USAI

USAI
Episode 55


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Meningkatnya produksi hormon progesteron dalam tubuh Aira membuatnya sulit tidur, sehingga tak jarang pukul 12.30 dini hari Aira sering terbangun dari tidurnya.


Matanya bergerilya mencari keberadaan suaminya, namun ia tak menemukan tanda-tanda keberadaan Raditya dikamarnya, yang ia temukan hanya laptop suaminya saja yang masih menyala di atas meja kerjanya.


Perlahan Aira beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan mendekat kearah laptop suaminya. Aira mengerutkan keningnya saat melihat mutasi rekening, terdapat pengeluaran pembelian satu unit Apartement di Sydney pada layar laptop suaminya tersebut.


CKLEK


Raditya membuka pintu kamarnya, ia masuk dan mendekat ke arah Aira.


"Maaf tadi aku habis shalat, kamu tidak nyaman ya tidurnya? Bobok lagi yuk, aku temani!" Raditya berdiri di belakang kursi yang diduduki istrinya kemudian ia mengelus bahu Aira dengan lembut sambil mencium puncak kepala Aira.


"Bang Radit beli unit apartement di Sydney?" tanya Aira, ia mengarahkan kursor pada mutasi transakasi internet banking suaminya.


Raditya menganggukan kepalanya, ia membenarkan jika dirinya baru saja melunasi pembayaran pembelian unit apartement di Meriton Suites Mascot Central.


"Untuk apa? kita kan hanya mau maternity shoot paling hanya satu minggu di Sydney"


Raditya dan Aira sebelumnya telah sepakat untuk melakukan maternity shoot sekaligus kilas balik perjalanan Raditya yang pernah menempuh pendidikan di The University of Melbourne, Australia.


Raditya melogout akun internet banking kemudian ia mematikan laptopnya "Kita akan pindah ke Sydney, besok aku akan mengurus perpindahan sekolah kakak" ucap Raditya.


Seketika Aira merubah posisinya, ia memutar kursinya menghadap Raditya agar ia dapat memandang wajah suaminya.


"Pindah? mengapa Bang Radit tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya? bagaimana dengan pekerjaan Bang radit, pekerjaanku, yayasanku dan lain-lain?" tanya Aira secara betubi-tubi.


"Untuk florist aku akan suruh Winda yang menghandle semuanya, yayasanmu ada Cara yang akan mengurusnya. Minggu depan setelah peresmian yayasanmu, kita akan terbang ke Australia, kamu cukup menjadi donatur tetap dan memantaunya dari jauh" Raditya berjongkok merangkum wajah istrinya.


"Aku ingin kamu memiliki waktu panjang untuk berlibur dan beristirahat tanpa memikirkan apa pun di trimester ketiga ini, selain itu aku juga ingin kamu mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik saat persalinan nanti dan yang terpenting kakak bisa mendapatkan pendidikan terbaik disana" terang Raditya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan Bang Radit?" tanya Aira kembali.


"Jakarta - Sydney hanya 7 jam, setiap Jum'at sore aku pasti akan menyusulmu ke Sydney. Kamu tidak akan kesepian karena nanti doula dan beberapa asisten rumah tangga kita akan menemanimu di sana"


Sebenarnya Raditya merasa sangat berat menjalani LDR dengan istrinya dan anaknya, namun menurutnya ini adalah langkah terbaik sambil ia terus mengambil hati mamahnya agar bisa menerima Aira.


"Apa ini ada kaitannya dengan mamah?" tanya Aira.


Raditya terdiam, ia tak mampu menjawab pertanyaan Aira karena memang benar alasan utama ia merencanakan perpindahan tersebut karena kejadian beberapa waktu lalu saat mamahnya mendatangi Aira dikediamannya. Raditya tak ingin kejadian itu terulang, ia tak bisa membayangkan jika menjelang persalinan atau pada saat persalinan istrinya, mamahnya kembali datang dan berbicara hal yang menyakitkan kepada istrinya.


"Hubunganku dengan mamah baik-baik saja, justru waktu itu mamah kemari memberikan banyak nasehat seputar kehamilan" Aira mengelus wajah Raditya.


"Maaf sayang, kali ini aku lebih percaya pada CCTV rumah ini" Raditya kembali berdiri.


