
Pukul 04.30 Aira sudah terbangun dari tidurnya, bunyi cacing di perutnya yang tidak bisa ia kompromikan lagi membuatnya langsung beranjak ke dapur untuk mencari makanan.
Maklumlah sepanjang malam Ray tak mau lepas menyusu padanya sehingga membuatnya menjadi sangat lelah dan lapar.
"Lagi ngapain kamu Nath?" Aira terkejut melihat Nathalie sedang mengepel rumahnya.
"Aku sedang mengepel lantai nyonya" jawab Nathalie.
"Bukan ini pekerjaan yang aku maksud kemarin" Aira mengmbil pelan dari tangan Nathalie "Jangan panggil aku nyonya" sambungnya.
"Tapikan di sini aku harus bekerja" ucap Nathalie.
"Sekarang kamu kembali lagi ke kamarmu, jam 06,00 kamu sudah harus berada di bawah dengan menggunakan seragam sekolahmu, nanti tante akan beri tahu apa pekerjaanmu" Aira pergi meninggalkan Nathalie sambil membawa alat pel di tangannya, ia berjalan menuju dapur untuk mencari makanan.
"Lapar sekali aku" Aira menghangatkan sop buntut di microwave, kemudian menikmatinya seorang diri di meja makan sambil memompa ASI untuk putranya.
"Aku mau dong" bisik Raditya, ia menciumi pipi Aira dari belakang sambil memeluknya.
"Ya sudah duduk sini, aku ambilin" Aira meminta Raditya untuk duduk di sebelahnya.
"Aku hanya bercanda sayang, aku mau bangunin Aruna dan kakak, nanti kamu nyusul ya, kita jamaah" Raditya mencium kepala Aira, belum sempat Raditya membangunkan Aruna, rupanya Aruna sudah bangun dengan sendirinya.
"Tidak usah" Aruna berjalan mendekat ke arah Aira dan Raditya, ia hanya bisa menghela nafas beratnya karena pagi-pagi buta sudah di suguhkan pemandangan romantis abang dengan kakak iparnya.
"Ra, kenapa Nathalie tidak kamu tampung di yayasanmu saja sih? bukankah di sana ada panti asuhannya juga?" protes Aruna.
"Ya beda dong Na, di sana khusus untuk ABK"
"Ya biarkan saja, apa kamu tidak berfikir jika suatu saat, Nathalie akan membalaskan dendam ibunya karena tak berhasil membunuhmu?"
"Jaga omonganmu dek, kamu ini lagi hamil" ucap Raditya.
"Dia masih anak-anak Na, tidak akan mungkin melakukan hal sejauh itu" sambung Aira.
"Terserah, tapi kalau sampai dia berani nyenggol dua keponakanku, akan aku habisi dia" Aruna menatap tajam ke arah abang dan kakak iparnya.
"Sudah-sudah, kita jamaah yuk" Raditya menarik tangan adiknya menuju lift "Sayang aku tunggu di mushola ya" ucap Raditya sambil menarik Aruna.
"Ia sebentar lagi aku menyusul"
Tiba di lantai tiga, Aruna melepaskan tangan Raditya "Lepasin, aku mau bangunin kakak" Aruna berjalan ke sebelah kiri sedangkan Raditya berjalan ke sebelah kanan menuju mushola kediamannya.
"Jangan sentuh Chelsee!!!" bentak Aruna kepada Nathalie "Kamu mau apa ke kamar Chelsee?" tanya Aruna dengan nada menginterogasi.
"Aku hanya membantu Chelsee merapihkan buku-buku sekolahnya"
"Tidak perlu, keluar dari kamar keponakanku sekarang!!!" perintah Aruna dengan nada tinggi.
__ADS_1
Mata nathalie mulai bekaca-kaca mendapat bentakan dari Aruna, ia berlari kembali ke kamarnya. Sekilas Aira yang baru saja seluar dari lift melihat Nathalie berlari sambil menutup wajahnya, ia pun bergegas menghampiri Aruna di kamar putrinya, karena feelingnya mengatakan jika penyebabnya adalah Aruna.
"Na, aku mau bicara sebentar denganmu" Aira memberikan kode kepada Aruna untuk keluar dari kamar Chelsee.
"Aunty kemama dulu sebentar ya" ucap Aruna kepada Chelsee, kemudian ia mengikuti Aira dari belakang.
Tanpa berbasa basi Aira langsung menegur Aruna yang di nilainya sudah berlebihan terhadap Ntahalie "Kita boleh waspada terhadapnya tapi jangan sampai kita kehilangan hati nurani, ia masih anak-anak, butuh kasih sayang dan perlindungan dari kita. Aku tidak memintamu untuk menyukainya, tapi tolong jangan sakiti dia, biarkan ia tinggal di rumah ini dengan nyaman" Aira menatap mata Aruna, ia memiliki harapan besar agar Aruna mau mengerti dan menerima kehadiran Nathalie.
"Terserah" jawab Aruna singkat.
Jawaban yang sebenarnya masih mengganjal di benak Aira, namun ia memilih untuk menghampiri Nathalie di kamarnya.
"Nath, kamu mau kemana?" Aira terkejut melihat Nathali tengah memasukan barang-barangnya di kopernya.
"Aku mau pergi saja tante, aku memang tidak pantas untuk tinggal di sini"
"Please, jangan pergi nak" Aira menahan tangan Nathalie untuk memasukan barang-barangnya kedalam koper.
