
Untung peluru yang menembus perut Oti nggam masuk terlalu dalam, hingga tidak membahayakan jiwanya. Setelah peluru itu diangkat, Oti harus nginap beberapa hari di rumah sakit. Ketika Oti pertama kali sadar, Laras dan Ticka kompak menangis tersedu-sedu di samping tempat tidurnya. Sedangakan Ai terisak di pelukan Raka.
"Kapan gue bisa keluar?" tanya Oti. Saat itu Raka baru tiba di kamar tempatnya dirawat.
"Kata dokter, tunggu sampai luka lo kering, dan gak ada efek samping. Mungkin sekitar dua hari lagi. Kenapa? Udah gak betah?" goda Raka. Oti mengangguk.
"Gue kan udah gak apa-apa. Udah sehat kok!"
"Jangan keras kepala. Peluru yang masuk ke perut lo hampir kena hati. Dokter harus memastikan gak ada efek sampingnya, baru lo boleh pulang."
Raka menawarkan apel merah dari kantong plastik hitam yang dibawanya.
"Mau?"
Oti mengambil sebuah apel kecil.
"Lo gak siaran?" tanyanya.
"Gue udah minta izin gak siaran dulu buat ngurusin lo. Kalo bukan gue, siapa lagi yang ngurusin lo? Ai sibuk sama kegiatan sekolahnya," jawab Raka sambil ikut mengunyah apel yang dibawanya sendiri.
"Gue jadi repotin lo...," gumam Oti.
"Basa-basi nih?" tanya Raka.
Oti tersenyum manis. Raka duduk di samping tempat tidur Oti.
"Papa sama Mama gak tau, kan?" tanya Oti.
"Sesuai pesan lo. Kalo tau, mereka mungkin sudah ada di sini," jawab Raka.
"Bagus. Papa pasti marahib gue kalo tau. Dan pasti lo juga kebagian."
Raka mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan adiknya.
"Tapi, ngomong-ngomong kenapa gue ditempatin di VIP sih? Lo sanggup bayarnya? Duit dari mana kalo bukan dari Papa?" tanya Oti kemudian. Raka tercenung sejenak.
"Soal itu lo gak perlu khawatir. Teman lo yang minta lo dirawat di sini. Dia juga yang nanggung semua biaya perawatan lo sampai lo sembuh," kata Raka.
Teman? Siapa? tanya Oti dalam hati. Laras? Atau Ticka? Atau mungkin Bayu?
"Siapa?"
Raka hanya mengangkat kedua tangannya.
"Sori, gue dipesen gak boleh bilang."
"Laras? Ticka?"
"Ntar lo pasti tau. Orangnya ada di depan kamar kok! Tadi kami ketemy di bawah. Buah-buahan ini kan dari dia juga. Dia tanya boleh gak jenguk lo?"
Oti tambah heran mendengar ucapan Raka.
"Ya boleh dong. Siapa sih? Bayu?" tebak Oti. Dia menduga Bayu mungkin merasa dia masih marah, sehingga gak berani masuk.
Raka hanya tersenyum, kemudian beranjak menuju pintu kamar. Nggak lama kemudian, di balik pintu muncul sosok tubuh seorang cewek bertubuh tinggi langsing dan berambut panjang kemerahan. Cewek itu menunduk. Oti nggak percaya melihat siapa yang datang.
"Revi?" ujar Oti nggak percaya.
Revi yang saat itu memakai kaus putih dan celana panjang hitam menengadah. Dia masih nggak beranjak dari pintu.
"Ayo, masuk aja. Oti udah jinak kok!" goda Raka. Revi tersenum kecil, kemudian melangkah pelan menuju tempat tidur Oti.
"Hai...," sapa Revi pelan. Oti tersenyum.
"Kamu nggak apa-apa kan, Rev?" tanya Oti. Aneh, seharusnya Revi yang nanya hal itu ke Oti.
"Nggak. Kamu?"
"Hmmm... masih ngilu sedikit sih di perut. Tapi kata dokter udah gak papa kok Paling beberapa hari lagi udah boleh pulang," kata Oti.
Revi hendak menyatakan sesuatu, tapi seperti ada sesuatu yang menahannya.Cewek itu melirik ke arah Raka yang duduk didekatnya. Oti mengerti ap yang dipikirkan Revi. Dia memberi isyarat pada Raka. Dan Raka mengerti.
