali ke kamarnya, ia melihat jika Raditya sudah tidak lagi berada dikamarnya "Aku percya jika Bang Radit pasti akan mendaptkan yang terbaik"