
Malam harinya Raka masuk ke kamar Oti. Dilihatnya Oti sudah tidur. Mungkin dia kecapekan setelah seharian menerima kunjungan teman-temannya. Sebetulnya tadi Raka udah pamit pada Oti untuk pulang, tapi sampe di bawah, dia lupa membawa pakaian kotor Oti. Saat dia kembali, Oti udah terlelap. Ia nggak tega membangunkan adiknya.
Pakaian kotor Oti udah dikumpulin dalam sebuah tas plastik hitam yang tergeletak di samping lemari baju. Setelah mengambil tas plastik yang dimaksud, Raka bermaksud keluar. Tapi sesuatu membuatnya menahan niatnya.
Ia kemudian berdiri di samping tempat tidur Oti sambil melihat wajah adiknya. Tampak sesungging senyuman tergambar di bibirnya, membuat wajah cewek itu terlihat begitu manis.
Diam-diam Raka merasa berat meninggalkan adik tirinya itu. Kalo aja nggak ingat Ai yang sendirian di rumah, dia akan terus menemani Oti di rumah sakit. Entah kenapa timbul perasaan lain di hatinya. Sekian lama mengenenal Oti, perasaanya kini berubah.
Dulu Raka membenci Oti, karena dia anak orang yang Raka anggap menghancurkan perkawinan ayah-ibunya. Sifat Oti yang suka seenaknya sendiri juga sering membuatnya naek darah. Tapi setelah mengenalnya lebih dekat, Raka baru tau Oti sebenarnya cewek yang baik, enak diajak bicara, juga selalu periang. Dari cerita teman-temannya Raka juga tau Oti sangat memerhatikan orang lain, walaupun orang tersebut jelas-jelas membencinya. Hal itu yang membuat Raka diam-diam mulai mengagumi Oti, lebih dari sekadar adik.
__ADS_1
Apa gue mulai jatuh cinta sama dia? batin Raka. Dia terus memandangi wajah Oti yang terbaring di hadapnnya.
Raka melihat wajah Oti yang memancarkan kecantikkan yang belum pernah dilihatnya selama ini. Sekilas emang wajah Oti emang kalah cantik dari Ajeng yang nenurut banyak orang bagaikan bidadari.
Tapi ada sesuatu pada wajah Oti yang gak dimiliki Ajeng. Sesuatu yang memikat Raka. Mungkin inilah yang disebut "inner beauty". Kecantikan yang memancar dari dalam, dari hati yang bersih. Mungkin itulah sebabnya Oti bisa menang dalam pemilihan Putri SMA Se-Indonesia kemarin, mengalahkan para peserta lain yang wajah dan bentuk tubuhnya berada di atasnya.
Tapi Raka gak bisa mengelak selama inj dirinya merasa nyaman jika berada di dekat Oti. Sebetulnya Oti enak diajak bicara, dan bertukar pikiran. Beda dengan Ajeng. Malah kadang Raka merasa dia bisa dekat dengan Ajeng hanya karena adik Ajeng mengaguminya sebagai penyiar Qly. Ajeng sangat memerhatikan adiknya itu, dan kurang memerhatikan Raka. Walau begitu Raka juga gak menyalahkan sikap Ajeng yang begitu sayang pada adiknya.
Secara spontan tangan kanan Raka mengusap kening Oti, menyibak rambut yang sebagian menutupi kening cewek itu. Aneh, Oti gak terbangun karena gerakan tangan Raka. Dia benar-benar terlelap.
__ADS_1
Bagaimana kalau ada orang jahat masuk ke kamarnya? Entah kekuatan apa yang mendorongnya, Raka membungkuk, dan mencium kening Oti yang putih bersih. Raka mencium kening adiknya dengan penuh kasih sayang.
Selamat malam, Ot," Ujar Raka lirih.
Oti tetap diam, masih tertidur. Raka kemudian berbalik dan melangakah meninggalkan kamar VIP tersebut, dan tidak lupa menutup pintunya.
Sepeninggal Raka, perlahan mata Oti terbuka. Cewek itu ternyata udah bangun. Sejenak Oti terdiam memandang ke arah pintu kamarnya.
"Selamat malam juga, Kak Raka...," ujar Oti lirih. Senyum mengembang di bibirnya yang mungil.
__ADS_1