"Ot, gue mau cari makab dulu. Laper nih! Lo mau pesen apa? Batagor?" kata Raka sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Emang boleh?" tanta Oti.
"Asal gak ketauan dokter!" jawab Raka iseng.
"Sialan. Ntar gue gak sembuh-sembuh. Titip salam aja deh buat penjualnya."
Raka hanya terkekeh, kemudian pergi meninggalkan kamar, meninggalkan Revi dan Oti berdua.
"Duduk, Rev," kata Oti. Revi duduk pada kursi di dekatnya. Tapi dia tetap diam.
__ADS_1
"Kamu yang membiayai semua perawatan Oti?" tanya Oti. Walau hal itu diarasanya kurang etis, tapi Oti nggak punya bahan lain untuk membuka percakapan. Revi hanya mengangguk pelan.
"Kenapa?"
"Kamu nggak suka? Hanya ini yang dapat Revi lakukan untuk orang yang udah menyelamatkan jiwa Revi," jawab Revi pendek. Nggak kayak biasanya. Baik Revi maupun Oti kali ini nggak menggunakan kata-kata lo-gue. Bahasanya mereka pun terdengar lebih halus. Mungkin baru pertama kali ini mereka dapat berbincang dalam suasana yang lain, suasana gak bermusuhan.
"Bukan gitu. Tapi... ini terlalu berebihan Tapu biar bagaimanapun, thanks ya! Juga atas kiriman buah-buahannya," kata Oti.
"Trus, gimana kabar orang yang berantem sama kamu kemarin?" tanya Oti kemudian.
"Riki? Dia dan teman-temannya langsung ditangkap, dan sekarang dalam tahanan polisi," kata Revi.
"Oya? Kalo boleh tau, kenapa kamu beranten sama preman-preman kayak dia?" tanya Oti.
Revi hanya tertunduk mendengar pertanyaan Oti. Dia udah nyangka Oti akan nanya soal itu. Dan sampai sekarang Revi belum menemukan cara yang tepat untuk menjawabnya.
Tanpa diduga Revi memeluk Oti sambil menangis tersedu-sedu.
"Maafin Revi, Ot. Karena Revi, kamu jadi begini."
Oti yang nggak nyangka Revi akan melakukan hal kayak gitu menjadi gelagapan. Ia menepuk punggung Revi.
"Udahlah... Lagian kamu kan temen Oti. Masa Oti diam aja ngeliat kamu dalam kesulita," hibur Oti. Revi melepaskan pelukannya.
"Bener kamu menganggap Revi teman? Setelah apa yang Revi lakukan pada kamu? Bukankah kamu membenci Revi?" tanya Revi gak percaya.
Oti menggeleng. "Nggak. Oti gak membenci kamu. Bagaimanapun kamu temen sekolah Oti. Kaka kelas Oti."
"Kamu? Padahal Revi selalu nggak 'nganggep' kamu," kata Revi malu.
"Kamu salah. Justru kamu yang paling 'nganggap' Oti," sahut Oti tegas.
"Maksud kamu?"
"Walau kita selalu berantem. Itu berarti kamu 'nganggep' Oti ada,' Oti menjelaskan.
"Kamu bisa aja" sekarang Revi tersenyum mendengar ucapan Oti.
"Jadi kamu bener-bener nggak dendam sama Revi?"
"Nggak sama sekali. Oti malah mau minta maaf, karena udah mempermalukan kamu di malam pemilihan Putri SMA," kata Oti.
"Soal itu jangan dibahas lagi. Lagi pula, Revi punya rencana untuk melepaskan gelar itu juga. Kayak kamu."
"Itu dulu. Tapi sekarang nggak lagi. Sekarang Revi sadar. Ada hal yang lebih penting daripada sekedar mengejar gelar kontes seperti itu. Ada yang lebin penting daripada sekadar jadi sanjungan banyak orang atas kelebihan yang kita miliki," kata Revi panjang lebar.
Sejenak Oti terenyak mendengar ucapan Revi. Angin apa yang membuat cewek kaya Revi dapat berubah? Apa karena peristiwa itu?
"Terima kasih, karena kamu udah menunjukkan pada Revi, bahwa ada yang lebih penting daripada itu semua, yaitu persahabatan dan rasa peduli pada orang lain. Revi emang memiliki sahabat, tapi gak peduli pada orang lain. Revi belum pernah lihat orang kayak kamu,bersedia menyelamatkan nyawa orang lain, walaupun harus mengorbankan nyawanya sendiri. Apalagi orang itu adalah musuh kamu."
