
"Lo belum tidur?" tanya Raka di ujung HP nya.
"Belum. Kenapa?" jawab Oti.
"Nggak. Gue cuman mau tau keadaan lo. Lo baik-baik aja, kan?" tanya Raka.
"Gue baik-baik aja. Lo mau tau kenapa gue ngunduri diri? Kayaknya lo orang yang keseratus yang nelepon gue cuman buat nanyai itu," kata Oti kesal.
"Emang kenapa?" Raka malah bertanya.
"Kan gue udah jelasin di panggung," kata Oti sebal.
"Gue nggak percaya itu alasan lo," kata Raka.
"Berarti lo belum tau siapa gue," kata Oti.
Hening sejenak.
"Ka...," kata Oti.
"Apa?"
"Thanks ya... Pasti lo yang ngirimin cerpen gue."
"Abis gue rasa itu satu-satunya bakat yang lo yang gue akuin. Sayang kan kalo orang lain nggak tau. Lagian gue cuman kasian sama mereka aja. Daripada mereka ntar kupingnya sakit ngedengerin suara lo...," kata Raka dengan nada geli.
"Sialan lo. Tapi dari mana lo tau gue suka nulis cerpen? Pas lo ngebetulin komputer gue ya?" tanya Oti.
"Tentu saja. Eh, apa Ayah dan Tante Heni perlu dikasih tau?" tanya Raka.
"Nggak usah. Ntar mereka juga tau sendiri. Gue cumab pengin ngeliat wajah Papa dan Mama pas tau. Itu juga kalo mereka baca berita soal pemilihan itu. Bilangin ke Ai, ya?" pinta Oti.
"Beres. Kapan lo pulang?" tanya Raka.
__ADS_1
"Kenapa? Lo kangen ama gue?" goda Oti.
"Gue kangen ama lo? In your dreams! Gue cumab kasian sama Ai, nggak ada yang ngejagain," kata Raka.
"Emangnya gue bodyguard? Kalo nggak besok, mungkin senin. Tergantung jatah nginep di sini aja. Sayang kan kalo gak dimanfaatin."
"Katanya lo gak senang makannya?"
"Itu dulu. Tadi pas makan malam makanannya udah beda kok. Nggak sayur-sayuran lagi. Bahkan ada kambing guling. Coba dari dulu kayak gitu, gue kan betah dikarantina walau sampe sebulan...," cerita Oti.
"Yee... Maunya...," kata Raka.
Diam sejenak. Oti dan Raka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ka, Menurut lo tindakan gue tadi benar atau slaah?" tanya Oti lagi.
"Gue gak bisa bilang. Semua itu tergantung lo sendiri. Kalo lo merasa tindakan lo bener, pasti lo lakuin. Iya, kan? Benar dan salah tergantung dari sisi mana kita melihatnya," kata Raka bijak.
"Tumben nasihat lo akhir-akhir ini rada bener. Lo emang bakat jadi psikiater," goda Oti.
"Thanks ya. Kalo ngga ada yang diomongin lagi, sekarang gue mau tidur. Lo juga capek kan abis siaran malam ini?" tanya Oti.
"Iya nih. Kayaknya gue juga besok bakal tidur terus seharian," keluh Raka.
"Kalo gitu byee..."
"Byeee..."
-------------------
Raka masih asyik terlelap ketika bel rumahnya berbunyi. Awalnya dia gak memdulikan suara itu. Tapi suara bel tersebut terus menerus menggerogoti kupingnya.
"Siapa sih!!?? Ngeganggu orang tidur aja!!" sungut Raka. Dia menoleh. Hampir jam dua belas siang. Bel terus berbunyi.
__ADS_1
"Iyaaa... tunggu...!!" teriak Raka.
Dengan malas dia beranjak dari tempat tidurnya. Suasana rumah terlihat sepi. Pasti Ai lagi ikut PMR.
"Tunggu!! Gak sabaran amat sih!!" bentaknya.
"Dengan dongkol Raka membuka pintu depan. Dan betapa terkejutnya dia ketika tau siapa yang datang.
Oti! Cewek itu kembali mengenakan pakaian kebangsaanya, jaket dan celana jins, dengan rambut tertutup topi hitam.
"Lama amat sih! Tangan gue kan pegel mencet bel terus!!" omel Oti seketika.
"Lho? Kok udah pulang?" tanya Raka heran.
"Emang kenapa?" Oti masuk sambil meyeret tas bawaanya yang lumayan berat. Raka membantu adiknya itu.
"Katanya lo nunggu sampai jatah nginep di hotel habis?"
"Gak jadi! Gue gak betah di hotel. Dari pagi banyak banget yang nyari-nyari gue. Wartawan gosip, biro iklan, sampe produser sinetron. Heran, padahal kan bukan gue Putri SMA-nya. Makanya gue kabur dari sana," kata Oti.
"Jadi lo gak bilang panitia?" tanya Raka.
"Kalo bilang namanya bukan kabur."
Oti duduk sejenak di sofa sambil melemaskan badannya. Ngga lama kemudian dia bangkit.
"Gue mau tidur dulu. Ntar kalo ada yang nyari, bilang aja gue belum pulang ke sini. Eh, kecuali kalo yang nyari gue Laras atau Ticka. Seharian ini gue mau istirahat. Dan tolong bawain tas gue ke atas dong... Capek nih!"
Baru aja sampe di bawah tangga, langkah Oti berhenti. Dia kembali menoleh ke arah Raka.
"Oya, di tas plastik ada snack dari hotel, kalo lo mau." Lalu Oti melanjutkan langkah menaiki tangga sambil menenteng salah satu tas bawaannya. Sepeninggal Oti, Raka masih termenung di tempat.
"Rakaaa!!! Kenapa tempat tidur gue gak ada seprainya? Trus mana koleksi CD gueee!!??" Suara cempreng Oti kedengaran keras dari atas.
__ADS_1
Oti is back!