Victory

Victory
Bab 28


__ADS_3

Malam ini Oti diajak Ticka ke diskotic. Kebetulan Ticka dapat beberapa freepass di Fame, diskotic yang cukup terkenal di Bandung. Freepass itu dari kakaknya.


Mulanya Oti, juga Laras gak mau, karena mereka berdua belum pernah ke diskotic. Beda dengan Ticka yang pernah clubbing, istilah untuk bagi orang yang suka pergi ke diskotic, walupun cuman sekali bareng kakaknya. Mereka takut akan ngerasa canggung di sana. Tapi Ticka maksa. Biar lo berdua tau kehidupan clubbing dari dekat! Begitu alasan Ticka. Ticka janji kalo nggk betah, mereka akan langsung pulang. Terpaksa Oti dan Laras mengikuti kemauan Ticka. Terutama Oti.


Daripada malam minggu bengong di rumah! batin Oti.


Raka pasti kencan dengan Ajeng, juga Ai. Adiknya biar alim dan masih kelas dua SMP, ternyata udah punya gebetan juga, yaitu teman sekelasnya yang juga alim dan selalu menempati rangkin pertama di kelas.


Jadi daripada harus jadi satpam di rumah sendirian, mending keluar. Sebetulnya Bayu pun berulang kali ngajak Oti keluar. Tapi Oti lagi males bicara dengan Bayu. Dia pernah ngeliat Bayu ngomong berdua Revi sepulang sekolah, tapi cowok itu selalu ngelak kalo ditanya. Oti merasa Bayu menyembunyikan sesuatu darinya, dan dia akan bicara dengan Bayu sebelum cowok itu mengatakan yang sebenarnya.


Ticka membawa Honda City milik kakaknya. Nekat juga tuh anak, padahal dia kan belum punya SIM. Tapi Ticka punya kiat khusus kalo ntar dicegat polisi di jalan. Cukup pamerin senyum Pepsodent dan selipin duit goban, biasanya urusan beres. Polisi gak akan tega nilang makhluk-makhluk manis kayak kita! begitu kata Ticka.


Mereka berangkat jam tujuh malam dari rumah Laras, setelah minta izin untuk dia. Khusus untuk Laras, izin keluar malam dari neneknya emang rada susah. Untung aja nenek Laras udah kenal Oti dan Ticka, hingga membolehkan Laras keluar malam, itu pun dengan alasan pergi ke teman yang ulang tahun. Kalo tau mereka bertiga akan ke diskotic, wah... Jangan harap dapat izin bakal keluar.

__ADS_1


Karena masih jam tujuh, mereka muter-muter Bandung dahulu sebelum menuju Fame. Sempat mampir ke Lembang untuk makan Jagung Bakar, sambil ngecengin cowok-cowok dari Jakarta yang kebetulan lagi weekend di Bandung.


Pukul setengah puluh malam, baru mobil yang dikemudikan Ticka memasuki pelataran parkir Fame. Walaupun udah malam, tapi pelataran parkir yang terletak di basement itu penuh mobil, hingga Ticka harus berkeliling dahulu untuk mencari tempat yang kosong.


"Di situ, Tick," Oti menunjuk salah satu tempat kosong. Ticka menjalankan mobilnya ke arah yang ditunjuk Oti. Oti menoleh ke jok belakang. Ternyata Laras udah tidur, damai di alam mimpinya. Payah juga tuh anak! Jam segini udah tidur, gimana mau clubbing? Tiba-tiba terdengar suara Ticka.


"Itu bukannya Revi?"


Nggak jauh dari tempat mereka, tampak Revi dan para anggota Fiesta, bersama lima cowok yang rata-rata berbadan besar.


Nggak lama kemudian terlihat Revi menampar cowok yang sedang bicara dengannya. Tampran itu dibalas si cowok dengan memegang lengan Revi, dan menariknya ke dalam mobil di dekat mereka yang pintunya sudah terbuka.


Hal itu diikuti cowok yang lain, yang menarik anggota Fiesta lainnya ke dalam mobil lain yang berdekatan.

__ADS_1


Jeritan Revi dan teman-temannya menggema ke seluruh pelataran parkir. Tapi gak ada yang mendengar, karena tempat itu memang sepi. Kelima cowok tadi sibuk menutup mulut keempat cewek yang dipegangnya agar gak berteriak, sambil terus memaksa mereka masuk mobil.


Oti merasa ada sesuatu yang nggak beres. Tangannya bergerak hendak membuka pintu mobil.


"Tick! Lo hubungin satpam di depan. Gue mau nolongin Revi. Kayaknya ada apa-apa," perintah Oti pada Ticka.


"Tapi, Ot! Kita kan nggak tau masalahnya!"


"Tau atau nggak, yang gue liat saat ini Revi butuh pertolongan. Udah! Cepet sana!"


"Lo sendiri?" tanya Ticka khawatir.


"Jangan pikirin gue. Makanya lo cepet hubungin satpam!"

__ADS_1


Oti segera berlari ke arah Revi, sementara Ticka memutar mobilnya. Gerakan Ticka yang tiba-tiba membuat Laras terbangun.


"Ada apa sih?" tanya Laras sambil mengucek matanya. Belum sempat mendapat jawaban, tubuhnya udah kebanting ke jok karena gerakan memutar mobil Ticka yang tiba-tiba.


__ADS_2