
Harapan Raka agar kedatangan Oti nggak ngerepotin dirinya ternyata nggak terwujud. Baru aja Oti pindah, malamnya ayah Raka menelepon.
Awalnya cuman nanyain kabar Oti, dan minta Raka buat ngebantu anak itu saat pertama kali masuk SMA barunya.
Tapi pas menanyakan kabar Oti, dan Raka menjawab di bawah, ayah Raka langsung nggak setuju. Setengah memaksa, ayahnya minta Raka tukeran kamar dengan Oti.
Alasannya nggak baik cewek tidur di kamar bawah sendirian, juga biar kamar Oti dekat dengan kamar Ai. Mulanya Raka keberatan. Selain kamar yang di bawah lebih kecil, dia juga males mindahin barang-barangnya, dan menata ulang kamar baru.
Sebetulnya ada satu kamar lagi di belakang, bekas kamar pembantu mereka saat ibunya masih hidup. Tapi sekarang kamar itu udah menjadi tempat penyimpanan barang-barang yang nggak terpakai. Karena ayahnya terus mendesak, terpaksa Raka setuju. Emang, dari dulu Raka nggak bisa membantah apa yang dikatakan ayahnya.
Begitulah, pagi harinya Raka langsung kerja bakti memindahkan barang-barangnya ke kamar bawah. Bener-bener bikin capek, apalagi barang-barangnya tergolong banyak, dari yang umum seperti baju, komputer, dan CD player, sampai barang-barang aneh kayak aksesoris dan pernak-pernik, serta barang-baramg "ajaib" lainnya. Ai sampe ngakak melihat kakaknya bolak-balik naik-turun tangga sambil bawa barang-barang. Kaya mau ngungsi aja.😂
Yang bikin Raka sebel, Oti sama sekali nggak ngebantu. Dia malah dari pagi pergi keluar bareng Ai yang mau pergi ke rumah temennya. Katanya sih mau jogging sebentar, sekaligus mengenal daerah sekeliling kompleks tempat tinggalnya yang baru. Sok akrab bener tuh anak.😅
Tapi nggak disangka, ternyata Ai langsung akrab dengan kakak tirinya. Tadi malam mereka ngobrol lama sekali di kamar Ai samle cekikan. Mungkin karena selama ini Ai nggak punya kakak cewek, jadi dia bisa langsung akrab dengan Oti.
__ADS_1
Sampe hampir jam sembilan Oti belum balik juga, sehingga Raka terpaksa kerja sendirian. Dia sempat khwatir juga, jangan-jangan tuh anak nyasar! Raka nggak mencoba menghubungi HP Oti, karena cewek itu nggak bawa HP. Raka tahu, karena tadi dia yang mindahin HP Oti ke kamar atas.
"Paling kalau ada apa-apa dia nelepon ke sini!" batin Raka mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Lagipula kayaknya Oti tipe gadis yang suka berjalan-jalan dan bertualang. Terbukti kemaren di nekat sendirian nyari alamat rumah ini dari stasiun kereta api, padahal dia belum pernah ke Bandung. Tapi gimana kalo dia kenapa-napa dan nggak bawa tanda pengenal, sedangkan orang-orang di sekitar sini belum tahu tentang Oti? Raka juga yang repot nantinya.
Saat Raka sedang membayangkan hal itu, pintu depan terbuka. Oti masuk sambil menenteng kantong plastik hitam. Di kupingnya tergantung sepasang earphone yang terhubung dengan ipod yang digantung di lengan kirinya.
Raka mendengus. "Datang-datang langsung nuduh! nggak tahu apa baju sudah basah kuyup keringetan kayak gini!?" omel Raka dalam hati.
Oti meletakkan kantong plastik yang dibawanya di meja makan.
"Barang-barang gue udah di atas?" tanya Oti lagi.
"Udah!" jawab Raka pendek.
__ADS_1
Oti tersenyum melihat raut muka Raka yang kusut.
"Thanks ya!" katanya sambil menaiki tangga. Di tengah-tengah anak tangga, dia berhenti.
"Eh, gue tadi beli bubur ayam di depan. Tapi gue nggak tahu lo doyan bubur ayam apa nggak, jadi gue cuman beli satu. Sori ya! Gue ngasih tahu ini supaya nggak hilang aja tuh bubur di meja! Abis laper berat nih! Gue mo mandi dulu," lanjutnya.
"Kirain mau ngasih!" batin Raka kesal. Soalnya dia juga laper berat. Apalagi tadi habis kerja rodi.
"Kok kamar gue masih berantak sih!??" teriak Oti dari kamaf atas.
Kali ini hilang sudah kesabaran Raka.
"Beresin aja sendiri! Itu kan kamar lo! Udah gue bantuin juga!!!" teriak Raka nggak kalah kerasnya.
Oti nggak menjawab, sehingga beberapa saat suasana menjadi hening. Dengan kesal Raka menuju kamar barunya di dekat ruang tengah, yang juga masih berantakan.
KERJA BAKTI BABAK KEDUA DIMULAI LAGI!
__ADS_1