
Pagi harinya, guncangan keras melanda sekujur tubuh Raka, membuatnya terbangun. Ternyata Ai yang melakukannya.
"Ada apa? Kamu nggak tau Kakak baru tidur jam tiga tadi!?"
"Bangun, Kak! Kak Oti pergi dari rumah!" kata Ai, membuat Raka melonjak dari tidurnya.
"Apa? Yang bener?"
"Bener. Nih dia ninggalin surat."
Raka merebut surat yang dipegang Ai, dan membacanya.
Seperti yang gue bilang, gue pergi. Lo gak perlu khawatir, gue pasti bisa jaga diri. Ntar kalo gue udah dapat tempat tinggal, gue akan kasih tau Papa sama Mama. Kalau Papa tanya, bilang aja gue lagi nginap di rumah teman. Buat Ai, baik-baik ya, gue pergi sama kaya gue datang, karena itu titip dulu barang-barang gue yang lain, ntar gue akan ambil kalo uda dapet tempat tinggal. Semoga gak ngerepotin lo.
OTI
Aneh juga Oti! Kabur dari rumah tapi masih mikirin barang-barangnya! Batin Raka
"Emang apa yang Kakak omongin sama Kak Oti semalam? Kakak berantem sama Kak Oti?" tanya Ai. Raka hanya diam sambil memandang kertas di hadapannya.
"Kakak harus cari Kak Oti dan membujuknya kemari. Kalo Ayah sampai tau hal ini, Ayah pasti marah," lanjut Ai.
"Tapi...."
__ADS_1
"Pokoknya, apapun yang Kakak lakukan yang bikin Kak Oti tersinggung, Kakak harus minta maaf, dan membujuk Kak Oti sebelum Ayah tau!"
---------------------------
Bisa ditebak, ketika Ayah Raka menelepon pagi harinya dan tau kalau Oti pergi dari rumah, Raka dimarahi habis-habisan.
"Kamu tau kenapa Ayah suruh Oti tinggal di rumah itu?" tanya Ayah Raka setelah puas memarahi anak cowoknya.
"Tidak sekedar tinggal di rumah itu. Ayah ingin kalian menumbuhkan ikatan persaudaraan diantara kalian. Oti bukan saudara sedarah kalian, jadi mungkin kalian masih merasa asing satu sama lain. Itulah sebenarnya alasan utama Ayah. Ayah ingin semua anak Ayah, baik anak kandung, maupun anak tiri, hidul rukun sebagai saudara. Ayah tidak membeda-bedakan kalian, karena itu kalian juga jangan saling membedakan. Kamu mengerti maksud ayah?"
Terus terang, Raka selama ini gak bisa membantah apa pun yang dikatakan ayahnya.
"Pokoknya Oti harus kembali. Ibunya belum tau akan hal ini," tegas ayahnya.
"Bujuk dia. Jangan khawatir, Ayah tau sifat Oti. Sifatnya hampir sama denganmu. Sebentar lagi dia akan melupakan kejadian ini. Ayah juga akan membujuknya melalui handphone."
-----------------------
Terpaksa hari ini Raka pulang lebih cepat. Pelajaran terakhir dia bolos. Alasannya sakit. Dan Raka pun ngejogrok di depan SMA Yudhawastu, menunggu bel pulang.
Begitu sekolah berakhir, Raka melihat Oti keluar dari halaman sekolah bareng Ticka dan Laras.
"Ntar deh gue pikir-pikir dulu. Tapi lo bener-bener minta maaf, kan?" jawab Oti setelah Raka minta dia pulang lagi ke rumah.
__ADS_1
"Lo jangan mulai lagi dong...," kata Raka kesal.
Dalam hati sebetulnya Oti geli juga melihat wajah Raka yang keliatan kusut itu. Dia bisa menebak, pasti Kaka tirinya habis dimarahi Ayahnya dan di paksa membujuknya pulang.
Tadi ayahnya juga telah membujuknya lewat HP. Sebetulnya kekesaln Oti sudah hilang. Tapi tiba-tiba sifat jailnya kumat lagi. Dia pengin ngerjain Raka lebih dulu.
"Gimana ntar deh. Sekarang gue ada perlu dulu sama Laras dan Ticka," katanya
Saat Oti hendak beranjak pergi, Raka memegang lengannya.
"Tapi lo ntar balik, kan?" tanya cowok itu.
"Kata gue liat ntar. Tergantung mood gue. Udah ah!" Oti menepiskann tangan Raka dan melangkah meninggalkan Raka yang hanya terpaku di tempatnya.
"Laras pergi dulu, Kak," kata Laras saat lewat di depan Raka.
"Ras, tolong kamu bujuk dia," pinta Raka pada Laras. Laras menatap wajah Raka.
"Laras usahakan."
"Thanks ya," kata Raka. Laras hanya tersenyum.
Raka nggak tau sebetulnya Oti juga kena marah ayahnya. Dan sama seperti Raka, gadis itu gak bisa membantah apa yang dikatakan ayahnya. Karena itu Oti sebenarnya udah mutusin akan balik ke rumah Raka sore nanti, walau Raka nggak memintanya.
__ADS_1