
Tempat yang dimaksud Raka adalah menara setinggi lima puluh meter yang digunakan untuk me-relay siaran TV. Menara ini terletak di atas sebuah bukit kecil dekat Gunung Tangkuban Parahu. Kebetulan Raka kenal penjaga menara itu, seorang pria berusia lima puluh tahunan yang memang penduduk sekitar daerah tersebut.
Hampir setengah jam waktu yang diperlukan Raka dan Oti untuk naik ke puncak menara. Oti sampe berkeringat pas sampe di atas. Untung di atas menara angin bertiup sangat kencang, sehingga dalam sekejap keringat yang membasahi selurih tubuh Oti udah kering.
"Gila lo! Lo gak bilang kalo tempatnya di menara," protes Oti.
"Tau gini tadi gue gak habisin jagung bakarnya. Gue laper lagi nih."
Raka ngga menangapi ucapan Oti. Dia menuju salah satu sisi puncak menara yang berbentuk persegi panjang.
"Gimana ceritanya lo bisa kenal Pak Drajat, penjaga menara ini?" tanya Oti.
"Waktu kelas dua, gue sama anak-anak mau naik Tangkuban Parahu, lewat daerah sini, biar nggak kena retribusi. Kebetulan Pak Drajat lagi ngebetulin menara. Katanya ada sirkuit yang rusak. Gue sama yang lainnya ikut bantuin. Dari situ gue tau Bandung bisa dilihat secara jelas dari sini. Tuh!" Raka menunjuk ke arah Bandung yang memang kayak hamparan cahaya berkilauan. Lebih jelas daripada yang tadi.
"Wah, bener, semua Bandung keliatan. Indah bangett...!!" komentar Oti yang berdiri di samping Raka. Angin di atas menara yang kencang menimbulkan hawa dingin yang menusuk tulang. Oti sampe ngerapetin jaket jinsnya.
"Lo kedinginan? Pake aja jaket gue," kata Raka. Dia hendak melepas jaket kulitnya, tapi kali ini Oti mencegahnya.
"Jangan. Ntar lo yang kedinginan. Gue gak begitu dingin kok. Kan gue udah pake jaket," balas Oti. Tapi tubuhnya nggak bisa berbohong. Terlihat jelas tubuhnya menggigil hebat.
"Gak papa kok. Gue udah biasa. Kan gue biasa ke gunung." Raka memakaikan jaket kulitnya pada Oti. Melihat cara Raka memakaikan jaket kulitnya, Oti jadi ingat saat mereks berdua berada di depan Hotel Horison, ssbelum malam final pemilihan Putri SMA. Saat itu Raka juga memberikan jaketnya, setelah melihat Oti yang kedinginan.
"Lo bener gak papa? Ntar lo sakit," tanya Oti.
"Nggak. Liat, kan? Gue gak menggigil kayak lo," jawab Raka.
Untunglah di balik jaketnya Raka memakai kemeja lengan panjang yang cukul tebal, dan di dalamnya dilapisi T-shirt, sehingga cukup menahan hawa dingin yang menyergap. Apalagi Raka sering naik gunung sama teman-temannya kalo lagi liburan, hingga badannya udah terbiasa dengan hawa dingin daerah pegunungan.
"Lain kali kalo lo naik gunung pas liburan gue ikut, ya?" pinta Oti.
"Emang lo kuat?" tanya Raka.
"Jangan pandang remeh gue. Gini-gini gue bisa ngalahin lo lomba lari. Mau bukti?" tantang Oti.
Raka tersenyum sambil memandang Oti, demikian juga Oti. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan Raka. Untuk beberapa saat lamanya keduanya terdiam. Hanya saling memandang dengan pandangan penuh arti. Kemudian, entah siapa yang memulai, Raka mendekatkan bibirnya ke bibir Oti, demikian juga Oti. Keduanya berciuman dengan penuh kehangatan.
"Nggak! Ini nggak boleh terjadi!" Tiba-tiba Raka melepaskan ciumannya. Oti ternyak mendengar ucapan Raka.
"Lo adik gue! Gue ngga boleh jatuh cinta sama lo!" Raka hendak berlalu dari sisi Oti, tapi tangan Oti menahannya.
__ADS_1
"Tapi kita bukan saudara kandung! Kita sama sekali ngga ada hubungan darah," ujar Oti. Dia terus memandang Raka.
"Lalu apa bedanya? Ayah dan Tante Heni pasti nggak akan setuju dengan hubungan kita."
Oti memandang Raka tajam.
