USAI

USAI
Episode 6


__ADS_3

Setelah beberapa hari pasca keluar dari rumah sakit, Aira kembali membawa Chelsee kembali ke rumah sakit untuk kontrol. Aira bukan hanya membawa Chelsee kontrol ke dokter anak namun ia juga membawa putri semata wayangnya ke poli rehabilitasi medik.


Setiap bulan Aira rutin mendatangi poli rehabilitasi medik guna evaluasi perkembangan terapi wicara dan terapi sensori integrasi yang di lakukan oleh putrinya, dalam satu minggu Chelsee menjalani dua kali terapi wicara dan sensori integrasi.


Melihat usia Chelsee yang sudah mencapai tiga setengah tahun, dokter menambah jadwal terapi Chelsee menjadi empat kali dalam seminggu, hal ini di lakukan untuk mengejar keterlambatan tumbuh kembangnya, di samping itu dokter juga menyarankan Aira untuk berkonsultasi ke psikolog anak karena pola asuh untuk anak berkebutuhan khusus berbeda dengan anak-anak seusianya, di tambah Chelsee tumbuh tanpa figur seorang ayah, dan yang terakhir dokter menyarankan agar Chelsee di masukan ke play group agar ia bisa bermain dan bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya.


Selama konsultasi berlangsung, Aira menguatkan hatinya untuk tetap terlihat tegar menerima semua informasi yang berikan oleh dokter.


"Terima kasih dok." Aira mengulurkan tangannya menjabat tangan dokter, kemudian ia pamit keluar dari poli rehabilitasi medik sambil menggendong putrinya.


Sepanjang perjalanan menuju kediamannya Aira memikirkan perkembangan tumbuh kembang putrinya, ia sangat berharap jika putrinya bisa tumbuh seperti anak-anak seuisanya.


Tiba di kediamannya baby sitter Chelsee mengutarakan niatannya untuk resign karena ia harus kembali pulang ke kampung halamannya.


"Kapan Mba Rara?" Tanya Aira.


"Bulan depan, Bu Aira." Jawabnya.


Aira melihat kalender di handphonenya "Aku masih ada waktu tiga minggu lagi untuk mencari pengganti baby sitter Chelsee." Gumamnya dalma hati.


"Baiklah kalau begitu nanti aku akan cari orang yang akan menggantikan Mba Rara." Aira membawa putrinya masuk ke dalam kamar karena sudah waktunya untuk Chelsee tidur siang.


Sambil menemani putrinya tidur, Aira mencari-cari informasi mengenai baby sitter baik melalui yayasan maupun bertanya kepada teman-temannya, baginya bukan hal yang mudah mencari baby sitter untuk anak berkebutuhan khusus, tentunya harus orang yang mengerti dan sabar dalam mengasuh Chelsee.


Baru saja ia ingin menghubungi yayasan baby sitter, teman kantor Aira menghubunginya menanyakan laporan bank yang sedang aira kerjakan di kantornya.


"Besok pagi Pak Kristof akan ke kantor untuk meeting terkait penambahan plafon kredit, jadi tolong segera persiapkan datanya agar Pak Martin bisa memberikan update laporan keuangan terbaru karena Pak Kristof meminta data laporan keuangan terbaru." Ucap Santi.


"Baik mba, saya akan kerjakan sekarang juga." Aira mematikan handphonenya.


Ia turun perlahan dari tempat tidurnya agar putrinya tidak terbangun, kemudian ia mengambil laptopnya dan keluar dari kamarnya, Aira memilih untuk mengerjakan laporannya di ruang keluarga, agar tidak mengganggu putrinya yang sedang beristirahat.


Hingga menjelang malam laporan Aira belum juga selesai, ia masih duduk di depan layar laptopnya.


"Bukannya kamu sedang cuti ya?" Raditya datang dengan membawakan makanan untuk Aira dan juga Chelsee.


"Bang Radit kok bisa ada di sini?" Aira nampak terkejut dengan kedatangan Raditya di hadapannya, ia segera merapihkan rambutnya yang berantakan.

__ADS_1


"Begitu saja juga sudah cantik kok." Puji Raditya, wajah Aira memerah mendapatkan pujian dari Raditya.


"Karena kamu cuti makanya aku ke sini, tadi baby sitter Chelsee mempersilahkan aku untuk masuk jadi ya aku masuk saja." Raditya duduk di samping Aira.


"Kamu makanlah, biar aku saja yang mengerjakannya." Ucap Raditya.


"Memangnya Bang Radit bisa? kan kita beda divisi."


