
Selesai siaran, Raka merapikan headset di tempatnya, kemudian keluar dari ruang siaran.
"Ka,ada yang numgguin kamu tuh!" kata Dewo yang baru aja masuk ruangan.
"Siapa, Mas?" tanya Raka.
"Liat aja sendiri. Dia nungguin di lobi."
Dengan penasaran, Raka menuju lobi. Dan dia melihat Oti lagi duduk. Oti tersenyum sambil melambaikan tangannya melihat kedatangan Raka.
"Oti? Ngapain lo kesini? Ada apa?" tanya Raka. Tumben, soalnya selama ini Oti ngga pernah datang ke studio Qly.
"Nggak papa. Gue pengin jalan-jalan aja. Dari pada bete sendirian di rumah," jawab Oti.
"Emang lo gak jalan sama Bayu? Dia ngga dateng?"
Oti menggeleng. "Kayaknya dia ngga akan pernah dateng lagi."
"Kenapa?"
Oti hanya tersenyum mendengar pertanyaan Raka.
"Udah, gak usah dipikirin. Lo abis ini mau ke mana? Ada acara?"
"Nggak. Gue mau langsung pulang. Kenapa?"
"Kalo gitu jalan-jalan yuk! Gue lagi suntuk nih di rumah. Sekalian nyari makan. Lo belum makan, kan?" tanya Oti.
"Belum sih, tapi ini kan udah malem?" kata Raka ragu.
"Alaaa... baru jam sembilan. Ini kan malem minggu, jadi pasti jalanan masih rame. Mau, ya?" bujuk Oti.
__ADS_1
Sebetulnya Raka justru mengharapkan saat-saat seperti ini. Saat berdua dengan Oti. Hanya saja dia agak terkejut karena permintaan Oti yang tiba-tiba.
"Ke mana?" tanyanya
"Ke mana aja... terserah lo." Oti segera menarik tangan Raka.
"Eh, ntar dulu, Ot!"
"Apa lagi?"
"Gue kan harus bilang dulu kalo mo cabut. Lagian jaket gue masih ada di studio," kata Raka.
"Eh, iya... Sorry." Oti melepaskan pegangannya. Wajahnya tampak sedikit memerah. Raka masuk kembali. Sempat ketemu Dewo yang cuman berkomentar,
"Itu adik kamu yang menang pemilihan Putri SMA kemaren, kan? Kok beda banget sih sama pas di pemilihan." Raka cuman nyengir mendengar komentar Dewo.
Inilah malam minggu pertama Raka berdua dengan Oti. Mereka berdua muter-muter keliling kota Bandung. Melewati jalan Dago yang selalu macet pas malam minggu, dan menikmati jagung bakar di Lembang. Kebetulan langit itu sangat cerah. Bulan purnama terliaht membundar dengan jelas, sementara bintang-bintang bertaburan di langit, seakan nggak menyisakan satu pun ruang yang kosong.
Mendengar ucapan Oti, Raka tersentak. Jadi Oti tadi ngedengerin radio?
"Lo denger?" tanya Raka lirih.
"Ya. Abis gue bete. Acara TV gak ada yang bagus, jadi gue iseng dengerin radio. Gak nyangka pas lo muterin lagu gue. Kok bisa kebetulan gitu ya?" tanya Oti.
"Lo suka?" tanya Raka.
"Suka banget. Apalagi kata-kata lo," kata Oti.
"Eh, itu..." Raka nggak sempet menyelesaikan kalimatnya, karena Oti beranjak mengambil jagung bakar yang udah matang.
"Itu Bandung, kan?" tanya Oti.
__ADS_1
Sambil makan jagung bakar cewek itu menunjuk ke arah sinar lampu yang bertebaran di bawah mereka. Dari Lembang, Kota Bandung emang terlihat bersinar kayak ribuan kunang-kunang berkelap-kelip. Raka mengangguk.
"Indah banget...," sambung Oti.
"Dari sini pemandangannya kurang jelas. Ngga semua bagian Bandung keliatan," kata Raka.
"Lo tau di mana bisa keliatan dengan jelas?" tanya Oti.
"Tau. Gue pernah ke sana," kata Raka.
"Di mana? Jauh nggak dari sini?" tanya Oti lagi.
"Nggak. Deket kok,"
"Yang bener? Ke sana yuk!"
Raka menoleh ke arah Oti yang berada di sampingnya. "Sekarang?"
"Iya. Kapan lagi?"
"Tapi tempatnya gelap dan sepi."
"Emang kenapa? Lo kira gue takut? Kan ada lo?"
Raka memandang wajah Oti yang memasang tampang memelas. Dia sedang berpikir.
"Ayo dong... please..."
Karena ngga tega melihat wajah Oti, akhirnya Raka mengangguk.
"Asyiiikkk... Yuk!" seru Oti girang.
__ADS_1
"Ntar dulu. Abisin dulu jagungnya. Sayang kan..."