Victory

Victory
Bab 15


__ADS_3

Pagi-pagi kelas XII IPA 1 udah heboh karena Ajeng lewat di depan kelas. Nggak cuman itu. Ajeng bahkan berhenti di depan pintu kelas.


"Cari siapa, Jeng?" tanya Husni, yang pagi-pagi udah siap mejeng di depan kelas dengan rambut mengilap dan dibentuk ke atas. Kesannya biar mirip sama gaya Mohawk-nya David Beckham yang sempat beken itu. (Walau kalau diliat lagi dengan saksama, lebih mirip tikus kecebur got...😂😂😂)


"Raka ada?"


"Raka? Kok nyari dia? Mending ama gue aja... Dia belum datang tuh"


"Ada apa, Jeng?"


Raka tau-tau udah ada di belakang Ajeng. Dia baru dateng, masih menggendong tas sekolahnya.


Melihat kedatangan Raka, Husni mengangkat tangannya lalu masuk ke kelas. Malu berat dia.


"Hai. Ajeng pengin ngomong sebentar. Bisa?"


Raka mengangguk. Kemudian mereka berdua berjalan menjauh dari pintu kelas. Menghindari tatapan mata "BUAYA" para cowok kelas XII IPA 1 lainnya yang udah siap-siap mengintai


"Makasih kamu udah nemenin Ajeng di acara kemaren, dan bikin Ayu gembira," kata Ajeng membuka percakapan. Raka hanya mengangguk mendengar ucapan cewek itu.


"Kamu ke sini cuman mau ngomong itu?"


"Bukan. Ini sebenarnya pesan Ayu. Ayu ngundang kamu datang ke rumah, dia pengin masak spesial buat kamu." Ajeng emang pernah cerita adiknya itu pintar masak, bahkan lebih pintar dari dirinya.


"Kapan?" tanya Raka.


"Kapan aja kamu ada waktu. Nanti Ajeng kasih tau Ayu," kata Ajeng.


Raka menggigit bibir bawahnya, seolah-olah memikirkan sesuatu.


"Gimana? Kamu bisa? Ayu sangat mengharapkan kedatangan kamu. Ajeng ngga punya nomor telepon kamu, jadinya harus langsung nemuin kamu," ujar Ajeng seolah memohon.


Raka menatap mata Ajeng. Dia ngga tega melihat sorot mata cewek berambut panjang itu.

__ADS_1


"Baiklah, gimana kalo besok siang sepulang sekolah?" kata Raka.


"Besok?" tanya Ajeng.


"Iya. Kamu ngga bisa?" tanya Raka.


Ajeng terdiam sejenak. "Bisa kok," ujar cewek itu akhirnya.


"Mana alamat rumah kamu?" Raka mengeluarkan secarik kertas dari tas sekolahnya dan memberikannya pada Ajeng yang kemudian menuliskan alamat rumahnya, lengkap dengan nomor teleponnya.


"Kalo mau datang, telepon dulu," kata cewek itu sambil menyerahkan alamatnya pada Raka. Raka mengangguk.


-------------------------------------------------


Setelah Ajeng pergi dan Raka kembali pada teman-temannya, kerusahan kecil terjadi di kelas. Kali ini Raka yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari teman-temannya.


"Gila, Ka, kapan lo kenal sama Ajeng?"


"Apaan sih yang kalian omongin!?"


"Janjian ya?"


Menanggapi derasnya pertanyaan yang ditujukan padanya, Raka cuman nyengir.


"Iya. Gue janji kencan sama Ajeng," jawab Raka kalem sambil menunjukkan secarik kertas yang berisi alamat rumah Ajeng, yang kontan jadi rebutan yang lain, kalo Raka ngga buru-buru masukkin ke kantong celanannya.


-----------------------------


Keluarga Ajeng ternyata menerima kehadiran Raka secara terbuka. Kebetulan ibu Ajeng sedang ada di rumah. Wanita itu menyambut kehadiran Raka dengan ramah, sehingga cowok itu merasa betah, apalagi Ajeng yang cantik seperti bidadari ( nggak jelas apa Raka udah pernah liat bidadari sebelumnya ) juga selalu menemaninya. Menjelang sore baru Raka pulang.


Raka memasuki rumahnya sambil bersiul gembira. Hatinya membuncah. Dengan menerima undangan makan dari Ayu, dia jadi lebih dekat dengam Ajeng.


Raka sekarang udah ngga canggung lagi ngobrol dengan cewek itu. Mereka juga ngobrol dan bercanda bersama adik Ajeng. Dan yang lebih bikin Raka seneng, Ajeng minta dia menemaninya ke toko buku besok, sepulang sekolah.

__ADS_1


Kelihatannya cewek itu ngga canggung naik motor bersama Raka, dengan resiko mukanya yang mulus terkena debu di jalan, kepanasan, atau bahkan kehujanan kalo tiba-tiba Bandung diguyur hujan seperti yang terjadi dalam beberapa hari ini.


Ai yang lagi asyik nonton TV di ruang tamu heran dengan sikap Kakaknya yang baru pulang.


"Lagi happy ya, Kak? Kencannya pasti sukses," tebak Ai.


"Hus! Anak kecil ngga usah ikut campur!" jawab Raka sambil menuju kamarnya. Ai hanya terkekeh mendengar jawaban kakaknya.


"Oya Kak! Tadi Kak Oti mau pakai Printer di komputernya, tapi kok ngga bisa? Kak Oti tadi pesen supaya Kak Raka ngebenerin, soalnya dia mau nge-print tugas malam ini," kata Ai lagi


Enak aja nyuruh-nyuruh orang! Baru juga nyampe! Umpat Raka dalam hati.


"Oti sekarang mana?"


Ai hanya mengangkat bahunya. "Mana Ai tau. Tadi sore Kak Oti pergi, katanya sih cuman sebentar. Tapi sampai sekarang belum balik. Sebelum pergi sih ada teman Kak Oti yang nelepon. Cowok. Kayaknya mereka janjian deh."


Setelah mengganti pakaian, Raka segara menuju kamar Oti dilantai atas. Kamarnya ternyata ngga dikunci. Sejenak Raka memandangi kamar yang dulu menjadi kamarnya itu. Tampak tertata rapi.


Sebuah stereo set terletak di sudut kamar, dan di sebelah tempat tidur Oti terdapat meja komputer.


Oti ngga jadi beli TV untuk kamarnya. Sebagai gantinya dia membeli stereo set dan seperangkat komputer, tentu setelah merayu ayahnya supaya ngasih subsidi tambahan untuk membeli barang-barang itu.


Raka menghampiri komputer milik Oti dan menghidupkannya.Terang aja nggak bisa, driver-nya kan belum ada! Batik Raka.


Driver adalah program yang memungkinkan sebuah printer dapat mencetak dari komputer yang terhubung padanya. Setiap komputer harus harus memiliki driver printer tersebut jika ingin dapat mencetak di printer itu. Printer yang di pakai Oti milik Raka, sebab menurut Raka, cukup satu printer aja di pakai berdua.


Raka mengeluarkan CD driver yang dibawanya, kemudian memasukkannya ke CD-ROM komputer Oti.


Hanya butuh beberapa menit bagi orang kayak dia yang mengerti seluk-beluk komputer untuk memasukkan driver printer-nya ke komputer Oti.


Kini saatnya mencoba apakah printer-nya udah dapat berjalan di komputer Oti. Raka menyelusuri daftar file yang dimiliki Oti yang dapat digunakan ngetes printer. Saat itu matanya melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


Apa ini? tanya Raka.

__ADS_1


__ADS_2