
"Hei..."
Raka duduk diantara teman-temannya di depan kelas mereka. Keringat membasahi sebagian wajah dan badannya. Terang aja, karena dia abis main futsal pas jam istirahat. Apalagi matahari hari ini bersinar terik.
"Tisa, Ka?" Tawar Nensie, salah satu teman sekelasnya.
"Makasih, Sie! Lo makin cantik aja," jawab Raka.
"Basi...," sahut Nensie sambil mencibir.
Raka tertawa mendengar ucapan Nensie. Pandangannya teetuju pada kegiatan MOS yang sedang berlangsung. Anak-anak baru sedang latihan baris-berbaris kaya mo jadi tentara aja😅
Tiba-tiba pandangan Raka tertuju pada seorang cewek berambut panjang dan mengenakan topi hitam yang bertindak sebagai panitia.
"Eh itu kan Ajeng!!" kata Dodi yang duduk di sebelah Raka.
"Mana?"
"Tuh yang pake topi hitam!"
Maka seketika itu juga riuh rendahlah suara-sura dari anak cowok kelas XII IPA 1. Mereka bersuit-suit atau berteriak memanggil-manggil nama Ajeng, cewek kelas XII IPS 1 yang merupakan salah satu cewek favorit di SMA 14.
Walau begitu kegiatan MOS tetap aja berlangsung, nggak terpengaruh kegaduhan yang terjadi di depan kelas XII IPA 1.
Raka sempat melihaf muka Ajeng yang agak tertutupi topi memerah, dan dia menjadi agak salah tingkah. Setiap gerakannya selalu dikomentari teman-teman cowok Raka.
Beberapa paitia cowok yang juga anak kelas dua cuma diam aja, nggak bereaksi terhadap aksi yang jelas-jelas mengganggu kegiatan MOS.
Selain kalah jumlah, merekapun segan berurusan dengan anak-anak kelas tiga. Bisa panjang urusannya.
"Ssst... jangan ribut! Kedengaran guru bjsa berabe..." Agus yang menjabat sebagai Ketua Murid msngingatkan teman-temannya.
"Iya nih! Kayak gak pernah liat cewek aja..."sambung Astuti yang biasa di panggil Tute.
"Pernah sih! Tapi liat yang kinclong kayak gitu kan jarang..."jawab Satya seenaknya.
Kontan aja sebuah jitakan mendarat di kepalanya.
"Norak kalian! Cewek gitu aja direbutin! Apa hebatnya? Liat aja, jalannya juga kaya bebek," tukas Eva sambil menunjuk ke arah Ajeng.
"Eh... cewek memang harusnya jalannya kayak gitu. Kalian aja para cewek yang menyalahi kodrat!" celetuk Satya lagi sambil tertawa.
"Apa lo bilang!!? Mo gue jitak lagi?" Tute yang emang termasuk salah satu cewek tomboi di kelas XII IPA 1 bersiap-siap mengepalkan tangannya. Siap menjitak Satya.
"Ampun, Te... kepala gue bukan samsak tauuu!!"
MelihatvTute yang tomboi, Raka jadi teringat pada Oti. Sedang apa cewek itu sekarang? Pasti juga sedang digojlok kakak-kakak kelasnya.
---------
Setelah seminggu acara MOS yang melelahkan, akhirnya Oti mulai masuk sekolah seperti biasa. Walau begitu masih ada ganjalan. Oti merasa Revi dan gengnya masih membencinya.
Kalo ketemu, mereka selalu memangdangnya dengan sinis, seakan jijik. Oti sih cuek aja, karena merasa nggak salah.
Selain dengan Revi cs, hubungan Oti dengan kakak kelas lainnya yang dulu menjadi panitia MOS cukup baik, bahkan Oti lebih dikenal oleh kakak kelasnya dibanding dengan teman-teman lainnya.
Mungkin itu karena sifatnya yang gampang bergaul. Selain itu namanya melambung saat MOS karena keberaniannya melawan Revi cs, yang dikalangan SMA Yudhawastu dikenal dengan nama kelompok Fiesta.
Oti sendiri baru tahu belakangan bahwa anggota Fiesta ditakuti anak-anak se-SMA Yudhawastu, terutama ceweknya. Siapa yang berurusan dengan mereka pasti akan repot. Bahkan anak-anak cowoknya pun segan.
