
Dua tahun yang lalu ibu Raka meninggal dalam kecelakaan lalu lintas saat akan berangkat kerja. Raka dan adiknya sangat terpukul saat itu. Untunglah ayah Raka tetap menanggung biaya hidup Raka dan adiknya.
Bahkan ayahnya pernah meminta mereka pindah ke London, atau Jakarta, ke tempat paman Raka. Tapi Raka menolak. Selain nggak ingin ninggalin sekolahnya di sini, dia juga belum bisa sepenuhnya memaafkan tindakan ayahnya dulu, juga belum bisa menerima wanita yang sekarang menjadi ibu tirinya.
Ayah Raka nggak bisa maksa. Dia hanya rutin setiap bulan mengirim uang untuk biaya hidup Raka dan Ai. Walaupun begitu Raka nggak ingin menggantungkan diri dari uang kiriman ayahnya.
Karena itu selain sekolah, dia juga kerja freelance sebagai penyiar salah satu radio swasta di Bandung.
Sejauh ini dia masih merasa masih bisa mengatur waktu antara sekolah dan mengrus rumah, bergantian dengan adiknya.
Beberapa beberapa waktu yang lalu ayahnya menelpon, dan bilang anak wanita yang dinikahi nya akan melanjutkan sekolah di Bandung.
selama ini dia emang gak ikut ke London, tapi tinggal di Jakarta bersama keluarga ibunya. Setelah lulus SMP nggak tahu kenapa tiba-tiba anak itu pengin ngelanjutin SMA di Bandung.
Ayah Raka menyuruh dia tinggal bareng Raka dan Ai. Mulanya Ansell sempat keberatan, tapi ayahnya terus mendesak
" Ayah minta tolong agar kau bisa mengawasi dia seperti kau mengawasi Ai! kata kakeknya dia agak nakal waktu di SMP makanya Ayah agak khawatir Kalau dia tinggal sama temannya, seperti rencana semula. Lagipula dia kan bisa menemani Ai kalo malam. kamu tidak khawatir Ai di rumah sendirian kalau kamu lagi siaran malam?? Ayah yakin kalian nanti bisa akrab"
Raka nggak bisa menjawab lagi. Dia hanya mengiyakan apa yang dikatakan ayahnya. Apalagi ayahnya berjanji akan menaikkan uang bulanan mereka ( Lumayan, apalagi di zaman harga barang-barang pada naik akibat kenaikan BBM, sedang gaji Raka sebagai penyiar enggak ikut-ikutan naek ).
Lagi pula ucapan ayahnya ada benarnya juga. Terus terang Raka selama ini juga kasihan dan khawatir pada Ai yang sendirian jaga rumah malam hari, kalau dia siaran malam.
Jadwal siaran Raka emang sebagian malam, karena siangnya dia sekolah. Yah! itulah risiko Kerja sambil sekolah.
Dulu sewaktu ibunya masih hidup mereka Emang sempat punya pembantu. Tapi sejak ibunya meninggal, Raka merasa nggak memerlukan pembantu lagi karena dia dan Ai dapat mengurus dirinya masing-masing.
Yah, mudah-mudahan aja Oti nanti nggak ngerepotin. Siapa tahu dia dapat menjadi teman Ai, bahkan mungkin juga dirinya, walaupun Raka belum sepenuhnya menerima Oti sebagai saudara tiri.
Biar bagaimanapun cewek itu anak wanita yang Raka anggap merebut ayahnya. Apalagi ternyata wajah Oti mirip dengan ibunya. Nggak tahu deh Gimana perasaan Ai nanti.
__ADS_1
"Hei!!" teguran Oti membuyarkan Lamunan Raka. Oti udah duduk di sofa ruang tamu. Topi merahnya dilepas dan diletakkan di meja, sehingga rambutnya yang panjang nya enggak lebih dari leher itu tergerai bebas.
"Ada Apa? Kok bengong?" tanya Oti
"Nggak! Nggak ada apa-apa" jawab Raka menutupi rasa terkejutnya.
