Victory

Victory
Bab 40


__ADS_3

"Ayah!!" seru Raka terkejut.


"Papa!!"


Di dekat sakelar lampu, berdiri ayah mereka berdua. Nggak lama kemudian dari arah tangga atas, turun seorang wanita setengah baya yang memakai baju tidur.


"Mama!!" jerit Oti tertahan.


Ayah Raka dan Oti memandang tajam pada kedua anaknya yang sedang berpelukan. Seolah-olah mengerti arti tatapan tersebut, Raka melepaskan pelukannya. Wajahnya keliatan pucat. Sama kayak Oti.


"Papa, Mama, kapan datang? Tumben, ada apa?" tanya Oti dengan suara bergetar dan terbata-bata. Sekilas dia dapat melihat wajah mamanya yang memendam perasaan luka. Entah apa. Mamanya nggak menjawab pertanyaan Oti. Wanita itu hanya diam mematung di anak tangga.


"Raka!" sebagai jawaban terdengar suara ayahnya. Kemudian pria setengah baya itu mendekati Raka, dan tanpa diduga, tangan kanannya bergerak, menampar wajah anak laki-lakinya itu. Begitu kerasnya tamparan tersebut, hingga Raka hampir terlempar. Darah segar mengalir dari bibirnya.


"Pa!" jerit Oti dan ibunya hampir berbarengan.


"Ini belum seberapa dibandingkan aib yang kamu timbulkan di rumah ini!!" kata ayah Raka dengan suara keras. Raka mengusap darah yang keluar dari bibirnya sambil memandang heran ke arah ayahnya, walaupun sebenarnya dia udah dapat menduga maksud perkataan ayahnya.


"Maksud Ayah?" tanya Raka.


"Jangan pura-pura! Ayah udah tau perbuatan kalian berdua!" Ayahnya kini memandang tajam ke arah Oti.


"Pa... tenang, Pa, udah malam," ibu Oti memperingatkan.


"Apa maksud Ayah dengan perbuatan yang kami lakukan?" tanya Raka kembali, sementara Oti hanya tertunduk, nggak berani membalas tatapan ayahnya.


"Kamu masih ngelak? Kamk tau kalian pacaran. Sungguh memalukan!" bentak ayahnya. Raka membalas tatapan ayahnya. Beberapa saat keduanya saling menatap dengan tajam.


"Kamu masih mengelak?" tanya ayahnya.

__ADS_1


Raka menghela napas sebentar. Dia mencoba mencari-cari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan ayahnya.


"Baiklah. Karena Ayah dan Tante Heni udah mengetahui hal ini, kami nggak akan menyangkal. Kami emang pacaran. Apakah itu salah?" kata Raka mencoba tenang.


"Tentu aja itu salah! Kalian nggak boleh pacaran!!" kata ayahnya.


"Kenapa? Karena kami kakak-beradik? Bukankah kami hanya saudara tiri? Nggak punya hubungan darah? Kenapa kami nggak boleh berpacaran?" tanya Raka keras.


Tiba-tiba terdengar suara tangis dari atas. Tants Heni rupanya menangis terisak-isak di tangga. Oti memandang heran ke arah mamanya.


"Mama, ada apa?" tanya Oti lirih.


"Kalian ngga boleh berpacaran! Mulai detik ini, putuskan hubungan kalian!!" kata ayahnya tegas.


"Kenapa nggak boleh!!?" tanya Raka.


"Pokoknya ngga boleh! Ini keputusan Ayah! Titik! Dan Oti! Kamu ikut Papa dan Mama ke London! Sekolahmu akan dilanjutkan di sana!!" kata Papa murka.


"Apa? Nggak! Oti nggak mau pindah! Kalo Papa nggak bilang alasannya, kami nggak akan nurutin kata-kata Papa!!" kali ini Oti yang ngomong. Ayahnya memandang tajam ke arah Oti.


"Kamu mau melawan Papa?" tanya ayahnya marah.


"Oti ingin tau alasanya!!!" tegas Oti.


PLAK!


Tamparan mendarat di pipi Oti. Nggak sekeras tamparan pada Raka, tapi cukul membuat pipi kiri cewek itu memerah.


"Ayah!!" seru Raka.

__ADS_1


"Papa bukan papa kandung Oti! Papa ngga berhak nampar Oti!" kata Oti. Matanya berkaca-kaca. Kemudian dia berlari ke tangga.


"Oti!" kata ibunya saat berpapasan dengan anak gadisnya. Oti memandang ibunya sejenak, kemudian meneruskan langkahnya, menuju kamar di lantai atas.


"Oti benar. Harus ada alasan kenapa Ayah melarang hubungan kami," kata Raka.


"Kita bicarakan ini besok. Sekarang sudah malam," kata ayah Raka. Nada bicaranya mereda. Kemudian ia berblik meninggalkan putranya.


"Ayah...," panggil Raka. Tapi ayahnya tetap meneruskan langkahnya. Tinggalah Raka sendiri berada di ruang tengah. Dia masih belum mengerti kenapa ayahnya melarang hubungannya dengan Oti.


VICTORY FEBRIANI



RAKA PRADANA PUTRA



AIRIN VASTYANA



BAYU KIRANA



FAUZANI REVA ARTISYANTI


__ADS_1


__ADS_2