Konon kabarnya Fiesta punya banyak kenalan cowok sekolah lain yang masuk kategori "trouble maker". Nggak jelas dimana kenalnya. Mungkin anak-anak itu mereka kenal di diskotek, karena keempat cewek anggota Fiesta senang cluubing.
Pernah ada seorang anak kelas tiga yang kelewat batas hingga membuat Wida, salah satu anggota Fiesta mukanya kayak kepiting rebus karena malu.
Besoknya dia dikeroyok anak sekolah lain pas pulang sekolah sampe babak belur. Walaupun nggak ada bukti, tapi hampir semua orang menduga ini ulah Fiesta.
__ADS_1
Walau Oti udah banyak mendengar kabar mengenai Fiesta, dan banyak yang menasihatinya agar berhati-hati karena dia pernah mempermalukan mereka, tapi sampe saat ini belum ada tanda-tanda Fiesta akan membuat gara-gara dengannya.
Oti sendiri gak ambil pusing. Dia tetap bertindak wajar di sekolah. Tetap belajar seperti biasa, sering ketiduran di kelas, dan suka telat ( sampa harus berulang kali nyogok Mang Icang, penjaga sekolah pake duit lima ribuan biar pintu belakang sekolah dibuka, jadi dia jsa masuk tanpa melalui guru piket yang selalu standbye di depan pintu, yang pasti ngasih dia hukuman ).
"Kayaknya mereka takut sama lo, Ot! Mereka udah tau lo jago karate," kata Ticka saat berada di kantin.
"O ya?" jawab Oti tak acuh sambil terus melahap jajanannya, mi bakso campur batagor ( Bayangin aja, gimana tub rasanya?)!
"Tapi lo hati-hati aja... soalnya gue liat tatapan Revi sama yang lainnya kalo ngeliat ke lo, kayaknya benci banget."
Oti nggak bereaksi. Melihat sikap Oti yang rada-rada cuek, Ticka jadi kesel sendiri. Emang enak di cuekin?
"Otiiii!!!" teriaknya di dekat telinga Oti, mengagetkan Oti dan seisi kantin yang siang itu penuh. Kontan belasan pasang mata menatap ke arah mereka. Ticka emang punya sifat hampir sama dengan Oti. Suka nggak liat sikon kalo gokilnya kumat.
"Apaan sih!? Kuping gue bisa budek tahu!" Protes Oti.
"Lo gue ajak ngomong kok cuek aja sih?"
"Siapa yang cuek sih? Gue dengerin kok!" Kata Oti.
"Tapi kok diam aja?"
"Emang gue harus harus ngapain? Pura-pura kaget? Tunjukkin wajah takut?"
"Paling nggak ngasih komentar atau tanggapan kek, jadi gue nggak merasa di cuekin," kata Ticka sebal.
Oti diam sejenak. "Lo mau tahu komentar gue?"tanyanya.
Ticka mengangguk.
"Sejujurnya... EMANG GUE PIKIRIN!??!!" balas Oti nggak kalah kerasnya di telinga Ticka.
Kali ini giliran Ticka yang kaget. Kembali belasan mata menatap ke arah mereka.
"Kalian apa-apaan sih? Bis pelan nggak?" Ujar Laras lirih pada Oti dan Ticka.
"Sorry, Ras! Abis dia nih yang mulai duluan," jawab Oti sambil menunjuk Ticka.
Laras hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan kedua temannya. Sejak kejadian di MOS dulu, Laras jadi akrab dengan Oti dan Ticka. Bahkan mereka bertiga akhirnya menjadi sahabat karib. Laras yang dulu pemalu, pendiam, dan sedikit tertutup kini menjadi sedikit terbuka, karena pergaulannya dengan Oti.
Hanya pada Oti dan Ticka laras dapat menceritakan isi hati dan pemikirannya, apalagi kalo ada masalah, walau kadang-kadang masukkan dari Oti dan Ticka bukan bikin masalahnya beres, malah tambah kacau. Oti pun senang bershabat dengan apa adanya. Dan satu lagi, Laras sering nraktir Oti dan Ticka. Bagi Oti itu berkah, karena dengan begitu dia dapat mengehemat uang bulanannya.
Kabarnya Laras anak orang kaya. Ayahnya pengusaha besar di Jakarta, sedangkan di sini Laras tinggal bersama neneknya. Oti sendiri nggak peduli Laras anak orang kaya atau nggak.
Yang penting Laras ikhlas nraktir dia, dan dia nggak pernah minta. Selalu Laras yang nawarin. Dia juga temenan ama Laras bukan karena dia anak siapa, tapi karena Laras enak diajak temenan.
