
Baru dua hari Oti pergi, Raka merasa ada sesuatu yang hilang di rumahnya. Nggak tau kenapa keadaan rumah menjadi sepi.
Saat Oti ada di rumah, sering terdengar teriakannya yang cempreng. Anak itu memang rame. Apalagi kalo nonton TV. Baik film atau acara lainnya, pasti ada aja komentar tentang acara tersebut yang keluar dari bibir mungilnya. Saking seringnya Raka harus selalu mengingatkan Oti, apalagi kalo udah larut malam.
Sekarang Oti lagi nggak ada. Kalo nonton TV, Raka paling cuman bareng Ai. Ai sangat pendiam kalo nonton TV. Biasanya dia nonton sambil belajar atau ngerjain PR. Nonton dalam suasana sunyi membuat mata cepet ngantuk. Beberapa kali Raka ketiduran di depan TV.
"Kakak kangen sama Kak Oti?" tanya Ai tiba-tiba di belakang Raka, yang siang itu lagi berdiri di depan pintu kamar Oti. Raka kaget. Dia nggak mengira adiknya udah pulang sekolah.
"Enak aja... siapa yang kengen? ntar dia kege-eran lagi," bantah Raka.
"Trus kenapa Kakak berdiri sambil ngeliatin pintu kamar Kak Oti?"
"Eeenngg... Kakak lagi nyari CD Kakak. Di kamar Kakak gak ada, jadi Kakak pikir mungkin ada di kamar Oti. Makanya Kakak mau masuk ke kamar nya."
Jawaban Raka rupanya nggak berhasil menghapus kecurigaan di wajah Ai. Dia memandang Kakaknya dengan tatapan nggak percaya, kemudian pergi ke kamarnya.
Sepeninggal Ai, Raka merenungi perkataan adiknya barusan. Apa benar dia rindu sama Oti? Dia sendiri nggak yakin. Raka kemudian beranjak menuruni tangga. Tanpa sepengetahuannya, Ai mengintip tingkah laku Raka melalui pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
Jangan-jangan Kak Raka...? batin Ai.
-------------------------
Besok acara puncak pemilihan Putri SMA se-Indonesia. Tapi malam ini Oti nggak bisa memejamkan mata. Udara di dalam kamarnya terasa panas. Padahal kamar di Hotel Horison itu dipasangi AC.
Oti memandang Risma, teman sekamarnya yang berasal dari Sumatera Barat. Dia kelihatan sudah pulas. Mungkin kecapekan, karena kegiatan mereka selama masa karantina sangat padat. Selain jarus mengikuti berbagai macam penilaian dan pengarahan dari panitia, kadang-kadang para finalis melakukan kunjungan ke tempat para sponsor, atau ke tempat wisata di sekitar Bandung.
Oti sebetulnya menganggap acara kayak gitu sangat ngebosenin. Tapi demi persaingannya dengan Revi, terpaksa dia harus mengikuti semua acara itu.
Oti sendiri sering ketiduran di tengah-tengah acara, sehingga sering mendapat peringatan dari panitia. Dan kalau kena marah panitia, Revi pasti tersenyum penuh kemenangan, mengejeknya.
Tiba-tiba Oti teringat sesuatu. Dia mengambil tas tangan yang dipinjamnya dari Laras. Dari dalam tas, dia mengambil HP nya. HP nya dalam keadaan mati sejak pagi, karena panitia melarang para finalis menghidupkan HP saat mengikuti acara, dan saat semua acara sudah selesai, Oti lupa menyalakannya lagi.
Begitu dinyalakan, benda itu berbunyi menandakan pesan-pesan yang masuk saat dimatikan. Begitu keras dan banyaknya bunyi yang keluar membuat Oti risi sendiri. Dia menoleh ke arah teman sekamarnya. Untung saja temannya itu tidak terganggu suara HP tersebut.
Oti membaca pesan-pesan yang sebagian besar merupakan telepon dari teman-temannya saat HP nya mati. Ada juga pesan dari Bayu yang memberinya semangat. Oti cuman tersenyum membaca pesan-pesan tersebut. Ternyata teman-temannya masih menaruh perhatian kepadanya.