"Percayalah aku benar-benar baik-baik saja, menurutku hal yang wajar jika mamah mengkhawatirkan kandunganku" Aira benajak dari tempat duduknya, berdiri berhadapan dengan Raditya.


Raditya memeluk erat Aira "Aku yang kenapa-kenapa, aku yang tidak ikhlas atas perkataan dan perlakuan mamah terhadap wanita yang ku sayangi, aku tidak ingin hal itu terluang lagi" bisiknya lirih.


"Ya aku tahu. Hormat, bakti dan sayangku tidak akan pernah berkurang dan berubah kepadanya. Hanya saja prioritasku saat ini menjagamu dan anak-anak kita, please tinggalah di Sydney paling tidak sampai selesai masa menyusui anak kita" Raditya melepaskan pelukannya, ia menatap mata Aira dalam-dalam.


Aira menganggukan kepalanya "Aku akan ikut kemana pun Bang Radit mengajakku" ucap Aira.


"Sudah jam 01.00, kita istirahat yuk" Raditya mengajak istrinya kembali beristirahat, ia membawa Aira tidur dalam dekapan hangatnya.



Satu minggu kemudian


Aira bersama teman-teman komunitasnya meresmikan Special Child Foundation, sebagai ketua yayasan tentu saja Aira di berikan kesempatan untuk memberikan sambutannya.


"Anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk dilibatkan dalam setiap aktivitas, mengoptimalkan potensinya, maupun mewujudkan cita-citanya. Semoga yayasan ini memberikan karya nyata dalam membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang kurang beruntung, dan memerlukan uluran tangan. Terima Kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Aira di akhir sambutannya.

__ADS_1


Dari kejauhan Raditya tersenyum bangga melihat istrinya yang tengah berdiri diatas panggung memberikan sambutan, ia dan putrinya memberikan tepuk tangan meriah untuk Aira.


Prosesi selanjutnya adalah gunting pita dan pemotongan tumpeng, Aira di temani Cara selaku wakil berdiri di samping Aira mendampinginya, keduanya mendapatkan tepuk tangan meriah dari semua hadirin yang berada di acara tersebut.


Selesai acara inti Raditya langsung menghampiri istrinya dan berpamitan padanya.


"Congratulation baby, proud of you" ucap Raditya sambil memberikan bouquet white roses kepada istrinya.


"Thank you honey" Aira merangkul dan mencium pipi suaminya.


"Aku ke kantor dulu ya, aku mau menyelesaikan semua pekerjaanku agar besok saat kita berangkat ke Australi tidak punya outstanding" Raditya memberikan kecupan manisnya di kedua pipi Aira dan perutnya, tidak lupa ia juga mencium kepala putri sulungnya "Papah pergi dulu ya sayang"


"Hati-hati ya pah" ucap Aira dan Chelsee bersamaan.


Raditya menganggukan kepalanya "Selesai acara langsung pulang di antar Mang Giman ya, bye" Raditya melangkah pergi meninggalkan tempat acara.


Sementara Aira masih berkumpul bersama tamu undangan dan anggota komunitasnya, berkeliling melihat-lihat semua kegiatan yang berada di yayasannya, termasuk panti yang ia bangun untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang di telantarkan oleh keluarganya, sambil berkeliling ia mengajarkan kepada putrinya untuk berbagi dan selalu bersyukur dengan apa yang telah ia miliki.


Rasa lelah yang kerap hinggap karena perutnya yang semakin membesar membuat Aira memutuskan untuk pulang lebih dahulu di bandingkan dengan anggota yang lain.


"Mamah beli rujak sebentar dulu ya" melihat gerobak berada di seberang yayasan membuat Aira tergoda untuk membelinya


"I'm going, I want to ice cream" Chelsee penjual ice cream dorong yang bersebelahan dengan gerobak rujak.


"Okay" Aira menggandeng tangan putrinya.


"Bu Aira mau ke mana?" tanya Pak Giman, supir pribadi Raditya yang di tugaskan oleh Raditya mengantar istri dan anaknya pulang.


''Sebentar Mang, ake depan sebentar" Aira yang terbiasa membeli segala sesuatunya sendiri enggan menyuruh supir atau pun asistennya, terlebih jika tidak jauh.


Ia menggandeng putrinya menyeberang jalan untuk membeli ice cream, di pertengahan jalan tina-tiba ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi darang ke arahnya.

__ADS_1


Ciiiiittt..... Braaak....


__ADS_2