Lagipula walaupun anak orang kaya, penampilan Laras tetap sederhana, sama kayak Oti, Ticka, atau anak-anak lainnya. Bahkan sampe sekarang Laras masih pake angkutan umum seperti angkot atau bus untuk pulang-pergi sekolah, sama kayak yang lain. Itu salah satu faktor yang membuat Oti senang temenan sama Laras.
"Heh! Kok malah ngelamun?" Suara Laras membuyarkan lamunan Oti.
"Hayooo... Kalian lagi mikirin apa? Kok kompakan sih ngelamunnya?"
Oti dan Ticka saling memandang.
"Emang tadi lo ngelamun? Kok niru sih?" tanya Oti.
"Idiiiihh! Siapa yang niru lo? Sorry ya...," sahut Ticka sengit.
"Emang lo ngelamunin apa?" tanya Oti.
"Emang gue harus kasih tau lo?" kata Ticka galak.
"Emang gue nggak boleh tau?" tanya Oti lagi.
"Emang lo mau tau?" Ticka malah balas bertanya.
__ADS_1
"Emang...."
"Udah-udah....," kemabali Laras melerai.
Dia nggak habis mengerti dengan kedua sahabatnya itu. Setiap ngumpul pasti ada aja yang diributin, sampai ke hal-hal yang kecil. Lagi pula, baik Oti maupun Ticka masing-masing nggak mau ngalah. Jadinya suasana bisa rame kayak pasar. Tapi Laras kadang-kadang menyukai suasana kayak gini, sebab dapat mengundang keceriaan. Cuman dia harus siap-siap pasang urat malu, diliatin banyak orang.
"Udah mau masuk nih. Kalian udah selesai?" tanya Laras.
"Udah," kata Oti.
"Gue udah dari tadi...," kata Ticka.
"Ya udah..." Laras bangkit dari tempat duduknya.
"Biar Laras yang bayar," ucap cewek itu seperti biasa.
"Eh.... jangan, Ras!" Tiba-tiba Oti memegang tangan Laras, berusaha mencegah Laras.
Kontan aja Laras dan Ticka memandang Oti dengan pandangan heran.
"Tumben lo gak mau dibayarin? Lagi banyak duit lo?" tanya Ticka sambil menempelkan telapak tangannya ke kening Oti.
"Gak panas kok."
Oti menepis tangan Ticka.
"Emangnya gue stupid!?"
"Iya, Ot, kok tumben?" tanya Laras.
"Maksudnya gue, jangan ragu-ragu. Hee... hee...," jawab Oti sambil memamerkan senyumannya, yang bagi Laras dan Ticka lebih merupakan senyuman iblis.
"Sialan! Kirain gak mau dibayarin! Gue kira ada malaikat apa yang masuk ke lo," sahut Ticka.
"Iya nih...," jawab Laras sambil geleng-geleng, lalu dia melangkah menuju tempat pembayaran.
"Kakak lo gak pernah ke sini lagi?" tanya Ticka saat menunggu Laras.
"Lo gak pernah dianterin lagi?"
Oti sedikit mendelik mendengar pertanyaan Laras.
"Emangnya gue anak kecil? Harus dianter-anter segala?"
"Yee... cuma nanya kok! Jangan sewot gitu dong!"
"Dia kan juga masuk pagi, kalo nganter gue dulu dia bisa terlambat. Emang kenapa lo nanyain Raka? Lo naksir dia ya?" tanya Oti.
"Enak aja. Emang gue gak boleh nanya?" tanya Ticka lagi.
"Abis... tumben."
"Dia udah punya cewek?" tanya Ticka lagi.
"Tuh kan... lo naksir dia! Gue bilangin loh!"
"Oti! Nanya aja!!" Ticka agak panik menghadapi tuduhan Oti. Wajahnya udah memerah. Gak kalah ama warna saus tomat yang ada di hadapannya.
"Naksir juga gak papa kok. Wajar, kam?" jawab Oti kalem.
"Kata Ai dulu Raka punya cewek waktu kelas satu sampe kelas dua. Tapi terus Ai gak tau status hubungan mereka, dan dia nggak pernah nanyain. Kayaknya sih putus, abis katanya mereka nggak pernah saling kontak lagi," lanjutnya.
Ticka hanya manggut-manggut mendengar kata-kata Oti.
Â
__ADS_1