
Raditya tersenyum mendengar ajakan istrinya, ia langsung menyuruh supir papanya untuk mengendari mobil miliknya, mengantar orang tua berserta anak-anaknya menuju villa.
Sementara dirinya memilih berjalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor milik salah satu pegawai D'Ubud.
Menikmati udara dingin kota Bogor dimalam hari, Aira memeluk erat suaminya. Raditya tersenyum melihat tangan Aira melingkar di pinggangnya "Besok-besok jika kita kencan kita pakai motor saja ya, agar aku dipeluk terus olehmu" goda Raditya sambil mengelus lembut tangan istrinya, ia sengaja mengemudikan kandaraannya dengan kecepatan lambat agar ia bisa lebih lama menikmati moment tersebut.
"I will always hold you, forever" bisik Aira, ia menyandarkan kepalanya di punggung Raditya tempat ternyaman baginya.
Memasuki Jalan Raya Pajajaran, Raditya menepikan kendaraannya di salah satu Warkop yang cukup terkenal di kota Bogor.
"Makan mie instan yuk!" ajak Raditya.
"Are you sure??" tanya Aira, sejak mengenal Raditya rasanya belum pernah sekalipun ia melihat suaminya itu makan di pinggir jalan terlebih makan mie instan.
"Disini mie tek-teknya enak banget loh, kamu mau yang goreng atau kuah?" tanya Raditya.
"Yang kuah" jawab Aira, ia masih tak percaya jika suaminya bahkan hafal menu makanan di sini.
"Ya sudah kamu duduk duluan, aku pesankan dulu ya" Raditya bergegas memesankan dua porsi dengan menu yang berbeda, satu mie tek-tek goreng untuk dirinya dan satu mie tek-tek kuah untuk istrinya, ia juga memesan minuman STMJ, kopi dan juga air putih.
Selesai memesan makanan Raditya menghampiri istrinya yang telah menunggunya, ia duduk di tepat di hadapan Aira.
"Maaf ya, aku tak cerita mengenai Eric kepada Bang Radit, karena aku tidak ingin Bang Radit melakukan pemaksaan terhadap Eric untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Disamping keluarga Eric yang tengah menjalani pengobatan di Jerman, saat itu juga Eric tengah menyelesaikan sidang tesisnya, aku ingin Eric fokus menyelesaikan pendidikannya, toh ini pun demi masa depan Aruna dan anak dalam kandungannya, aku tidak ingin adik ipar dan keponakanku di beri makan hanya dengan cinta" terang Aira, ia menggegam erat tangan Raditya sambil menatapnya.
"Aku harap ini bisa jadi pembelajaran untuk Aruna agar ia paham resiko berhubungan badan di luar nikah, tanpa kita harus memarahinya" sambung Aira.
__ADS_1
"Tapi kenapa hanya Aruna? lantas Eric?"
"Siapa bilang Eric tak mendapatkan pembelajaran dari kejadian ini? ia berusaha keras menyelesaikan studynya agar bisa cepat kembali pada Aruna, di sana ia terus menerus dibayangi oleh perasaan bersalahnya terhadap Aruna dan calon anak yang berada dalam kandungan Aruna"
"Ya sudahlah, aku harap Eric benar-benar bertanggung jawab dan menjadi suami sekaligus bapak yang baik" ucap Raditya.
"Bang Radit tak perlu khawatir, pada dasarnya mereka saling mencintai satu sama lain, hanya memang waktunya saja yang kemarin kurang tepat" ucap Aira.
"Permisi" salah seorang palayan datang mengantarkan pesanan Raditya.
"Terima kasih" ucap Aira, ia mulai mencicipi mie tek-tek kuah miliknya "Mmmm enak banget, kok Bang Radit bisa tahu di sini ada mie tek-tek seenak ini?" tanya Aira.
"Mantanku orang Bogor" ucap Raditya dengan santainya.
Seketika raut wajah Aira berubah, ia menjadi tak berselera untuk makan karena membayangkan tempat yang ia datangi kini merupakan bagian dari masa lalu suaminya.
"Sudah ayo makan lagi" ia menyuruh istrinya untuk kembali meneruskan makannya.
"Aku boleh coba punya Bang Radit?" Aira tergiur dengan mie tek-tek goreng milik suaminya.