"Jadi kamu meremehkan aku? besok aku ikut meeting bersamamu, jadi aku juga harus tahu laporan yang kamu buat." Raditya mengambil laptop Aira dan kembali menyuruh Aira memakan makanan yang ia bawa.


"Bang Radit sudah makan?" Tanya aira.


"Belum, suapin dong." Pinta Raditya tanpa basa basi.


"Kalo begitu biar aku saja yang mengerjakan, Bang Radit makanlah sendiri."


"Memangnya kamu tahu nilai kontrak dari project-project ini?" Tanya Raditya.


"Aku akan tanya pada Mba Cicih." Ucap Aira.


"Kenapa kamu tidak tanya saja langsung dengan aku? aku kan satu divisi dengan Cicih." Raditya membuat Aira tak mampu menjawab pertanyaannya.


Merasa tak enak makan sendirian, Aira memberanikan diri untuk menyuapi Raditya. Raditya tersenyum penuh kemenangan, kemudian ia membuka mulutnya.


Usai makan Raditya memberikan kembali laptop Aira "Coba kamu cek sudah benar apa belum?" Raditya beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil Chelsee yang sedang bermain bersama baby sitternya, Raditya dan Chelsee bermain di samping Aira yang sedang memeriksa laporan yang di buat oleh Raditya.


Malihat putrinya bermain dengan Raditya membuat Aira teringat dengan ucapan dokter mengenai dampak Kurang hadirnya sosok ayah di benak anak perempuan akan mempengaruhi kestabilan emosi pada anak.


"Hei kok malah bengong, bagaimana laporannya?" Raditya membuyarkan lamunan Aira.


"Sudah benar semua kok, tinggal kirim ke Pak Martin." Aira pun langsung mengirim semua data tersebut ke Pak Martin melalui email.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya." Raditya melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul 20.30 WIB.


"Terima kasih banyak ya Bang Radit." Sambil menggendong Chelsee, Aira mengantar raditya keluar.


"Sampai besok di kantor ya." Raditya beralih ke Chelsee "Bye sweety." Raditya mengecup kening Chelsee kemudian melambaikan tangannya.

__ADS_1



Keesokan paginya Aira di pusingkan karena Pak Martin tidak memberikan update terbaru laporan keuangan perusahaan yang ia akan gunakan sebagai bahan presentasinya, bahkan Pak Martin tidak masuk kantor dan tidak dapat di hubungi.


"Kamu tenanglah." Ucap Raditya.


Raditya meminta izin kepada atasannya untuk memperbolehkannya menggunakan komputer Pak Martin, setelah Raditya mendapatkan izin dari atasannya ia mengajak Aira untuk ke ruangan Pak Martin.


"Masih ada waktu satu jam, ayo kita kerjakan bersama." Raditya meminta Aira untuk duduk di sebelahnya.


"Bang Radit yakin selesai?"


"Ini kan pakai sistem jadi pasti lebih cepat asal datanya lengkap, tolong kamu minta data pajak pada Sari." Pinta raditya, Aira pun langsung menghubungi Sari meminta Sari untuk mengirimkannya melalui email.


"Sudah Bang Radit, datanya ada di email Bang Radit." Ucap Aira, Raditya menganggungkan kepalanya.


Selama satu setengah jam keduanya bahu membahu mengerjakan laporan keuangan sebagai bahan untuk meeting bersama kristof.


"Bang radit, ini neracanya tidak balance." Ucap Aira.


"Sebentar, tadi retained earnings kayanya salah deh." Raditya mengganti dengan nilai yang sesuai.


"Nah, balance kan?" Raditya tersenyum puas, Aira menganggukan kepalanya.


"Untung saja Pak Kristof terjebak macet sehingga kita punya waktu lebih untuk menyelesaikannya." Ucap Aira sambil membereskan berkas-berkas yang akan ia bawa untuk meeting.


"Biar aku saja yang bawa." Raditya mengambil semua berkas tersebut dari tangan Aira, ia menggandeng tangan Aira berjalan menuju ruang meeting.


Pagi itu meeting berjalan dengan lancar, baik Raditya mau pun Aira mampu mempresentasikan dengan baik.


"Terima kasih banyak ya Bang Radit." Ucap Aira setelah meeting selesai.


"Sama-sama sayang."


"Hah?" Aira sangat terkejut dengan panggilan sayang yang Raditya ucapkan.


"Sebentar ya, orang tuaku telephone." Raditya mengelus kepala Aira kemudian keluar dari ruangannya ia mengangkat telephone dari orang tuanya.

__ADS_1


Tak lama setelah Raditya mengangkat telephone dari orang tuanya, Aira melihat Raditya bergegas pergi keluar dari kantor.


__ADS_2