"Kalo lo nggak pengin jatuh cinta sama gue, kenapa lo merhatiin gue? Lo rela nemanin gue seharian di rumah sakit, daripada nemenin Ai yang sendirian di rumah, bahkan sampe ninggalin les dan kerjaan lo. Waktu pemilihan Putri SMA, gue tau lo selalu merhatiin gue, walau lo gak nunjukin dengan jelas. Lo telpon gue cuman buat tau keadaan gue. Lo yang ngasih semangat saat gue ngerasa down ngeliat finalis yang lain. Bahkan lo juga yang ngebantu gue saat pemiliha, ngasih cerpen gue ke dewan juri. Kenapa?" cecar Oti.
"Itu karena lo adik gue. Gue udah janji sama Ayah untuk selalu ngejaga lo. Ngelindungin lo seperti gue ngejaga dan ngelindungin Ai," kata Raka.
"Oya? Lalu kenapa lo nyium kening gue waktu itu? Gue bisa ngerasa itu bukan ciuman kakak pada adiknya."
Ciuman? Raka terkejut. Jadi Oti tahu...
"Lo tau, ciuman itu yang bikin gud berpikir tentang lo. Ciuman itu yang ngebangkitin perasaan gue yang paling dalam. Ciuman itu yang bikin..." Oti nggak melanjutkan kalimatnya. Suaranya mulai bergetar. Ia menahan air matanya yang mulai keluar. Ternyata cewek kayak Oti bisa nangis juga.
"Ciuman itu... itu yang bikin gue tau perasaan lo ke gue, dan ciuman itu juga yang bikin gue mulai merhatiin lo, dan akhirnya bisa jatuh cinta sama lo." Mata Oti berkaca-kaca. Raka hanya memandangi wajah adiknya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya diliputi rasa penyesalan, karena membawa adiknya ke dalam kehidupan cinta yang sebenarnya nggak diinginkannya. Tapi biar bagaimanapun perasaan ngga bisa berbohong dan ngga bisa dibohongi. Dia emang mencintai Oti, dan kalo mau jujur, Raka sebetulnya juga gembira, karena dari ucapan dan tindakan Oti tadi, ternyata Oti pun mempunyai perasaan yang sama kepadanya.
Sambil mendesah, Oti menunduk.
"Ternyata gue salah. Sori kalo gue udah ngusik perasaan lo. Lo pasti lebih milih Ajeng daripada gue."
Seusai berkata demikian, Oti melangkah pergi dari hadapan Raka.
"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Ajeng," ujar Raka.
Ucapannya itu membuat langkah Oti berhenti. Raka merengkuh pundak Oti, dan membalik tubuh cewek itu hingga berhadapan kembali dengan dirinya, dan dengan cepat dia memeluk Oti.
"Gue sayang sama lo, Ot. Gue gak mau kehilangan lo. Gak mau lo jadi milik orang lain," kata Raka sambil memeluk tubuh Oti. Erat sekali, seolah-olah nggak mau melepaskan tubuh itu barang sedetikpun. Oti membalas pelukan Raka. Tubuhnya yang lebih pendek dari tubuh Raka membuat cewek itu terpaksa sedikit berjinjit. Tapi Oti ngga peduli. Air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya. Air mata kebahagiaan.
"Gue juga sayang sama lo, Ot. Gue juga gak mau lo jadi milik orang lain," balas Oti.
"Tapi gimana dengan Mama dan Papa?" tanya Oti kemudian.
"Kita pikirin itu nanti. Sebelum itu, kita harus ngerahasiain hubungan kita ini dari siapa pun."
"Siapa pun? Termasuk Ai?" tanya Ai.
"Ya. Termasuk Ai. Juga dari teman-teman lo dan gue. Gue gak mau ada masalah," jawab Raka tegas.
__ADS_1
Malam semakin larut. Oti mempererat pelukannya ke tubuh Raka. Bulan purnama yang bersinar terang dan bintang-bintang yang berrtaburan malam ini menjadi saksi bersatunya dua insan manusia yang berbeda, berubahnya cinta kakak-beradik menjadi cinta sepasang kekasih.
**Eternity really doesn't exist.
I wonder when I first realized that.
But I'm prouder than anyone else that
the days we spent together weren't lies.
I've lives up to now. Although the length of time is a little different.
Just having met you, just having loved you,
even if we can't share our thoughts
La La La La... I won't forget you.
Why, even though it hurts so much,
can't I think of anyone buy you and I want to be with you?
But I'm used to how I think of even small
things as happy memories.
Even cliches and meaningless words, if they're said between us,
have meaning.
Just having met you, just having loved you,
Just having shared our thoughts... from noe until forever...
I should think of you as proof that I live without taking my eyes off of truth and reality.
Just having met you, just having loved you,
even if I can never see you again,
__ADS_1
La La La La... I won't forget*
( Love Destiny - Ayumi Hamasaki )