"Boleh dong, aku sengaja pesan yang berbeda agar kamu bisa mencicipi rasa yang lain" Raditya menukar posisi mangkuk miliknya dengan milik Aira.
"Sayang, maaf ya. Di hari anniversary kita ini, aku hanya bisa mengajakmu ke tempat ini, dan tak ada hadiah istimewa yang aku siapkan untukmu selain ini" Raditya memberikan handphonenya kepada Aira, di layar handphone suaminya ia melihat jika Raditya telah membeli tiket paket perjalanan umrah untuk mereka sekeluarga.
Di momen wedding anniversary pertamanya ini Raditya ingin mengajak istri dan anak-anaknya beribadah sebagai ungkapan rasa syukur atas semua kenikmatan dan kebahagian yang telah diberikan oleh Allah kepada keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Apa yang selama ini kamu berikan untukku dan anak-anak sudah lebih dari cukup, aku justru sangat terharu Bang Radit mengajakku dan anak-anak umrah, tapi bagaimana dengan Nathalie?" tanya Aira, mengingat Nathalie yang beragama kristen.
"Nathalie kan masih harus menyelesaikan ujiannya, jadi nanti setelah selesai ujian ia akan menyusul kita di Turki, kita akan menghabiskan masa liburan kenaikan kelas di sana" ucap Raditya.
"Aku harap ia bisa lulus ujian kenaikan kelas" Aira sedikit khawatir, jika Nathalie tak bisa mengejar ketertinggalannya.
"Bisa, aku yakin bisa. Bukankah setiap hari kita selalu memantau perkembangan nilai-nilainya, tidak pernah ada yang mengecewakan bukan?" tanya Raditya.
Aira menganggukan kepalanya "Pulang yuk, aku sudah rindu dengan anak-anak" ajak Aira.
"Yuk" Raditya dan Aira menghabiskan makanannya kemudian bergegas kembali ke villa menemani ke tiga anak-anaknya beristirahat.
Raditya memandangi istri dan ketiga anaknya-anaknya, banyak rasa kekhawatiran dalam diri Raditya setelah pertemuannya dengan ayah kandung Chelsee siang tadi, ia takut jika Gilang akan merebut hati Aira dan Chelsee dengan menggunakan Chelsee sebagai alasannya.
Ia keluar dari kamarnya untuk menghubungi kuasa hukumnya, dalam diskusinya malam itu Raditya membuat sederet peraturan dan perjanjian yang harus Gilang patuhi jika ingin menemui putrinya.
"Mohon maaf Pak Radit, jika Pak Radit melakukan hal ini bukan tidak mungkin Pak Gilang akan mengajukan banding hak asuh anak karena ia merasa di persulit untuk menemui putrinya, dan jika itu terjadi Pak Radit justru akan kehilangan Chelsee" ucap kuasa hukumnya dari seberang telepon.
Radiya merasa sangat frustasi memikirkan hal tersebut, ia tak bisa membayangkan jika suatu saat Gilang datang mengajak putrinya bermain kemudian Chlesee menjadi lebih dekat dengannya dari pada dengan dirinya.
"Pak Radit harus berbesar hati, karena mau bagaimana pun itu juga hak ananda Chelsee, dimana setiap anak berhak mendapat pemeliharaan, pendidikan, kesehatan, rumah dan lingkungan tempat tinggal yang baik lahir dan batin termasuk mendapatkan curahan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya dan hak untuk bertemu ayah dan ibunya bagi setiap anak pasca perceraian ayah dan ibunya. Surat Dirjend Badilag No. 1669/DJA/HK.005/5/2021 tentang Jaminan Pemenuhan Hak-hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian" terang kuasa hukum Raditya.
"Terima kasih" Raditya mematikan sambungan teleponnya, sesaat ia menghela nafasnya kemudian ia kembali kedalam kamarnya, ia memandangi istri dan ketiga anaknya.
Untuk Nathalie sendiri ia tak begitu khawatir karena ia sudah memperhitungkan masa tahanan Alex, dimana saat Alex bebas nanti Nathalie sudah menyelesaikan Sekolah Menengah Atasnya, yang artinya Nathalie sudah jauh lebih mandiri dan bisa mengambil keputusannya sendiri.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Chlesee, ia masih belum rela jika harus berbagi kasih dengan Gilang, ia juga tidak rela jika istrinya harus kembali bertemu dengan mantan suaminya saat nanti Gilang datang mengunjungi putrinya.