Victory

Victory
Bab 12


__ADS_3

"Ot..."


Suara di sampingnya membuyarkan lamunan Oti.


"Kok malah bengong sih?" tanya Laras.


"Iya, ada apa?"


"Nggak. Gue cuman inget kejadian tadi," desah Oti pelan.


"Harusnya tadi gue nggak kebawa emosi. Gue nggak sadar Revi mau gejebak gue. Dia kan dendam sama gue."


"Sebaiknya lo jangan mikirin soal itu, Ot. Udah terlambat. Kalo minta Revi ngebatalin pertandingan ini, lo akan semakin jatuh di mata dia," kata Ticka.


"Siapa bilang gue mau ngebatalin?" tanya Oti.


"Lebih baik kita mencari jalan bagaimana agar lo masuk final. Lo udah catat pengumumannya, kan Ras?" tanya Ticka. Laras mengangguk kemudian mengeluarkan buku tulis dari tas sekolahnya.


"Revi benar. Pendaftaran ditutup kurang dari satu minggu lagi," ujar Laras.


"Kalo kata Laras sih, sebetulnya masih untung Revi menantang kamh ikut pemilihan putri SMA" lanjutnya.


"Kok untung sih Ras?" protes Ticka.


"Iya. Coba kalo dia ngajak pertandingan masak, menjahit, dan sejenisnya. Oti nggak mungkin mempersiapkan diri dalam waktu singkat," jawab Laras.


Ticka tersenyum mendengar jawaban Laras yang lugu, demikian juga Oti walau agak ditahan. Mereka semua tau bagaimana kemampuan Oti memasak. Presentasi taerbaiknya hanya mampu membuat telur mata sapi tanpa hangus. Itu pun dengan bantuan Ai yang emang bisa masak.

__ADS_1


"Kalo menurut gue sih Revi gak bakalan nantang Oti sejenis itu. Gue yakin tuh anak juga gak bisa masak dan sebagainya." Ticka kembali menoleh ke Oti.


"Gue kira ini kesempatan bagus buat lo ngejatuhin keangkuhan Fiesta, terutama Revi. Bayangkan seandainya lo bisa ngalahin Revi dalam bidang yang dia bangga-banggakan, yaitu kecantikannya. Gue yakin dia pasti malu tujuh turunan," lanjut Ticka memberi semangat pada Oti, walau sebetulnya dia sendiri nggak yakin.


"Tapi lo tau kan siapa Revi. Biar orangnya kayak gitu, dia tuh model. Dari SMP dia udah sering ikut kontes-kontes kaya gitu, dan selalu dapet juara," jawab Oti.


"Lo jangan putus harapan gitu. Yang penting lo udah berusaha semampu lo. Lagipula yang gue denger, pemilihan putri SMA ini beda dengan kontes-kontes yang sering diadain majalah-majalah. Yang dinilai bukan cuma kecantikan, tapi juga intelektualitas dan sikap. Jadi lo masih ada harapan. Gue ama Laras juga akan selalu ngebantu lo. Iya nggak? Ras?" tanya Ticka.


Laras mengangguk.


"Thanks ya," kata Oti.


"Kalau begitu Sekarang kita siapkan segala yang dibutuhkan untuk mendaftar. Kita harus cepat." Ticka membaca catatan Laras.


"Lo punya foto close up nggak? Ukuran 4R, atau negatifnya juga boleh."


Oti menggeleng.


Ticka mendesah pelan mendengar jawaban Oti. Dia memandang Laras, ssolah pikiran mereka sama. Banyak yang harus dilakukan untuk membantu Oti.


"Mungkin Laras bisa bantu," ujar Laras pendek.


----------------------------------


Acara "Qlyvaganza Parties" berlangsung semarak. Acara yang digelar radio Qly di Lapangan Saparua, Bandung itu dipadati ribuan ABG dan generasi muda yang selama ini merupakan segmen utama pendengar Qly yang merupakan salah satu radio swasta terbesar di Bandung.


"Qlyvaganza Parties" sendiri merupakan acara multievent. Ada panggung musik, bazar, dan berbagai macam permainan. Raka sendiri sebenarnya nggak begitu antusias sama acara-acara kaya gini. Kalo boleh disuruh milih, dia lebih baik tidur di rumah hari minggu ini. Tapi karena seluruh penyiar Qly diwajibkan hadir, maka terpaksa dia datang juga. Seneng juga sih bisa sekalian cuci mata, ngecengin cewe-cewe cakep dari sekolah lain.

__ADS_1


"Ka, kamu ngga ada kegiatan, kan?" tanya Tari yang bertugas sebagai koordinator humas dan informasi. Raka emang lagi berdiri di dekat stan informasi, karena sama sekali ngga tau harus ngapain. Dia ngga termasuk panitia.


"Emang kenapa, Mbak?"


"Ya... Mbak... Raka kan bukan panitia. Yang lain lada kemana?"


"Gak tau tuh. Pada ngilang semua. Kamu jagain dulu aja, aku cuman sebentar kok. Emangnya kamu mo kemana sih? Kata Mas Yudhi, nanti siang ada acara jumpa penyiar. Kamu harus ada"


"Tapi ntar kalo ada yang minta informasi? Raka kan ngga tau apa-apa?"


"Alaaa... paling mereka minta jadwal acara. Kasih aja sslebaran yang ada di meja. Semuanya udah di lengkap kok."


Terpaksa Raka duduk mendekam di balik meja informasi. Iseng dia membaca berbagai macam brosur yang berada di meja.


"Raka?"


Raka menoleh. Ajeng berada di depan meja informasi. Rambutnya yang panjang memakai bando warna merah muda, sama dengan bajunya, hingga dia keliatan cantik banget.


"Eh, Ajeng. Kamu datang juga ke sini?" tanya Raka sedikit kaget.


"Iya. Ajeng nganterin adik Ajeng."


"Adik kamu? Mana adik kamu?"


Ajeng menoleh ke samping, kemudian beranjak dari meja informasi. Beberapa saat kemudian cewek itu kembali sambil mendorong kursi roda yang di duduki seorang cewek berusia sekitar empat belas tahun. Wajah cewek itu mirip Ajeng, tapi rambutnya dipotong lebih pendek.


"Ayu, katanya mau tau siapa Squall" kata Ajeng sambil menunjuk ke arah Raka. Raka sejenak menatap Ajeng. Tampak bibir Ajeng yang mungil bergerak mengucapkan kata "maaf" tanpa suara.

__ADS_1


Ayu memandang Raka.


"Benar Kakak adalah Squall?" tanya Ayu. Raka mengangguk. Wajah Ayu keliatan tersipu menahan malu.


__ADS_2