Secara gak sadar wajah Oti memerah. Apa yang diucapkan Revi dirasanya berlebihan. Dia sendiri merasa waktu itu sekedar bergerak secara refleks.
"Kamu ikut pemilihan Putri SMA karena ingin membela temen-temen kamu. Peduli pada orang lain, walaupun secara pribadi sebetulnya kamu benci hal-hal kayak gitu. Justru hal itu yang memberikan semangat untuk kamu, dan membuat kamu bisa jadi juara," ujar Revi lagi.
Revi mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Ternyata mahkota Putri SMA yang terbuat dari perak.
"Ini. Rasanya mahkota ini lebih pantas untuk kamu. Kamulah Putri SMA yang sesungguhnya."
"Revi... apa-apaan sih? Kamu pengin ngembaliin gelar Putri SMA ke Oti? Bukannya Oti udah ngelepasin gelar ini?" tanya Oti agak panik.
"Revi tau. Cuman Revi ingin melihat mahkota ini berada di kepala putri yang sesungguhnya, untuk tarakhir kalinya. Besok Revi akan menyerahkan mahkota dan tongkat Putri SMA pada panitia. Kamu nggak keberatan, kan?"
Oti terpaksa membiarkan Revi memasang mahkota perak itu di kepalanya.
"Sayang. Revi nggak bisa bawa tongkatnya. Kepanjangan," ujar Revi.
"Ntar kalo ketauan panitia atau wartawan kamu bisa repot," kata Oti.
"Biar aja."
Beberapa saat lamanya Revi memandangi wajah Oti, membuat Oti menjadi sedikit salah tingkah.
"Ternyata bener apa yang dibilang orang-orang. Kamu memiliki aura kecantikan yang tersembunyi. Kalo aura kecantikan itu keluar, nggak akan ada yang dapat memandanginya," puji Revi.
"Udah ah, jangan muji terus! Oti kan jadi malu."
Oti melepas mahkota perak itu dari kepalanya, dan memberikannya pada Revi.
"Rev, kamu mau kan jadi teman Oti?" tanya Oti kemudian. Revi tercengang mendengar pertanyaan Oti.
"Justru Revi ingin mengajukkan pertanyaan yang sama. Kamj mau berteman dengan Revi?"
"Tentu aja. Siapa yang gak mau berteman dengan anggota Fiesta," jawab Oti sambil tersenyum.
__ADS_1
"Fiesta udah bubar," ujar Revi.
"Bubar? Kenapa?"
"Itu masa lalu. Sekarang gak ada lagi Fiesta, yang suka melakukan hal-hal yang gak berguna," kata Revi.
"Lalu gimana dengan Rina, Wida, dan Amy? Bagaimana dengan persahabatan kalian?"
"Mereka pasti akan ngerti. Jangan khawatir. Iti urusan Revi."
Tangan Oti memegang lengan Revi.
"Rev, gak selamanya perubahan itu harus berlangsung secara drastis, dan dalam waktu yang singkat," kata Oti.
"Maksud kamu?"
"Kamu gak perlu bubarin Fiesta. Gak perlu ngerusak persahabatan kamu dengan Amy, Wida, ataupun Rina. Mereka juga sebetulnya sahabat yang baik. Selalu bersama kamu. Hanya saja persahabatan kalian dulu dilalui dengan cara yang salah. Kalo boleh Oti saranin, kamu tetap sebagai Revi yang dulu. Yang perlu dihilangkan hanya sifat kamu yang egois, bertindak sewenang-wenang, atau sifat jelek kamu yang merugikan orang lain. Jika semua itu kamu lakukan, percayalah, orang akan menyukai kamu, walau kamu senang jalan-jalan, ke diskotik, dan lain sebagainya. Oti masih ingat ucapan kamu saat di pemilihan. Ucapan kamu tentang kehidupan. Apa kata-kata itu keluar dari hati kamu?" kata Oti panjang-lebar.
"Tentu aja. Itu kata-kata Revi sendiri," ujar Revi tegas.
"Itu baru menunjukkan siapa diri kamu sebenarnya. Revi yang menghargai kehidupan. Oti sampai nggak percaya ngedenger ucapan kamu," kata Oti.
"Thanks. Tapi ternyata itu gak bisa mengalahkan apa yang kamu katakan tentang cinta," balas Revi sambil tersenyum.
