Victory

Victory
Bab 1


__ADS_3

Raka membuka selimut yang menutupi badannya sejak semalam. Sambil memicingkan matanya yang masih setengah terbuka, dia berusaha menajamkan pendengaran, kaya ngedenger sesuatu.



"Suara bel?" tanya Raka dalam hati.



Sayup-sayup memang terdengar suara bel rumahnya. Suara itulah yang membangunkan cowok tersebut dari alam mimpinya. Raka melihat jam yang tergantung pada dinding kamarnya. Pukul delapan lewat dikit!



"Siapa sih yang iseng mainin bel!!? Ngeganggu orang tidur aja!" gerutu Raka.



Dia memang baru tidur setelah Subuh, karena nonton pertandingan sepak bola di TV. Mumpung lagi libur kenaikan kelas, dia berniat untuk tidur sampai siang. Tadinya Raka pengin membiarkan suara bel itu. Mungkin aja rumah akan dikira kosong, dan tamu yang tak diundang itu cepat pergi



Dugaanya benar! Beberapa saat kemudian suara bel berhenti. Raka menarik napas lega, kemudian menarik selimutnya, bermaksud tidur lagi. Tapi baru matanya hendak terpejam kembali, suara bilang itu terdengar lagi.



"Ya ampuunn!! Siapa sih!? Emang tuh orang nggak ada kerjaan lain selain ngegangguin orang tidur!!?" jerit Raka dalam hati.



Dengan mata masih setengah terpejam, Raka mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Terhuyung-huyung dia membuka pintu kamarnya di lantai atas. Dan karena belum sepenuhnya kembali ke alam nyata, Raka sempat menabrak meja kecil di ruang tengah. Dia mengerang kecil menahan sakit.



"Iyaaa tungguu...!!!" teriak Raka kesal sambil mengusap-usap lututnya yang terbentur meja. Lumayan sakit juga.



Raka menuju pintu depan rumahnya, dan membuka pintu dengan wajah siap perang. Dia bermaksud "menyemprot" orang di balik pintu, nggak peduli siapa dia..



"Ini rumah Raka, kan?"



Raka yang siap marah jadi melongo. Di depannya berdiri cewek berambut pendek dan bertopi merah. Cewek itu mengenakan T-shirt putih dibungkus jaket jins biru, sama dengan celana jinsnya, dan sepatu kets putih. Di samping cewek itu tergeletak ransel ukuran besar.



"Heh! Kok bengong? Bener ini rumah Raka?"


tegur cewek itu lagi.



Raka baru tersadar.


__ADS_1


"Lo Raka??"



"Iya. Emang kenapa?"



"Kenapa lo nggak jemput gue?"



"Jemput lo?" Raka heran dengan pertanyaan cewek di depannya.



"Papa udah ngasih tau lo, kan? Atau lo pura-pura lupa?"



Selagi Raka kebingungan, cewek itu nyelonong masuk ke rumahnya.



"Eh..."



"Ya udah, lupain aja! Asal lo ntar bisa jawab kalo Papa nanyain."




"Lo Oti? Victory?"



Giliran cewek itu menatapnya dengan pandangan heran.



"Lo bener-bener ngga tau siapa gue?"



"Lo Oti??"



"Iyalah! Siapa lagi!!?"




Raka menepuk keningnya. Sekarang dia baru inget.

__ADS_1



"Jadi lo bener-bener lupa sama pesan Papa?"



"Pesen? Pesen apa? Ayah emang pernah bilang kalo lo mo dateng, tapi gak bilang kapan..."



"Lho? Bukannya Papa nelepon tadi malem? Yang nerima Ai, adik lo."




Ai? Pantes aja! Semalam Raka pulang larut malam, dan Ai sudah tidur. Pasti adiknya itu lupa nyampein pesan Ayahnya.



"Kenapa lo gak telepon ke sini?"



"Males! lagian gue emang udah niat mo cari sendiri alamat rumah ini! Itung-itung keliling Bandung! Lumayan, tiga kali nyasar,"



Oti menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah.



"Eh, gue haus nih...boleh minta minum,kan?"



Raka hendak beranjak, tapi Oti menahannya.



"Biar gue ambil sendiri, Dapurnya mana?"



"Tuh di belakang..." Raka menunjuk ke arah belakang rumahnya. Oti melangkah menuju dapur, meninggalkan Raka yang masih diam.




Raka, atau lengkapnya Raka Pradana Putra, tinggal berdua dengan adiknya Airin Vastyana, atau biasa dipanggil Ai, yang masih duduk di kelas dua SMP di rumah yang mereka tempati sejak kecil. Saat Raka berusia lima tahun, ayah-ibu mereka memutuskan bercerai, karena ayahnya ketahuan selingkuh dengan janda beranak satu yang tinggal di Jakarta. Ayah Raka kemudian menikah dengan wanita itu dan pindah ke Jakarta meninggalkan rumah, ibu, Raka, dan Ai yang waktu itu baru berusia kurang dari setahun.




Setelah bercerai, ibunya bertekad menghidupi kedua anaknya sendiri tanpa mau menikah lagi. Beliau berhasil menyekolahkan Raka hingga bangku SMA ( Sekarang Raka duduk di kelas tiga SMA Negeri 14, atau di sana disebut kelas X11 (baca: dua belas)). Sementara itu ayahnya dan istri barunya kemudian pindah ke London, Inggris, karena oleh perusahaan tempatnya bekerja, ayah Ansell diangkat menjadi kepala cabang di sana.

__ADS_1



__ADS_2