
"Oti sebenarnya masih mencintai Kakak," kata Laras setelah Raka kembali ke ruang tunggu di depan ruang operasi. Walaupun Raka udah dapat menduga, tapi ucapan Laras tak urung membuat hatinya terkejut.
"Tapi, dia bilang dia udah menganggap Kakak sebagai kakak tirinya," kata Raka.
"Oti bohong. Kak Raka tau, alasan sebenarnya dia datang kemari, cuman pengin ketemu Kakak. Selama dua tahun dia nggak bisa ngelupain Kakak. Dia rindu, dan pengin ketemu Kak Raka. Tapi dia nggak mungkin pergi tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya, yang selalu mengawasinya dengan ketat. Dengan uang saku yang dikumpulinya diam-diam, Oti lalu nekat pergi ke Indonesia. Pada mama-papanya Oti bilang akan nginep di rumah temannya di Liverpool. Sebetulnya Oti udah berusaha keras buat ngelupain Kakak. Dengan belajar keras dan konsentrasi pd studinya, dia berharal dapat melupakan cintanya. Kakak tau kalo Oti jadi salah satu murid terbaik di SMA-nya di sana? Dia bahkan dapat tawaran beasiswa jurusan sastra di Oxford. Tapi semua itu nggak bisa menghapus kerinduannya pada Kak Raka. Nggak bisa menghapus cintanya."
"Jadi, itulah kenapa dia nyimpan kalung..."
"Kaung pemberian Kakak? Kalung itu baru dilepas Oti pas mau ketemu Kakak. Dia nggak ingin Kakak tau dia masih mencintai Kakak. Dia ingin tau apakah Kakak juga masih mencintai dia, karena menurutnya waktu dua tahun dapat mengubah segalanya," Laras menerangkan.
"Kenapa Oti nggak terus terang? Kakak juga masih mencintai dia...," sesal Raka.
"Itulah Oti. Dia nggak ingin menambah masalah, terutama antara Kak Raka dengan papanya. Oti nggak ingin mengecewakan papa dan mamanya, walaupun untuk itu dia harus mengubur perasaan cinta yang dimilikinya. Cinta sejatinya. Oti rela berkorban apa pun, untuk keutuhan dan kebahagiaan keluarganya."
Oti? Kenapa lo bisa berkorban sebesar itu? Diam-diam Raka malu pada Oti yang bisa mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan orang tuanya. Sedangkan dia terus memaksakan cintanya pada Oti, tanpa memikirkan perasaan ayahnya, juga Tante Heni.
Raka sebetulnya nggak pernah berusaha melupakan cintanya pada Oti. Selama dua tahun dia berharap Oti kembali padanya suatu saat. Sesuatu yang sangat meustahil, selama mereka masih punya hubungan darah.
"Kenapa kamu tau semuanya?" tanya Raka sambil memandang Laras.
"Oti selalu cerita semuanya pada Laras. Sewaktu Oti di London, kami sering mengirim e-mail. Oti sering curhat pada Laras, terutama kalo lagi inget sama Kak Raka," jawab Laras.
__ADS_1
Raka tau, diantara semua temannya, Oti memang paling dekat dengan Laras. Selain itu Laras juga dianggap paling bisa menyimpan rahasia. Mungkin karena sifat Laras yang pendiam.
"Ide ngajak Kak Raka makan malam dan memakai gaun juga dari Oti. Setelah ketemu Kak Raka di kampus, Oti ngajak Laras beli gaun untuk makan malam nanti. Dia juga nyuruh Laras mengatakan gaun itu milik Laras yang dipinjamkan pada Oti. Mungkin bagi Kak Raka, apa yang dilakukan Oti sangat aneh, dan nggak seperti sifat Oti yang sebenarnya. Tapi kali ini, Oti ingin tampil sebagai wanita yang sempurna di hadapan Kakak, tanpa mau mengakui perasaanya. Oti sadar, bisa jadi malam ini adalah perjumpaanya yang terakhir dengan Kak Raka. Kalo sampa papanya tau, kemungkinan dia nggak bakal lagi bisa ketemu Kak Raka untuk waktu lama,"
Raka berpikir, perkataan Laras ada benarnya. Kalo dipikir-pikir, tubuh Laras lebih pendek dan kecil dari Oti. Kenapa gaunnya bisa pas dipakai Oti? Waktu itu Raka emang nggak sampai berpikir ke sana.
