Victory

Victory
Bab 41


__ADS_3

"Oti, boleh Mama masuk?"


Ngga ada jawaban. Mama Oti membuka pintu kamar Oti yang ternyata tidak terkunci. Tampak anaknya sedang telungkup di tempat tidurnya sambil menangis.


"Oti..." Wanita setengah baya itu mengusap rambut anaknya.


"Kenapa, Ma? Kenapa Papa begitu marah? Papa belum pernah mukul Oti, sebesar apa pun kesalahan Oti," kata Oti sela-sela tangisnya.


"Mungkin Papa begitu shock mendengar kamu pacaran dengan Raka. Kamu tau kan sifat Papamu yang gampang marah...," jawab mamanya menghibur.


"Iya, tapi kenapa Papa marah? Padahal kali ini Oti ngga ngelakuin kesalahan apa pun. Juga Raka. Bukankah wajar kalo wanita dan pria saling mencintai?"


"Iya, tapi..."


"Tapi apa? Apa karena Raka kakak tiri Oti? Bukankah kami nggak punya hubungan darah? Itu nggak dilarang agama, kan?" cecar Oti.


Tidak ada jawaban dari mamanya. Wanita setengah baya itu hanya memandang Oti dengan tatapan kosong.


"Ma?" Oti heran karena ngga ada respons dari mamanya. dia segera membalikkan badan, menghadap mamanya.


"Kami ngga punya hubungan darah, kan?" tanya Oti kembali. Tapi pandangan mata mamanya ngga berubah, seolah ada sesuatu yang berkecamuk dalam pikirannya.


"Ma!" kali ini dengan suara agak keras Oti memanggil mamanya. Suaranya ternyata cukup membuat mamanya tersadar dari lamunannya.


"Iya... ada apa, sayang?" tanya mamanya.


"Mama kenapa? Mama mikirin sesuatu?" desak Oti.


"Nggak. Mama nggak mikirin apa-apa.Kamu tanya apa tadi?"


"Oti ngga punya hubungan darah dengan Raka, kan?"

__ADS_1


Sebagai jawaban, mama memeluk anaknya.


"Tentu aja ngga, sayang. Kamu anak kandung Mama dan Papa Ardi...," jawab wanita itu lirih.


Tanpa sepengetahuan Oti, air mata mamanya menetes.


"Mama nangis?" tanya Oti.


"Ngga apa-apa, Mama hanya teringat almarhum papamu,"


Papa kandung Oti meninggal saat Oti masih bayi, karena sakit.


"Dengar Oti... mungkin papa kamu tidak bisa menerima hubungan cinta antar-anggota keluarga. Walau kalian tidak punya hubungan darah, tapi kalian telah jadi satu keluarga. Bagi kita, orang Timur, hubungan seperti itu sangat tidak lazim. Kau harus mengerti. Selain itu, walaupun tidak di larang agama, tapi hubungan seperti kalian juga sebaiknya tidak dilakukan," lanjut mamanya. Oti hanya terdiam mendengar kata-kata mamanya.


"Oti, besok temani Mama ziarah ke makam Papa Ardi di jakarta, ya? Sejak dari London Mama belum sempat, karena lansung ke sini. Mau, kan? Sesudah itu kita mengunjungi Nenel di Bogor. Mungkin kita akan menginap di rumah Nenek. Senin kamu nggak ada ulangan, kan?" tanya mamanya.


"Dengan Papa?" tanya Oti.


"Tapi Oti nggak mau berpisah dengan Raka," kata Oti.


"Kamu sangat mencintai dia?" tanya mamanya.


Oti mengangguk.


"Oti ngga bisa berpisah dari dia, begitu juga Raka. Kami saling mencintai. Sudah banyak halangan dan rintangan yang kami lalui agar cinta kami bisa bersatu. Nggak mungkin itu bisa dihancurkan dalam sekejap," kata Oti panjang-lebar.


Mama Oti memandang anaknya sekilas, seperti menyimpan pertanyaan. "Oti kamu dengan Raka tidak..."


"Soal itu Mama jangan khawatir. Kami masih tau mana yang boleh dilakukan dan mana yang nggak. Oti ngga akan membuat malu nama keluarga. Percayalah," kata Oti tegas.


"Mama tau. Mama percaya padamu. Sejak kecil, walau nakal, tapi kamu nggak pernah melakukan hal-hal yang membuat malu mama."

__ADS_1


"Kalo Mama sendiri, apakah setuju dengan hubungan kami?"


Tante Heni tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya. Dia terdiam sejenak.


"Raka anak yang baik. Pada dasarnya Mama pun menyukai dia. Mam yakin dia bisa menjaga dan melidungi kamu."


"Jadi Mama setuju?" tanya Oti.


"Saat ini bukan masalah Mam setuju atau nggak, tapi kepentingan keluarga ini yang utama. Dan Papamu bertindak berdasarkan pikiran semacam itu."


"Apa Mama bisa mengubah pikiran Papa untuk menyetujui hubungan kami? Hubungan Oti dengan Raka benar-benar tulus, atas dasar cinta. Kami telah berjanji merawat hubungan kami ini sebaik-baiknya," kata Oti.


Mama menghela napas mendengar permintaan anaknya.


"Ma..."


"Mama ngga bisa janji, tapi Mama akan bicara dengan Papa. Kamu tau kan sifat Papa. Nggak mudah mengubah pendiriannya," kata Mama.


"Makasih, Ma..." Oti memeluk mamanya.


"Oti sebetulnya juga sayang sama Papa seperti Papa kandung Oti sendiri. Oti hanya ngga bisa menerima sikap Papa yang ngga menyetujui hubungan kami, tanpa alasan yang kuat."


Mamanya mengelus punggung Oti dengan penuh kasih sayang.


"Satu lagi Ma, Oti nggak pengin pindah ke London. Bukan karena Raka, tapi karena Oti senang sekolah di sini. Di sini Oti mendapat suasana sekolah dan teman-teman baru yang menyenangkan. Oti ngga bisa ninggalin semua itu," kata Oti.


"Nanti di London kamu juga akan mendapat kawab kawan baru. Banyak juga orang Indonesia yang sekolah di sana," kata mamanya menenangkan.


"Oti ngga mau. Pokoknya Oti tetap pengin sekolah di sini. Mama mau ngomong soal itu dengan Papa, kan?" tanya Oti.


"Baiklah, Mama akan coba bicarakan dengan Papa."

__ADS_1


"Thanks, Ma..."


__ADS_2