"Aku tidak pantas menerima kebaikan tante, setelah apa yang telah di perbuat oleh Mommy dan Daddyku terhadap tante dan anak-anak tante. Biarkan aku pergi dari sini, aku janji akan kembali lagi untuk mencicil hutangku pada om dan tante"
"Apa yang telah di lakukan oleh orang tuamu tidak ada kaitannya denganmu, kamu tidak boleh pergi dari sini" Aira memeluk Nathalie dengan erat "Kamu kan sudah janji akan bekerja di sini, jadi kamu tidak boleh pergi sebelum kamu melunasi hutangmu" ucap Aira.
Aruna yang sedari tadi berada di pintu kamar Nathalie ikut terenyuh melihat ketulusan hati Aira, ia merasa malu dengan Aira karena Aira saja bisa berlapang dada menerima Nathalie mengapa dirinya justru sangat membenci Nathalie.
"Maafkan ucapan Aunty tadi ya" Aruna berjalan mendekat ke arah Nathalie "Aunty janji tidak akan bicara seperti itu lagi padamu" Aruna mengelus lengan Nathalie.
Nathalie pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Ia sayang" jawab Aira, ia beralih ke Nathalie "Kamu mandi terus bersiap pakai seragamnya, tante tunggu sarapan di bawah ya" Aira tak mengajaknya berjamaah karena ia ingat betul jika Alex beragama kristen dan diperkuat dengan kalung salib yang melingkar di leher Nathalie.
Selesai jamaah dan bersiap, satu persatu menyusul Nathalie ke ruang makan untuk sarapan bersama
"Ayo nath di makan yang banyak" Aira menuangkan segelas susu ke dalam gelas Nathalie dan juga Chelsee.
"Terima kasih tante"
"Morning semuanya" Aruna datang dengan menggendong Ray.
"Na, titip Ray sebentar ya, aku mau ke sekolah" ucap Aira.
"Siap, aku sama Ray mau berjemur dulu ya" Aruna menyodorkan Rey kepada Aira agar Aira menciumnya "Anak mama sama Aunty dulu ya" Aira menciumi pipi chubby putranya, tak ingin kalah Raditya dan Chelsee pun mendekat ke arah Ray untuk mencium Ray.
"Sudah-sudah sana kalian pergi, jangan ganggu anakku" Aruna melangkah mundur menjauh dari ketiganya.
"Enak saja kamu" protes Raditya.
"Na, kamu jangan lupa sarapan ya, di minum vitamin dan susunya, nanti pulang dari sekolah aku cek loh" ucap Aira dengan nada tegas.
__ADS_1
"Ia bawel" Aruna membawa Ray ke halaman belakang untuk berjemur sementara Raditya dan Aira bersiap mengantar Chelsee dan Nathalie ke sekolah.
"Mulai hari ini kamu akan sekolah satu yayasan dengan Chlesee, nanti om dan tante akan mengantarmu" ucap Raditya, sambil mengemudikan kendaraannya.
"Se-sekolah"
"Yeee... kak nath satu sekolah denganku"
"Beda gedung sayang, kak Nathalie kan sudah SMP" ucap Aira.
"Oh ia"
"Tapi tante..."
"Sudah pokoknya mulai hari ini kamu kembali ke sekolah, nanti malam akan ada guru les tambahan untukmu mengejar ketertinggalan materi sekolahmu" Aira tak me erima penolakan.
Begitu memasuki gerbang sekolah Raditya menepikan kendaraannya di teras gedung taman kanak-kanak (TK) tempat purtinya belajar.
"Bye honey" Raditya mencium kening putrinya bergantian dengan Aira.
"Bye mama, papa, kak nath" dengan percaya diri Chelsee turun dari mobil papanya dan berlari masuk ke dalam di temani oleh guru yang telah menunggunya.
Melihat putrinya telah masuk, Raditya kembali mengemudikan kendaraannya menuju gedung sekolah menengah pertama.
"Di sana sayang, ini untuk sekolah dasar" Aira menunjukan arah kepada suaminya.
Raditya pun memarkirkan kendaraanya di parkiran khusus untuk siswa SMP.
"Ayo nath turun" ajak Aira.
"Tapi tante..."
"Kamu bilang mau membayar hutangmu kan? bayarlah dengan prestasi terbaikmu, berikan contoh teladan yang baik untuk Chlesee dan Ray karena selama kamu tinggal bersama kami secara otomatis mereka berdua menjadi adik-adikmu" Aira menggenggam erat tangan Nathalie.
"Terima kasih tante hiks.." Nathalie memeluk Aira dengan erat.
"Sama-sama, sudah jangan menangis nanti matamu sembab" Aira mengelus punggung Nathalie dengan lembut "Sudah yuk nanti telat, om dan tante harus membereskan administrasi dulu" Aira mengajak nathalie keluar dari mobil, oa menggandeng tanggan Nathalie memasuki ruang administrasi sekolah.
Hari itu juga Nathalie mendapat seragam sekaligus buku yang ia butuhkan.
"Buku yang bukan jadwal hari ini biar tante bawa pulang saja biar tasmu tak berat" Aira memisahkan buku yang akan di pakai oleh Nathalie.
"Nathalie, please come with me"
"Yes, miss"
"Tante, Om, aku ke kelas dulu ya" Nathalie mencium tangan Aira dan Raditya secara bergantian.
__ADS_1
"Semangat ya" Aira melambaikan tangannya ke arah Nathalie.
Setelah Nathalie dan gurunya sudah tak terlihat, Raditya mengajak istrinya untuk pulang.