Victory

Victory
Bab 22


__ADS_3

Malam pemilihan putri SMA Indonesia dimulai jam tujuh malam tepat. Aula Hotel Horison sudah penuh penonton, baik undangan maupun yang membeli tiket masuk.


Rombongan anak SMA Yudhawatu pun keliatan berkumpul di salah satu sisi ruangan. Mereka datang untuk memberi dukungan pada wakil mereka, terutama pada Oti.


Kabarnya Laras udah memborong sejumlah tiket untuk teman-temannya. Bayu juga berada di antara anak-anak kelas dua yang ternyata sebagian malah mendukung Oti, bukan Revi yang notaben teman seangkatan mereka. Anggota Fiesta yang lain juga kelihatan udah dateng.


"Hai, Kak!" Ai menyapa Raka yang sedang siap-siap untuk siaran.


Cewek itu ternyata datang bersama tiga temannya. Mereka mendapat undangan dari Oti. Raka mengenal mereka semua karena mereka sering datang ke rumahnya.


Ai sendiri keliatan beda malam ini. Dia mengenakan kaus krem dan rok jins selutut. Sementara rambutnya yang sedikit melebihi bahu dibiarkan tergerai, dengan hiasan bando merah.


"Belum siaran juga?" tanya Ai.


"Nanti, pas acara intinya dimulai. Kamu udah dapet tempat duduk?"


"Udah. Kan dikasih undangan sama Kak Oti. Sekarang Ai mau cari minum dulu. Hauuusss nih..."


"Tuh ada air putih," kata Raka sambil menunjuk air mineral dalam botol yang berada di sebelahnya.


"Gak ah. Ai mau cari soft drink aja, sekalian jalan-jalan. Abis acaranya belum rame sih.. masih pidato mulu. Kak Ajeng nggak diajak, Kak?"


"Nggak. Katanya mau nemenin adiknya di rumah."


"Alaaa... bilang aja Kakak nggak ngajak dia, biar bisa ngelaba disini, bener nggak?" tuduh Ai.


Sebelum Raka sempet menjawab, Ai udah pergi bersama teman-temannya sambil melambaikan tangan.


"Mbak, Raka pergi dulu, ya?" pinta Raka pada Andini yang berada di sampingnya.


"Mau ke mana, Ka? Sebentar lagi siaran mulai."


"Sebentar ajaa... perlu nih. Gak lama kok!"

__ADS_1


"Ok deh. Tapi cepet balik! Ntar kamu kena marah loh!" kata Andini mengingatkan.


"Siipp deh..." Raka pun beranjak pergi, tangan kanannya menenteng sebuah map.


----------------------


"Wah... nervous nih! Penontonnya banyak juga," ujar Risma pada Oti yang berada di sampingnya saat mereka berdua siap tampil.


"Jangan takut, anggap aja mereka semua patung, atau monyet juga boleh. Terserah kamu aja," kata Oti memberi saran walau hatiny juga deg-degan.


"Apa berhasil?"


"Nggak tau sih... itu juga kata orang. Tapi pada dasarnya bersikaplah tenang," kata Oti.


"Kamu sih enak ngomong begitu. Kamu pasti uah dapat semangat dari cowok kamu," kata Risma.


"Cowok? Cowok yang mana?" tanya Oti.


"Yang kamu temui tadi malam?"


"Kamu tau kalo aku keluar tadi malam?" tanyanya setengah berbisik, takut terdengar yang lain.


"Tentu aja. Habis kamu berisik banget sih, aku sampai terbangun," kata Risma.


"Maaf soal itu...," ujar Oti dengan wajah sedikit cemas.


Melihat wajah Oti yang agak panik itu, Risma tersenyum.


"Tapu kamu jangan khawatir. Selain aku sama yang Di Atas, gak ada yang tau soal ini kok!" kata Risma. Ucapnya membuat wajah Oti sedikit lega.


"Thanks," katanya.


"Jadi? Apa kata cowok kamu?" tanya Risma.

__ADS_1


"Bukan cowok Tadi malam Oti nemuin kakak Oti," cerita Oti.


"Ah, masa?" Risma tak percaya.


"Bener. S**wear..."


Pembicaraan mereka terhenti ketika pengarah acaa memberi tanda agar semua finalis bersiap-siap memasuki panggung.


"Lima, empat, tiga, dua, satu, yak..."


Dengan diiringi semburan dry ice dan permaian cahaya yang menakjubkab, kedua puluh finalis putri SMA memasuki panggung.


Mereka semua mengenakan gaun panjang rancangan desainer nasional terkenal. Nomor finalis tertempel di dada mereka.


"Maaf, mbak! Siarannya udah di mulai?" kata Raka yang baru saja kembali dengan napas tersenggal-senggal.


"Tungu isyarat dari Mas Dewo. Siap-siap aja," jawab Andini. Raka mengamati daftar finalis yang berada di hadapannya.


"Adik kamu yang nomor delapan belas, kan? Yang itu, ya?" tanya Andini sambil menunjuk panggung.


Raka menoleh ke arah yang ditunjuk Andini, dan seketika itu juga matanya terbelalak, seakan melihat sesuatu yang luar biasa.


Di panggung, Raka melihqt sosok Oti yang berbeda. Yang dilihatnya kini adalah cewek cantik berambut panjang sebahu, yang dengan anggun berjalan mengelilingi panggung.


Ya, Oti, cewek tomboi yang sehari-hari nggak pernah pakai rok, kini menjelma bak putri dari negeri dongeng, dengan gaun keperakan dan sepatu hak tinggi yang dulu sangat dibencinya.


Dan seperti finalis lain, Oti nggak henti-hentinya tersenyum. Sama sekali nggak terlihat adanya unsur terpaksa yang dikatakannya malam tadi.


"Raka...," suara Andini membuyarkan perhatian Raka.


"Dua puluh detik lagi kita siaran." lanjut Andini. Raka mengangguk, kemudian memakaikan Headset di kepalanya.


"Ka, bener itu adik kamu yang katanya tomboi? Kok sama sekali nggak keliatan tomboinya?" tanya Andini.

__ADS_1


"Bener, Mbak," jawab Raka heran.


__ADS_2