
"Laras nggak salah!!! Kenapa dia harus dibawa ke ruang eksekusi.!?"
Sebuah sura terdengar di antara kerumunan orang. Oti menyeruak di antara kerumunan, dan berdiri di samping Laras, memandang tajam ke arah Revi.
"Bukan Laras yang salah" Oti mengulangi ucapannya.
"Apa maksud lo!? Berani banget lo ikut campur!!"bentak Revi.
"Laras jatuh karena ada yang ngejegal kakinya"jawab Oti berusaha tenang, meski sebetulnya kepalanya udah panas melihat cara Revi memperlakukan Laras.
Dia nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Laras jika cewek itu sampai masuk ruang eksekusi bersama empat panitia cewek yang tadi sengaja menjegalnya.
"Mejegal kakinya? Maksud lo kita-kita sengaja ngejegal dia!!?"
"Kalian sendiri yang berkata begitu" Revi tergagap karena terjebak perkataannya sendiri.
"Enak aja lo nuduh!!? Buat apa kita-kita ngejegal dia? Lo liat sendiri gue kena tumpahan kopi!!"
"Nggak tau ya... tapi yang jelas saya melihat sendiri kakak ini melintangkan kakinya saat Laras lewat" Oti menunjuk Rina, teman Revi yang berambut pendek.
Kontan aja Rina melotot.
"Enak aja lo nuduh gue!!"
Selesai berkata, tangan kanannya melayang hendak menampar Oti. Tapi Oti mendahului dengan menangkap tangan Rina.
"Lo berani ngelawan panitia!!"bentak Rina lagi.
"Kalo nggak salah kenapa harus takut!!? Lagian saya nggak ngelawan panitia, tapi ngelawan segelintir orang yang mengatasnamakan panitia MOS untuk kepentingan pribadi...!!" Jawab Oti nggak kalah membentak. Dia nggak bisa menahan diri lagi.
Suara Oti yang keras membuat anak baru lainnya yang tadinya nggak berani mendekat jadi maju mendekati tempat kejadian.
__ADS_1
Rina berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Oti. Dia mempergunakan tangan kirinya untuk membantu tangan kanannya, tapi sia-sia. Bahkan Oti memakai jarinya untuk menekan urat nadi Rina, sehingga Rina menjerit kesakitan.
"Udah, udah... cukup!" Bowo kembali maju menengahi.
"Victory! Lepaskan!"
Oti menuruti kata-kata Bowo. Dia melepaskan cengkraman tangan kirinya. Rina mundur sambil memegangi tangan kanannya yang masih kesakitan. Tampak bekas merah di sekitar pangkal urat nadinya.
Revi hendak maju, tapi ditahan Bowo yang berbadan besar.
"Revi cukup! Jangan bikin keributan!" Seru Bowo. Matanya memandang ke arah ruang guru. Beberapa orang guru yang mendengar seperti ada suara ribut-ribut mulai keluar dan memandang ke arah tempar itu.
"Tapi dia berani ngelawan panitia!! Dia harus di keluarin dari acara MOS!!"
"Benar ucapanmu itu?"tanya Bowo pada Oti.
"Yang mana, kak?"
"Bahwa kau melihat kehadian sesungguhnya?"
Oti mengangguk.
"Laras? Kamu merasa dijegal?"
Laras nggak menjawab. Dia hanya menunduk sambil menahan isak tangisnya.
"Udah jelas anak itu boong!!"sentak Rina.
__ADS_1
Bowo menoleh ke arah Rina.
"Gue bilang cukup! Hormati gue sebagai seksi keamanan!" Kali ini suara Bowo agak keras. Rina dan teman-temannya langsung terdiam.
Bowo melihat jam tangannya.
"Waktu istirahat udah hampir habis! Sebaiknya kita selesaikan masalah ini di posko! Peserta yang lain cepat kembali ke kelas masing-masing, demikian juga panitia kembali bertugas! Kami minta beberapa sularelawan peserta untuk membersihkan pecahan gelas dan tumpahan kopi! Victory dan Laras, ikut ke posko!" akhirnya Bowo mengambil keputusan.
Kerumuman itu pun membubarkan diri. Oti merangkul Laras yang masih tertunduk. Dia melihat baju Laras yang terkena tumpahan kopi, dan lutut seta telapak tangannya berdarah.
"Kak!"
Bowo yang berjalan di depan menoleh ke belakang.
"Ada apa?"
"Boleh minta waktu untuk membersihkan baju Laras dan mengobati lukanya?"
Bowo melihat ke sekujur tubuh Laras.
"Baiklah, lima belas menit cukup?"
Oti mengangguk.
"Wi..." Bowo memanggil seseorang.
Salah satu anggota P3K bernama Dewi mendekat.
"Dia butuh obat" katanya pada Dewi.
"Dia akan mengawasi kalian. Jangan curi-curi kesempatan. Setelah selesai, kami tunggu di posko" kata Bowo pada Oti dan Laras.
__ADS_1
"Baik, kak..."