USAI

USAI
Episode 59


__ADS_3

Pukul 06.00 pagi, Aira terbangun dari tidurnya mendengar Aruna kembali mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi.


"Hoeeekk...."


Aira pun langsung bergegas menyusul Aruna ke dalam kamar mandi, dengan tidak lupa membawa minyak angin untuk mengolesi perut dan tengkuk Aruna.


"Kamu sakit Na? ke dokter dulu ya sebelum kita pulang!" ucap Aira sambil menyeka mulut Aruna dengan tissue.


"Ti-tidak perlu, aku hanya masuk angin saja" ucapnya terbata-bata.


"Tapi wajahmu pucat sekali"


"Aku baik-baik saja Ra" Aruna keluar dari kamar mandi menghindari Aira bertanya lebih lanjut.


'Apa jangan-jangan.... ah tidak mungkin' Aira menyingkirkan pikiran buruknya terhadap Aruna, ia menyusul Aruna keluar dari kamar mandi.


"Bu Aira, bubur kacang hijau pesanan Bu Aira semalam sudah siap" asisten Aira menyajikannya di atas meja makan.


"Sarapan dulu yuk Na!" ajak Aira. Sambil menikmati sarapan paginya, ia memompa ASI untuk putra bungsunya.


"Kamu yakin tidak ingin ke dokter?" tanya Aira kembali.


"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir" Aruna mengambil sarapannya kemudian ia duduk di sofa bed menjauh dari Aira.


"Hmmmm... hoooamp..." mencium aroma bubur kacang hijau Chelsee terbangun dari tidurnya.


"You want some breakfast?" tanya Aruna, Cheslee menganggukan kepalanya.


"Okay, but you needed a drink first" Aruna memberikan Chelsee segelas air putih kemudian ia menyuapi Chelsee.


Dari kejauhan Aira tersenyum melihat kedekatan antara Chelsee dengan adik iparnya, meski Aira masih belum mengetahui hal apa yang menyebabkan Aruna berubah.


"Come take a bath with me" ajak Aruna, Chelsee menganggukan kepalanya kemudian ia menggandeng tangan Aruna masuk ke dalam kamar mandi.


"Ra, aku mandi sama kakak ya" ucap Aruna saat melewati Aria yang masih memompa ASI.


"Terima kasih ya, Na"


Entah apa yang di lakukan oleh keduanya di dalam kamar mandi, Aira mendengar tawa riang dan celotehan putrinya dari luar kamar mandi, ya Chelsee memang mudah sekali akrab.


Tak lama kemudian dokter berserta beberapa orang perawat datang ke ruang rawat inap Aira dengan membawa putra bungsunya, dokter mengatakan jika putra bungsu Aira pun sudah tidak perlu di inkubator dan di perbolehkan untuk pulang.


Mata Aira berkaca-kaca saat pertama kalinya ia menggendong bayi mungilnya, bagi Aira rasanya seperti mimpi bisa mendekap buah hatinya.


"Sentuhan ibu sebagai inkubator alami akan membuat bayi mendapatkan kehangatan serta perasaan nyaman karena bayi bisa merasakan langsung detak jantung sang ibu yang sudah dikenalnya saat masih berada di dalam kandungan. Selamat ya Bu Aira" ucap dokter.


"Boleh saya minta dulu babynya, karena saya akan memeriksa Bu Aira" pinta dokter, Aira pun menyerahkan kembali buah hatinya kepada dokter kemudian sang dokter memeriksa Aira, memastikan kembali kondisi kesehatannya sebelum Aira pulang.

__ADS_1


Sementara itu perawat meminta Winda untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit.


"Biar saya saja sus" ucap Aruna yang baru saja keluar dari kamar mandi bersama Chelsee, ia meminta berkas yang harus ia bawa ke ruang administrasi kemudian ia keluar dari ruang rawat inap Aira.


"**He**llo brother" sapa Chelsee ia memengang tangan kecil adiknya "Mah, adek grabbed my finger" ucapnya dengan bahagia.


Aira tersenyum ke arah putrinya, sambil terus menyimak nasihat yang dokter berikan kepadanya baik untuk dirinya maupun untuk babynya.


Setelah selesai pemeriksaan dan menyelesaikan administrasi, Aira dan anak-anaknya kembali pulang ke kediamannya.


"Wind, kamu pulanglah istirahat atau kamu mau ke kantor?"tanya Aira.


"Tidak Bu Aira, aku di suruh Pak Angkasa untuk menemani Bu Aira"


"Kamu pulanglah istirahat atau kerjakan pekerjaanmu yang lainnya. Aku dan anak-anak baik-baik saja, lagi pula di rumah banyak asistenku. Terima kasih ya sudah menemani" ucap Aira sebelum ia masuk ke dalam mobil.


"Baik Bu" sebenarnya Winda masih ingin menemani Aira, ia takut Aruna menyakiti Aira terlebih saat ini Aira bersama kedua anak-anaknya, namun ia juga merasa masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan termasuk mengurus proses hukum Cindy, sehingga ia pun menuruti permintaan Aira.


