
Dua hari kemudian, sepulangnya Oti dari Jakarta. Cewek itu ingin bicara berdua dengan Raka. Semula Raka menganggap permintaan Oti biasa aja. Tapi pas melihat wajah Oti yang serius, Raka menduga sesuatu terjadi pada Oti ketika berada di Jakarta Mereka berbincang di sebuah perkebunan teh di Lembang, di sana terdapat saung-saung kecil sabagai tempat beristirahat. Udara sore tarasa sejuk di kaki gunung. Nggak hujan, tapi juga nggak panas. Cocok buat ngobrol dengan tenang.
Raka bersanadar di tepi sebuah saung, nunggu Oti ngomong. Keliatannya Oti masih bingung dari mana harus mulai.
"Ka, sebaiknya kita putus aja," kata Oti akhirnya sambil membelakangi Raka. Ucapan itu benar-benar mengejutkan Raka.
"Oti? Apa maksud lo?" tanya Raka dengan kaget.
"Udah jelas. Kita ngga bisa ngelanjutin hubungan kita," jawab Oti.
Raka benar-benar ngga habis pikir. Terakhir kali dia melihat Oti begitu bersemangat dengan hubungan mereka, bahkan sampai menentang ayahnya. Tapi sekarang, kenapa dia ingin memutuskan hubungan?
"Oti? Ada apa? Elo kenapa?" tanya Raka.
Oti menggeleng.
"Engga ada apa-apa. Gue cuman merasa kita ngga bisa pacaran kayak orang-orang biasa. Kita memang ditakdirkan untuk menjadi kakak-adik."
Raka merengkuh pundak Oti dan membalikan badannya. Dia melihat kayak ada yang aneh pada diri cewek itu. Memang sedari tadi mata Oti sembap, kayak habis nangis terus-menerus.
"Oti, gue tau lo paling ngga bisa boong. Gue tau pasti ada apa-apa. Selama lo di Jakarta, ada apa?" tanya Raka sambil menatap mata Oti. Raka ngga memberi Oti kesempatan untuk menunduk, menghindari tatapan matanya.
"Lo mau tau apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Oti.
"Tentu aja," sergah Raka.
"Tapi, setelah ini, lo pasti akan membenci seseorang," kata Oti.
"Siapa? Elo?"
"Bukan. Lo harus janji dulu, setelah gue ceritain, lo gak bakal benci siapa pun. Janji?" tanya Oti.
Raka terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian dia mengangguk pelan.
"Baiklah. Gue janji."
__ADS_1
Oti membalikkan badannya, memerhatikan pemandangan di kaki Gunung Tangkuban Parahu yang terbentang luas di hadapannya.
"Papa dan Mama bohong sama kita," kata Oti.
"Bohong?"
"Ya. Sebetulnya kita saudara sedarah." untuk kedua kalinya, Raka dibuat terkejut dengan ucapan Oti. Kali ini dia bahkan kayak di sambar petir, ngga percaya apa yang dikatakan Oti.
"Oti? Lo gak boong, kan?"
"Kali ini gue ngomong yang sebenarnya. Gue sendiri pas tau di Bogor. Saat gue secara ngga sengaja ngedengar Mama cerita tentang kita pada Nenek. Gue dengar Mama bilang gue anak Mama dan Papa Rudi. Tentu aja gue kaget dan ngga percaya, sama kayak lo sekarang ini. Karena itu kemudian gue desak Mama untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada gue. Dan akhirnya Mama mau ngaku..." Oti menarik napas sejenak, lalu menyambung,
"...saat Papa Ardi masih hidup, ternyata Mama udah berhububgan dengan Papa Rudi. Mama mengaku hal itu dia lakukan karena khilaf, sebab sejak jatuh sakit, Pappa Ardi praktis bisa terbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa. Akibat hubungan Mama dengan Papa Rudi, akhirnya Mama bisa hamil. Mulanya Mama panik, takut Papa Ardi tau soal ini. Untunglah Papa ardi nggak curiga, sebab Mama mengaku yang dikandung anak mereka. Malah menurut Mama, Papa Ardi sangat gembira karena Mama hamil, sebab menurut keterangan dokter, penyakit yang diderita Papa Ardi dapat menyebabkan dirinya kurang subur. Artinya, sangat kecil kemungkinan Papa Ardi bisa punya anak. Karena itu setelah gue lahir, Papa Ardi memberi nama Victory, karena dia merasa udah ngalahin takdir yang sedang menimpanya. Setelah Papa Ardi meninggal, Mama sangat terpukul, tapi nggak bisa di pungkiri dalam hati Mama juga lega. Walau Papa Rudi baru menikah dengan Mama secara resmi tiga tahun kemudian, tapi pada praktiknya, gue udah memanggil Papa pada Papa Rudi sejak gue baru bisa ngomong. Saat gue beranjak remaja, baru Mama mengatakan Papa Rudi bukan Papa kandung gue. Menurut Mama, saat itu dia mengatakan hal itu karena merasa berdosa pada Papa Ardi, dan semua keluarga tetal nganggap gue sebagai anak Papa Ardi."
"Lo percaya kalo lo anak kandung ayah? Mungkin aja Mama salah. Mungkin lo emang benar-benar anak almarhum papa lo?" tanya Raka rada-rada kalut.