"Lalu, kenapa kamu ceritain ini ke Kakak? Bukan kah Oti nyuruh kamu merahasiakannya?" tanya Raka.
"Laras sebetulnya nggak tega melihat Oti begitu menderita memendam perasaanya. Laras juga gak tau apakah setelah ini Oti akan marah pada Laras, atau malah membenci Laras. Yang penting Laras sudah mengatakan apa yang sebenarnya terpendam di hati Oti. Laras tau hubungan Kakak dan Oti itu nggak di benarkan menurut agama. Hanya saja Laras berpikir, jika hubungan Kakak dan Oti nggak dibenarkan agama, kenapa Tuhan membuat Kakak dan Oti saling jatuh cinta?" tanya Laras.
Ucapan Laras benar. Jika Raka dan Oti memang saudara sedarah, mengapa Tuhan membuat mereka saling jatuh cinta? Mengapa Tuhan nggak membuat dia jatuh cinta pada Ai? Padahal secara fisik Ai lebih cantik dari Oti. Ai juga bertahun-tahun tinggal bersama Raka, dibandingkan Oti yang hanya beberapa bulan. Juga mengapa Tuhan nggak membuat Raka dapat mencintai Ajeng yang bukan aja secara fisik jauh di atas Oti, tapi juga baik dan penuh perhatian? Berbagai pertanyaan itu semakin memenuhi benak Raka.
Oti masih dalam ruang operasi. Raka sudah nggak betah menunggunya. Ia gak sabar ingin tau keadaan Oti. Barusan ia juga mendapat kabar dari polisi kalo orang yang menabrak Oti udah tertangkap. Orang itu ternyata Riki, salah seorang anggota gerombolan preman yang pernah berkelahi dengan Oti di Fame dulu.
Tiba-tiba, bak menjawab kegelisahan Raka, pintu ruang operasi terbuka. Dokter Satrio yang menangani Oti keluar. Raka, Ai, dan Laras langsung memburu mendekat.
"Bagaimana, Dok?" tanya Raka gugup.
"Luka-luka Victory sudah ditangani. Hanya saja..," dr. Satrio menggantung kata-katanya.
"Kedua orang tua Anda telah diberitahu?" tanya dr. Satrio.
__ADS_1
"Sudah. Mereka sedang menuju kemari. Paling cepat nanti malam baru sampai. Ada apa, Dok?"
Dr. Satrio terdiam, seakan sedang berpkikir sambil memandang Raka.
"Sebaiknya kita tunggu kedua orangtua anda datang, terutama ayah Anda...," kata dokter senior itu.
"Dok? Ada apa? Kenapa harus menunggu Ayah? Saya ka Kakaknya..." Raka merasa ada sesuatu yang disembunyikan dr. Satrio.
Dokter Satrio menatapnya dengan ragu, tapi akhirnya berkata,
"Baiklah, saya rasa anda berhak tau. Sementara ini, kondisi yang paling parag adalah ginjal kanan Victory pecah."
Ai dan Laras sama-sama menarik napas cepat, terkesiap. Seolah di komando, air mata mereka yang sempat kering tadi kembali mengalir berbarengan. Wajah Raka yang sudah pias semakin pucat.
"Dok...," kata Raka memohon.
"Maaf, saya tidak bisa membicarakan kondisi lain sebelum orangtua anda datang. Saya harus kembali ke dalam. Kalau terjadi apa-apa, suster akan menghubungi anda. Saya tinggal dulu."
Raka henya tercengang ketika dr. Satrio berbalik meninggalkan mereka. Apa sebenarnya yang akan dikatakan dr. Satrio? Kenapa harus menunggu Ayah? Bagaimana kondisi Oti sebenarnya?
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benak Raka.
__ADS_1