Pukul 11.30 siang Raditya tiba di kediamannya, ia berlari masuk ke dalam mencari keberadaan istri dan anak-anaknya.


"Ibu di mana bik?" tanya Raditya.


"Di ruang makan Pak Radit" asistennya menunjuk ke arah ruang makan dengan ibu jarinya.


"Terima kasih" Raditya menghampiri Aira yang tengah makan sambil menyusui anaknya.


"Walaikumsalam" Aira meraih tangan suaminya kemudian menciumnya "Terima kasih ya dekorasi kamar adek bagus sekali" ucap Aira.


"Sama-sama sayang Mmmuah..." Raditya mencium kedua pipi dan kening istrinya "Aku rindu sekali padamu" bisiknya.


"I have something for you" Raditya memberikan buket bunga tulip dan sebuah paper bag kepada istrinya, sambil menarik kursi duduk di dekatnya.


"Terima kasih ya" Aira menerima kemudian menaruhnya di atas meja makan, ia memberikan ciuman mesra di bibir suaminya.


"Buka dong" pinta Raditya mengambil kembali papar bag yang di taruh Aira, ia membantu istrinya untuk membuka hadiah pemberiannya.


Aira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat satu set berlian eropa senilai Rp.645.000.000 yang Raditya berikan untuknya "Bang Radit tidak perlu berlebihan seperti ini"


"Aku berikan satu dunia ini untukmu pun tak akan sebanding dengan apa yang telah kamu berikan kepadaku" Raditya menatap mata Aira dalam-dalam.


Ia membuka apron menyusui Aira untuk melihat putranya yang sedang menyusui "Pelan-pelan nak, punya papah itu" Raditya hendak mengelus pipi putranya namun tangannya telah terlebih dahulu di pukul oleh Aira "Cuci tangan dulu" ucap Aira dengan kesal.


"Ia ia sayang, mirip sekali ya denganku" ucap Raditya, ternyata ucapan Raditya itu justru membuat Aira semakin kesal.


"Dari pagi tadi setiap yang melihat pasti bilang begitu, padahal aku yang mengandungnya" protesnya.


Melihat istrinya mengomel ia justru tertawa, "Bang Radit jahat" Aira kembali memukul suaminya.

__ADS_1


"Pa-pah" Chelsee berlari menghampiri papah dan mamahnya, Raditya pun langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian ia melangkah mendekat ke arah Chelsee dan memeluknya "Papah rindu sekali denganmu sayang" ia menciumi pipi chubby putrinya.


Raditya sedikit terkejut dengan kehadiran Aruna di rumahnya "Sebentar ya sayang" Raditya melepaskan pelukannya kemudian berjalan menghampiri Aruna.


"Ikut Abang sebentar" Raditya menarik tangan Aruna menjauh dari ruang makan.


"Mau apa kamu datang kemari? mau menyakiti Aira dan anak-anak abang?" Raditya menatap Aruna dengan tatapan tajam.


"Ti-tidak aku tidak berbuat apa-apa, tanya saja pada Aira atau Chelsee atau juga pada asisten Bang Radit" Aruna gugup menjawab pertanyaan Abangnya, perutnya kembali bergejolak saat ia mencium aroma minyak wangi dipakaian Raditya.


"Hoeeek..." Aruna berlari ke kamar mandi.


"Dek, kamu kenapa?" Raditya belari menyusul Aruna.


"Go away Bang Radit, Abang bau sekali aku pusing" ucap Aruna. Raditya pun mundur menjauh dari adiknya.


"Biar aku saja" Aira datang setelah ia selesai menyusui dan menidurkan putranya.


Dengan sabar Raditya menunggu istri dan adiknya keluar dari kamar mandi, begitu keduanya keluar Raditya kembali menarik Aruna menjauh dari putrinya.


"Katakanlah, kamu punya masalah apa?" tanya Raditya.


"Ti-tidak ada" Aruna mencoba menutupi kegugupannya.


"You're pregnant?" tanya Raditya.


Ia dapat langsung bisa menebak karena tanda-tanda yang dialami oleh Aruna sama persis dengan yang di alami Aira saat hamil muda, ia juga bisa melihat perubahan bentuk tubuh adiknya yang terlihat berbeda.


"Ti-dak" jawabnya terbata-bata.


"YOU'RE PREGNANT?" Raditya menaikan nada bicaranya.


"Hikss..." Aruna tidak dapat lagi berbohong kepada kakaknya, ia menganggukan kepalanya membenarkan pertanyaan Raditya.


"Astagfirullah, dek" Raditya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh adiknya.


"Eric?" Raditya menyebut nama kekasih Aruna.


"Huhu..." Aruna kembali menganggukan kepalanya.


"Diam, aku tidak ingin meliahatmu menangis. Dimana dia sekarang?"


"Di-dia kembali ke England, meneruskan pendidikannya hiks... "


"Ooh, jadi kamu melakukannya saat dia liburan semester kemarin?"


"Otakmu ditaruh dimana Aruna?" Raditya membanting pintu dan meninggalkan Aruna yang semakin menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2