"Waktu berumur lima tahun, gue pernah kecelakaan, ditabrak mobil. Mama bilang saat itu Papa Rudi yang menyumbang darahnya untuk transfusi. Gak mungkin kan golongan darah Papa Rudi cocok ama gue kalo bukan karena gue anaknya?" tanya Oti.
"Tapi bisa aja itu kebetulan. Kan asal golongan darahnya cocok, orang lain juga bisa." Raka tetap keras kepala.
Oti nenoleh ke arah Raka.
"Lo gak sayang sama gue?" tanya Raka putus asa.
"Gue juga sayang sama lo. Tapi kalo disurh milih, saat ini gue akan milih Mama. Maafin gue. Gue tau lo gak bisa menerima semua ini. Pertama gue juga begitu. Tapi setelah berpikir, gue rasa gue harus mikirin kepentingan keluarga. Lagipula kalo ini benar, maka kita udah melakukan kesalahan. Untung kita belum terlalu jauh untuk dapat keluar dari kesalahan ini. Gue harap lo mau ngerti kayak gue."
Raka merenung memikirkan perkataan Oti. Kalo apa yang dikatakan Oti benar, pantas aja ayahnya begitu marah saat mengetahui hubungannya dengan Oti. Ayahnya ngga bisa ngasih alasan yang tepat, karena mungkin takut terbongkar aibnya di masa lalu. Sekarang Raka bisa ngerti. Kalo Oti dapat mengorbankan cintanya demi keluarga mereka, kenapa dia ngga bisa?
Raka memandang Oti. Walau masih berusia enam belas tahun, tapi dia gak nyangka bisa bersikap dewasa, lebih dari dirinya. Dia kini melihat sosok Oti bukan sebagai cewek remaja, tapi sebagai cewek yang udah punya pemikiran matang dan rela mengorbankan kebahagiannya sendiri demi kebahagiaan orang lain. Dan kalo Oti bisa, kenapa gue nggak? batin Raka.
"Ka, lo mau terima keputusan gue , kan?" tanya Oti lagi.
"Gue akan sulit ngelupain lo," ujar Raka akhirnya.
"Gue tau. Gue juga bakalan sulit ngelupain cinta kita. Karena itu gue putusin nerima tawaran Papa. Gue akan ke London. Ngelanjutin sekolah di sana."
__ADS_1
Ke London? Oti akan ke London?
"Lo gak perlu ngelakuin hal itu," kata Raka cepat.
"Gue juga sebenarnya gak mau. Tapi mungkin ini satu-satunya cara agar gue bisa ngelupain lo. Lagi pula kata Mama, Dio udah mulai nakal. Gue harus ngebantu ngawasin dia."
Raka ngga bisa berkata apa-apa. Di satu pihak dia mengakui itu jalan terbaik untuk melupakan cinta mereka. Minimal mereka ngga sering ketemu. Di pihak lain, dia akan merasa sangat kehilangan Oti, kehilangan senyumnya, sifat jailnya, dan yang terpenting, cintanya.
"Lo jangan khawatir. Kita kan masih tetal saudara. Kaka-adik. Kalo udah ngelupain cinta kita, gue akan nemuin lo, lagi pula ini kesempatan lo untuk balik ke Ajeng. Lo mencintai dia juga, kan?"
"Itu..."
"Gak usah lo bilang, gue udah tau." Oti mendekati Raka.
"Kapan lo pergi? Besok?" tanya Raka.
"Gak secepat itu. Gue kan harus ngurus administrasi kepindahan gue, dan pendaftaran di sana. Mungkin akhir semester ini. Berarti sekitar sebulan lagi. Kami berdua akan pindah ke rumah salah satu teman Papa yang disewa sampai kami pindah."
"Kenapa kalian ngga tinggal di rumah sampai lo pindah?" tanya Raka lagi.
"Gue sih pengennya begitu, tapi Papa ngga setuju. Dia bersikeras gue harus pisah dari lo. Gue harap lo bisa ngerti keinginan Papa. Dan seperti janji lo, lo gak akan musuhin siapa pun, termasuk Papa dan Mama gue, kan?"
Raka memandang Oti yang tepat berada di hadapannya.
"Jangan khawatir. Gue akan tepatin janji gue."
Oti tersenyum. Senyum Oti merupakan salah satu faktor yang membuat Raka jatuh hati padanya.
"Jadi kita tetap kakak-adik?" Oti menyodorkan jari kelingkingnya dihadapan Raka.
Raka menyambut jari kelingking Oti dengan jari kelingkingnya. Jari kelingking mereka bertaut. Tiba-tiba Raka memeluk Oti. Erat sekali.
"Gue akan sulit ngelupain lo," ujar Raka lirih.
"Gue tau. Gue juga. Tapi kita harus berusaha. Lo mau berusaha kayak gue, kan?" pinta Oti.
__ADS_1
"Gue akan berusaha; walau gue nggak tau apa gue bisa," ujar Raka pahit.
"Kalo gue bisa, lo pasti bisa. Kembalilah pada Ajeng. Dia sangat mencintai lo. Dia bisa bantu lo ngelupain gue."