
Tiba didepan parkiran Raditya nampak bingung cara membuka pintu mobil Aira.
"Ini kartunya di tempel dimana Ra?" tanya Raditya. Aira tak menjawab pertanyaan Raditya, ia mengambil handphone dari dalam tasnya kemudian membuka kunci mobil dengan menggunakan handphonenya.
"Yuk masuk" ajak Aira, ia membukakan pintu untuk putrinya, mendudukan Chelsee dicar seat dan memastikan sabuk pengaman terpakai dengan baik serta adjustable, barulah ia duduk di samping Raditya.
"Ra, nyalain mesinnya bagaimana?" tanya Raditya kembali dengan wajah bingungnya.
"Bang Radit, jangan bercanda deh" Aira mengambil kartu mobilnya dari tangan Raditya kemudian menempelkan kartu tersebut di konsol tengah, mesin mobil Aira pun menyala.
Raditya tersenyum melihat wajah Aira yang nampak kesal, sebenarnya bukan ia tak mengerti cara mengemudikan mobil Aira namun ia hanya ingin mengerjai Aira saja.
"Pakai dulu seatbeltnya" Raditya menarik sabuk pengaman Aira kemudian memasangkannya, sesaat kedua mata mereka bertemu sehingga membuat Aira menjadi salah tingkah, ia langsung membuang wajahnya ke arah jendela kaca mobil.
Raditya tersenyum melihat wajah Aira yang memerah karena salah tingkah, ia pun langsung mengemudikan kendaraan milik Aira menuju kediaman Aira.
Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai dikediaman Aira, begitu turun dari mobil Raditya mengembalikan kartu mobil Aira.
"Terima kasih ya atas tumpangannya" ucap Raditya, Aira menganggukan kepalanya kemudian ia mempersilahkan Radiya untuk masuk ke dalam.
Saat masuk ke dalam rumah Aira cukup terkejut melihat ada meja prasmanan di ruang tamunya.
"Ren, ini makanan dari siapa?" tanya Aira.
"Itu Bu Aira, dari Pak Angkasa" Reni menunjuk ke arah Raditya dengan menggunakan jempolnya.
"Kamu belum makankan? kita makan bareng yuk!!" ucap Raditya sambil mengelus bahu Aira kemudian ia mengambil piring dan nasi.
"Chelsee mau makan apa? makan sama uncle ya?" Raditya membungkukkan badannya menanyakan makanan apa yang ingin Chelsee makan.
__ADS_1
"Tidak perlu Bang Radit, biar Chelsee makan bersamaku saja" Aira mencegah Raditya untuk menyuapi putrinya.
"Baiklah, tapi kamu juga makan ya" ucap Raditya, Aira menganggukan kepalanya.
Setelah mengambil makanan Raditya menyuh para pegawai yang bekerja di rumah Aira untuk makan bersamanya, mereka semua makan secara lesehan di lantai untuk menambah keakraban.
"Ra, sebentar" Raditya mengelap mulut Aira dengan menggunakan tissue .
"Biar aku saja" Aira langsung mengambil tissue dari kotak tissue yang berada di depannya kemudian mengelap mulutnya sendiri.
Usai menyantap makan siang, Aira meminta asisten rumah tangga menemani Chelsee bermain sedangkan dirinya mengobrol bersama Raditya di teras depan rumahnya.
"Terima kasih atas makan siangnya" ucap Aira mengawali obrolannya dengan Raditya, Raditya menganggukan kepalanya.
"Ra, ada yang mau jelasin sama kamu"
"Okay, Bang Radit jelasin aja"
Dilihatnya Aira memasang wajah datar tanpa ekspresi, Raditya pun melanjutkan kembali kalimatnya.
"Sesampainya di ruang rawat inap, aku melihat keberadaan Nita dan keluarganya sedang menjenguk mamah, sebenarnya bukan hal yang asing asing lagi, karena mamahku dan mamahnya Nita memang berteman cukup dekat"
"Sebentar, ini Nita anak finance, teman satu kantor kita?" tanya Aira menyakinkan jika dialah orang yang diceritakan Raditya.
Raditya menganggukan kepalanya, ia membenarkan pertanyaan Aira.
"Hari itu mamah menjodohkan aku dengannya, bukan hanya itu papah juga meminta aku untuk mengurus perusahaannya karena beliau ingin fokus menjaga mamah"
'Pantas saja selama ini dia jahat sekali padaku, rupanya ia menyukai Bang Radit. Tapi mengapa waktu itu sari tak mengatakannya padaku? Ah sudahlah di kantor itu memang hampir semuanya bermuka dua, untung saja aku sudah keluar dan tidak lagi berhubungan dengan mereka semua' gumam Aira dalam hati.
__ADS_1
"Ra..." panggil Raditya.
"Ah ia Bang Radit, silahkan dilanjutkan"
"Aku tidak bisa begitu saja menolak perjodohan itu, terlebih kondisi mamah saat itu sedang sedang tidak stabil, aku tidak ingin terjadi apa pada mamah, jadi aku putuskan untuk menerimanya sambil aku mencari bukti-bukti yang kuat untuk melaporkan Nita kepada pihak yang berwajib"
"Maksud Bang Radit?" tanya Aira.
"Aku sering melihat Nita jalan dengan pria paruh baya, dan benar saja ia terlibat praktik prostitusi online. Dua hari sebelum acara pernikahanku dengannya, aku resmi melaporkannya" Raditya menghela nafasnya, ia teringat saat kejadian itu orang tuanya sangat syok hingga membuat kondisi kesehatan mamahnya memburuk.
"Aku dan papah memutuskan untuk membawa mamah ke Mount Elizabeth Hospital, Singapore. Selama tiga bulan aku bolak balik Jakarta - Singapore, saat di Jakarta aku mencoba untuk menghubungimu Ra, aku merasa bersalah karena telah meninggalkanmu"
"Bang Radit tidak perlu merasa bersalah padaku, bukankah dari dulu kita hanya berteman?" tanya Aira sambil tersenyum
"Boleh aku tanya satu pertanyaan untuk Bang Radit?" sambung Aira, Raditya menganggukan kepalanya.
"Apakan Winda adalah sekretaris Bang Radit? "
Raditya sangat terkejut karena ternyata Aira mengetahui jika ia menyuruh Winda sekretarisnya untuk membantu usaha Aira, Raditya ingin memastikan jika Aira dan Chelsee tidak kekurangan apa pun meski dirinya tak berada di sampingnya.
"Okay terima kasih atas semua bantuan dan ceritanya untuk hari ini, sudah masuk jam tidurnya Chelsee aku herus menemani Chelsee dan banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku permisi dulu ya Bang Radit" Aira bernajak dari tempat duduknya namun Raditya menahannya.
"Ra..."
"Oh ia satu hal lagi, kalo boleh aku minta. Bang Radit tidak perlu sering-sering datang kemari, aku tidak mau punya PR menjelaskan kepada Chalsee tentang orang yang datang hanya untuk singgah" Aira melepaskan tangan Raditya yang menahannya, ia berjalan masuk ke dalam rumahnya lewat dari toko bunganya.
Aira menghentikan langkahnya saat dirinya melewati Winda yang tengah membuat buket bunga.
"Wind, tugasmu sudah selesai. Aku persilahkan jika kamu ingin kembali bekerja di perusahaan Pak Angkasa, terima kasih atas semua kerja kerasnya"
__ADS_1
"Tapi Bu Aira...."
Bagi Aira semunya sudah jelas, ada ketidakjujuran dalam diri Winda sehingga ia merasa tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan Winda.