Untung Oti nggak bertanya lebih jauh.
"Sori ya kalau gue nyelonong aja! abis gak tahan nih! Hausss...," kata Oti sambil mengusap tenggorokannya.
"Gak papa kok." Raka memandangi Oti yang sedang minum.
Cewek itu Sungguh diluar bayangan Raka mengenai saudara tirinya yang umurnya sekitar dua tahun lebih muda daripada dirinya.
Ketika ayahnya mengatakan Oti akan tinggal di sini, yang terbayayang di benak Raka adalah kerepotan mengawasi cewek ABG yang feminim dan sedikit manja, kaya Ai.
Tapi Oti lain. Gayanya aja kayak laki-laki. Ayahnya emang mengatakan Kaila agak nakal. Tapi kenakalan kayak apa, ayahnya nggak menjelaskan. Mudah-mudahan cuma kenakalan remaja biasa, bukan menjurus pada hal-hal negatif.
Untunglah, walaupun nggak mendapat kasih sayang dan didikan dari kedua orangtuanya, Ai tumbuh menjadi cewek yang baik, alim, dan selalu taat pada kakaknya.
Dia lebih suka mengahabiskan waktu senggang di rumah, belajar atau membaca novel yang memang salah satu hobinya.
Walaupun begitu, Ai nggak jadi remaja kuper. Raka tahu itu, karena mengenal beberapa teman adiknya yang sering main ke situ. Ai juga sering cerita kalau ada teman sekolahnya yang naksir dirinya. Dia sendiri belum mau pacaran karena menurutnya dirinya masih kecil. Dan Raka setuju dengan prinsip Ai.
"Tas lo masukkin kamar aja," ujar Raka.
"Oya, kamar gue di mana?"
__ADS_1
" Nggg...di kamar bawah."
Raka menunjuk pintu sebuah ruangan yang terletak di dekat ruang tengah.
"Di situ?"
"Iya"
Setengah jam berlalu. Raka yang udah nggak ngantuk lagi langsung aja cibang-cibung di kamar mandi. Dia ada janji ke rumah salah seorang temannya. Sejenak hatinya sempat bimbang. Apa dia mesti ninggalin Oti yang baru datang sendirian di rumah? Gimana kalau ada apa-apa? Kalau Ai datang? Apa Oti bisa dipercaya? Begitu banyak pertanyaan dalam benaknya.
Raka melihat ke jam dinding ruang tamu. Jam setengah sembilan! Dan walau lagi libur, Ai tetap laltihan PMR di sekolahnya, dan paling cepat pulang jam dua belas siang. Mudah-mudahan dia bisa pulang sebelum Ai pulang.
"Otiii...," Panggil Raka.
Nggak ada jawaban.
"Otiii..." Raka mengulangi panggilannya
Tetal sepi. Dengan penasaran Raka menuju kamar Oti. Pintu kamar setengah terbuka.
"Ot..." ujar Raka lirih di depan pintu. Dia nggak langsung masuk. Takut kalau misalnya Oti lagi ganti baju. Bisa heboh ntar!
Tetap nggak ada jawaban. Akhirnya Raka memberanikan diri masuk kamar. Dan apa yang dilihatnya benar-benar di luar dugaan...
Di tempat tidur yang belum dipasang seprai, Oti
diam terlentang. Raka agak mendekat. Ternyata Oti ketiduran dengan pakaian masih sama ketika dia datang, hanya jaket dan sepatunya aja yang dilepas. Raka melihat wajah Oti. Butiran keringat segede jagung menetes di wajahnya. Mungkin dia kecapekan. Isi ranselnya aja belum sempat dikeluarkan. Melihat itu, Raka nggak tega ninggalin Oti sendirian di rumah.
__ADS_1
"Halo, Hendri? ini gue, Raka! sori gue nggak bisa pergi sekarang! Ada perlu di rumah. Ntar siang aja kalo adik gue udah pulang, gue ke rumah lo," kata Raka di ujung telepon