Pesan yang terakhir menarik perhatiannya. Pesan itu dikiram kurang dari satu jam yang lalu, dari nomor HP seseorang yang amat dikenalnya. Raka!
__ADS_1
Entah apa yang mendorongnya, jari tangan Oti menekan nomor HP Raka. Terdengar nada tunggu beberapa saat, sebelum terdengar suara Raka.
"Halo..."
Oti cepat memutuskan hubungan telepon. Ia jadi salah tingkah sendiri. Ia sendiri nggak tau kenapa Raka yang dihubunginya, bukan teman yang lain, atau bahkan Bayu.
Padahal ada pesan Bayu yang meminta Oti menghubunginya kalo ada kesempatan. Bagaimana kalo Raka cuman iseng aja menghubungi HP nya? Pasti Raka akan menertawakannya.
HP nya berbunyi lagi. Oti melihat nomor yang tertera pada display. Nomor HP Raka. Kenapa Raka menelponnya lagi? Apa ada hal penting? Beberapa saat lamanya Oti membiarkan HP nya berbunyi.
"Bunyi HP siapa?" tanya Risma yang terbangun mendengar suara HP Oti.
"Maaf, ini HP-ku," jawab Oti sambil meraih HP nya. Risma hanya mengucek matanya sebentar, lalu kembali ke alam mimpi.
"Halo..."
"Oti? Kenapa tadi dimatiin?" Terdengar suara Raka dari seberang.
"Nggak papa. Lo tadi nelpon gue?"
"Belum," jawab Oti.
"Gue ada di bawah," kata Raka.
"Di bawah?" tanya Oti.
"Di aula hotel yang mau dipake buat pemilihan besok. Nyiapin alat-alat siaran. Tadi Ai nitip nanyain kabar lo. Lo baik-baik, kan?" tanya Raka.
Ai? Kenapa Ai yang nanyain kabarnya? Kenapa bukan Raka sendiri? batin Oti.
"Ot?"
"Iya... gue baik-baik aja. Salam buat Ai," kata Oti.
"Lo udah ngantuk? Mau Tidur?" tanya Raka lagi.
"Belum," kata Oti.
__ADS_1
"Tadinya Ai minta gue ketemu langsung sama lo. Tapi kayaknya gak bisa ya? Gue kan gak mungkin ke kamar lo. Lo juga pasti gak bisa ke sini," kata Raka.
"Lo masih lama disana?" tanya Oti.
"Enngg... gak tau juga nih. Soalnya masih banyak yang harus dikerjain. Besok siang semua harus udah beres. Tapi gue mau makan dulu. Dari siang belum makan apa-apa," kata Raka.
"Mau makan apa?"
"Paling ke depan hotel, cari mi goreng atau apa aja yang masih buka. Aibis kalo makan disini mahal," kata Raka.
"Gue ikut ya?" kata Oti tiba-tiba.
"Ikut?" tanya Raka heran.
"Iya. Gue juga laper berat nih, makanya gak bisa tidur. Tadi gue cuman makan sedikit."
"Emang lo boleh keluar?" tanya Raka curiga.
"Sebenarnya sih nggak. Tapi jangan khawatir. Pokoknya lo tunggu gue," kata Oti tegas.
"Tapi Ot, gimana kalo lo ketahuan? Ntar lo bisa dikeluarin..."
"Gak bakal deh... udah ah! Gue ke situ sekarang."
"Kalo gitu lo jangan ke aula hotel. Di sinj banyak panitia. Lo tunggu gue di depan pintu lobi. Oke?"
"Oke..."
Lalu Oti membongkar tas yang berisi pakaian ganti miliknya. Dia mencari sesuatu.
Ini dia! batinnya.
Oti mengganti baju tidur yang dikenakannya dengan T-shirt abu-abu lengan panjang dan celana panjang jins biru tua miliknya. Kemudian cewek itu menggelung rambutnya yang mulai panjang, dan menutupinya dengan topi bisbol hitam.
Topi itu sekaligus menyembunyikan sebagian wajahnya. Setelah dirasa beres, dengan langkah mengendap-endap Oti membuka pintu kamar hotel.
Sebelumnya dia sempat menoleh ke arah Risma. Temannya keliatan lagi tertidur lelap. Oti menutup pintu kamar kembali dengan hati-hati.
__ADS_1