"Tapi itu bener-bener kata-kata kamu, kan?" tanya Revi. Kali ini Oti hanya tersenyum mendengar pertanyaan Revi.
"Lagi pula, kalo kamu berubah, siapa yang mau ngajarin Oti clubbing? Oti kan pengin sekali-kali masuk diskotik. Kemarin hampir aja, kalo gak ada kejadian itu. Tapi kamu gak usah merasa bersalah. Oti gak nyesel kok. Kan lain kali bisa clubbing sama kamu," lanjut Oti.
Pembicaraan mereka terhenti ketika ada yang mengetuk pintu kamar. Ternyata Ticka dan Laras.
"Hai...," sapa Oti melihat kedatangan mereka. Revi menoleh ke arah pintu. Mukanya langsung berubah melihat siapa yang datang. Demikian juga Laras dan Ticka. Laras malah langsung sembunyi di belakang Ticka. Rupanya anak itu masih trauma sama peristiwa pas MOS dulu.
"Ngapain dia ada di sini?" tanya Ticka dengan ekspresi wajah nggak senang. Mendengar ucapan Ticka, Revi bangkit dari kursinya.
"Ot, Revi pulang dulu ya...," ujar Revi. Tapi tangan kiri Oti segera memegang tangan kanan Revi.
"Kamu tetap di sini, Rev," pinta Oti.
"Oti!" protes Ticka.
"Kalo kamu mau jadi teman Oti, kamu harus mau juga jadi teman Ticka dan Laras. Juga sebaliknya."
"Oti? Lo kemasukan apa sih? Lo gak ingat apa yang pernah dia lakuin terhadap kamu, terhadap Laras, atau juga teman-teman kita yang lain?" kata Ticka.
"Ticka, udah saatnya kita mengakhiri semua ini. Nggak ada gunanya kita bermusuhan. Apalagi kita semua satu sekolah," ujar Oti tenang, "...dan gue rasa ini mungkin saat yang tepat untuk memulainya. Revi sudah minta maaf, dan berjanji akan mengubah sikapnya selama ini," lanjutnya.
"Dan lo percaya?" tanya Ticka sinis.
"Soal itu kita liat nanti. Bukan begitu, Ras?" tanya Oti.
Laras yang ditanya melirik ke arah Ticka, kemudian Revi.
"Ras, gimana?" tanya Ticka.
"Enggg... kalo menurut Laras sih Oti bener. Buat apa kita cari musuh? Lebih baik cari temen. Selama ini kita selalu gak tenang kalo di sekolah. Mungkin dengan ini kita bisa menjadi lebih tenang dan konsentrasi untuk belajar," jawab Laras mencoba tenang. Padahal jantungnya masih dag dig dug.
"Lo ngomong apa sih? Kok malah ikut-ikutan Oti?" tanya Ticka sebal.
"Jadi, kalian mau kan maafin Revi, dan bersikap baik sama dia?" tanya Oti.
Nggak ada yang menjawab. Ticka dan Laras cuman berpandangan.
"Laras? Ticka? Kok diem sih?" tanya Oti lagi.
Akhirnya Laras yang pertama berbicara.
"Bagi Laras sih nggak ada masalah..."
"Kamu mau maafin perbuatan Revi ke kamu dulu? Terutama saat MOS?" tanya Oti lagi.
Laras mengangguk. "Laras udah ngelupain hal itu. Malah karena peristiwa itu Laras jadi dapet temen kayak Oti dan Ticka. Laras gak nyesel pernah ngalamin kejadian itu."
"Makasih, Ras," ujar Revi lirih.
"Gimana kamu, Tick?" tanya Oti lagi.
"Hmmm... baiklah. Asal dia bener-bener nggak ngulangin sikapnya yang dulu," jawab Ticka akhirnya.
"Nah... gitu dong. Jadi nggak sia-sia kan Oti masuk rumah sakit. Sekarang pelukan dong. Oti mau liat," kata Oti santai.
"Oti!" sergah Ticka dan Laras berbarengan.
"Ayo... masa sama temen sikapnya masih jauh-jauhan gitu...," kata Oti lagi.
__ADS_1
Dan Oti tersenyum lebar melihat Revi akhirnya berpelukan dengan Ticka dan Laras sambil meminta maaf. Suatu hal yang nggak pernah diimpikannya selama ini.