
"Mampus gue!"
Berkali-kali Oti menepuk jidatnya. Laras dan Ticka yang duduk di hadapan Oti hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan teman mereka.
"Minum dulu, Ot." Ticka menyodorkan sebotol fruit tea yang ada di meja. Oti menyedot Minuman itu. Saat itu mereka bertiga sedang berada di food court Bandung Indah Plaza. Biasa, jalan-jalan dulu sepulang sekolah.
"Kenapa gue bisa sebodoh itu nerima tantangan dia?" Oti seakan bertanya pada dirinya sendiri. Dia seperti menyesali sesuatu. Pandangannya menerawang ke depan, seperti mengingat sesuatu. Oti ingat kejadian pas istirahat, saat dia menghampiri anggota Fiesta yang lagi memojokkan Rika, teman sekelasnya, di kantin sekolah.
Dia sempat perang kata-kata dengan Revi cs. Bahkan Oti sempat dikeroyok anggota Fiesta. Tapi tentu saja mereka bukan tandingan Oti yang gitu-gitu pemegang sabuk hitam karate. Oti berhasil menampar muka Rina, menendang Wida hingga jatuh, mendorong Amy, dan memuntir lengan Revi ke belakang, hingga berteriak minta ampun. Beberapa anak cowok yang berada di tempat itu segera melerai perkelahian.
"Jangan kira karena kalian kakak kelas, kalin bisa seenaknya! Apalagi cuman karena masalah sepele!" bentak Oti keras.
"Lo juga! Jangan lo kira mentang-mentang jago karate, lo bisa main pukul seenaknya. Apa cuman itu kebiasaan lo? Mukulin orang? Kasihan banget lo jadi cewek kalo cuman itu yang lo bisa!" balas Revi nggak kalah kerasnya sambil memegangi lengan kanan yang sakit.
"Jangan cari alasan! Kalian yang bikin gara-gara!"
"Lo kira gue takut sama lo? Kalo aja bukan jago karate, lo sama sekali nggak ada apa-apanya! Dandan aja lo gak bisa!"
"Kurang ajar!" Oti hendak maju, tapi beberapa siswa cowok menahannya. Butuh dua orang untuk menahan cewek itu.
"Kalo lo gak terima gue bilang begitu, buktiin dong! Kita bertanding di bidang yang gue juga bisa, biar fair! Lo berani?" tantang Revi.
Oti menenangkan diri sejenak.
__ADS_1
"Baik. Gue terima tantangan lo. Lo kira gue takut!?"
"Lo ingin kita bertanding apa?" tanya Revi
"Terserah! Lo yang nentuin!," tantang Oti.
"Baik kalo begitu" Revi memandang sekelilingnya, kayak mencari sesuatu. Tiba-tiba wajahnya tersenyum licik.
"Kita bertanding itu!" Telunjuk cewek bertubuh tinggi itu menunjuk salah satu sudut kantin di belakang Oti yang ditempel dengan berbagai macam selebaran dan poster. Oti menoleh ke arah yang ditunjuk Revi.
"Apa?" tanya Oti.
"Baca aja poster Pengumuman berwarna-warni itu yang paling gede." Tunjuk Revi. Oti membaca tulisan besar pada poster yang tertempel di situ.
Membaca judul poster tersebut, raut wajah Oti berubah. Dia kembali menatap ke arah Revi.
"Lo udah rencanain hal ini ya?" tanya Oti.
"Gimana? Lo berani? Kalo takut atau ngga sanggup, bilang aja. Gue bisa kok milih jenis pertandingan yang lain," sahut Revi dengan wajah angkuh.
Melihat wajah Revi yang begitu angkuh itu, nyali Oti yang menciut tiba-tiba bangkit lagi. Kalau dia bilang nggak sanggup, pasti Revi akan merasa menang. Dan revi pasti akan memilih pertandingan lain yang lebih menguntungkan dirinya.
"Gimana? Kok diem? Berani nggak? Gue rasa walaupun cewek, lo gak bakalan berani ikut acara kayak gitu. Iya, kan?"
__ADS_1
Semua yang berada disitu terdiam. Mereka semua memandang Oti, menunggu jawaban Oti dari mulutnya. Oti kembali menatap wajah Revi.
"Gue terina tantangan lo!" Jawab Oti yakin. Jawaban yang membuat raut wajah Revi sedikit berubah.
"Lalu apa yang didapat pemenangnya?" tanya Oti.
"Yang kalah harus mengikuti apa yang diperintahkan si pemenang tanpa kecuali. Gimana?"
"Apa pun?" tanya Oti.
"Ya, apa pun. Semua yang ada di sini jadi saksi," kata Revi.
"Oke!" Sahut Oti mantap.
"Baik. Ini peraturannya. Siapa yang masuk final dan posisinya lebih baik dari yang lain, dia pemenangnya. Nggak perlu jadi juara," tegas Revi.
"Pertandingan di anggap seri. Setuju?"
"Setuju," kata Oti.
Revi mendekatkan tubuhnyabke arah Oti.
"Tapi gue yakin bakal masuk final. Gue udah biasa soal beginian. Tapi lo? Foto lo gak dibuang juri ke tempat sampah aja udah untung," ujar Revi lirih. Oti melotot.
__ADS_1
"Gue tunggu lo! Sebaiknya lo cepat daftar. Pendaftaran hampir ditutup," lanjut Revi. Kemudian dia meninggalkan temapat tersebut diikuti anggota Fiesta yang lain. Menimggalkan Oti yang masih terpaku di tempat.