
"Inilah para finalis yang masuk lima besar. Yang pertama nomor... tiga!"
Finalis dari jakarta menjerit gembira saat tau dirinya lolos ke babak selanjutnya.
"Nomor tujuh!"
"Nomor dua belas!"
Oti memandang Revi yang tersenyum penuh kemenangan padanya, seolah pertandingan telah berakhir.
"Nomor empat belas!"
Risma menjerit tertahan. Empat belas adalah nomornya. Dia memeluk Oti yang berada di sampingnya.
"Selamat...," ucap Oti.
"Dan yang terakhir adalah nomoorr... Delalan belas!"
Oti menarik napas lega, di sela-sela pelukan Risma dan finalis lain yang berada di dekatnya. Dia kembali memandang Revi. Pertarungan belum berakhir! batin Oti.
__ADS_1
Saat panggung diisi hiburan dari artis pendukung, kelima orang yang masuk babak selanjutnya mempersiapkan diri untuk memperlihatkan bakat mereka masing-masing.
Risma berganti memakai baju daerah, karena akan menarikan tari di daerahnya. Hanya Oti yang masih tampak terpekur di kursi.
"Kamu lakukan aja, Ot, hanya itu yang kamu bisa. Percaya sama Iwan, suara kamu cukup bagus kok. Kamu kan udah pernah nyanyi di delan juri." Iwan berusaha menghibur Oti sambil kembali merias wajah cewek itu.
"Iya, tapi ini kan di hadapan banyak penonton. Di hadapan temen-temen gue. Gimana gue bisa tenang?" tanya Oti.
"Rileks. Seperti kata kamu, anggap aja mereka monyet," kata Iwan.
Oti tersenyum kecil. "Jadi termasuk lo dong..."
---------------------
"Oti jadi nyanyi?" tanya Ticka. Laras mengangguk. Ticks udah dengar Oti nyanyi, baik di kelas maupun di dalam kamar. Dan mengingat suara Oti, Ticka kini berharap semoga terjadi keajaiban malam ini. Mudah-mudahan aja suara Oti berubah menjadi suara Mariah Carey.
Revi tampil membawakan lagu My Heart Will Go on-nya Celine Dion. Suaranya lumayan bagus. Dia dapat memukau penonton yang hadir. Tepuk tangan riuh mengiringi berakhirnya penampilan Revi.
Sementara Risma membawakan tari piring dari Sumatera Barat. Sekarang giliran Oti yang naik ke panggung.
__ADS_1
"Mampus lo!" ujar Revi lirih saat mereka berdua berpapasan.
"Good luck ya, Ot!" kata Risma memberi semangat. Wajahnya masih penuh keringat karena penampilannya di panggung.
Dengan langkah lunglai, Oti naik ke panggung diiringi tepuk tangan penonton.
"Victory mempunyai bakat yang unik, yang rasanya mustshil untuk dapat diperlihatkan secara langsung di sini," kata MC. Oti heran mendengar ucapan MC tersebut. Apa maksudnya?
"Bakatnya adalah menulis cerita pendek. Victory sudah mengirim tiga contoh karyanya kepada panitia, dan para penonton dapa membaca salah satunya pada layar berikut.."
Dua layar lebar di sisi kanan dan kiri panggung berubah menjadi bagaikan papan tulis raksasa. Di situ terpampang sebuah cerita pendek kira-kira sepuluh halaman.
Oti tertegun. Selama ini dia nulis cerpen hanya untuk mengisi waktu luangnya. Itu pun dilakukan di komputernya sendiri, dan dia belum pernah mencetaknya. Lalu siapa orang yang mengirim ke panitia?
"Tidak semua orang dapat menulis cerita pendek yang sangat bagus, dari segi bahasa dan cerita. Pihak panitia telah berdiskusi dengan dewan juri mengenai hal ini, dan dewn juri mengatakan itu juga bakat yang harus dihargai. Karena itu dewan juri dapat menerimanya. Hanya, untuk membuktikan apakah cerpen ini merupakan hasil karya Victory, dewan juri akan memberikan beberapa pertanyaan seputar cerpen ini. Anda siap, Victory?"
Pasti Raka! Oti memandang ke arah studio mini tempat Qly FM siaran. Walaupun nggak jelas, dia dapat melihat Raka tersenyum ke arahnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf "V"
"Victory, Anda siap menjawab pertanyaan yang diajukan Dewan Juri mengenai cerpen Anda?" tanya MC lagi. Oti mengangguk.
__ADS_1