
"Lo suka Oti, kan?" tanya Revi pada Bayu melalui telepon.
"Kenapa kamu tanya begitu?" balas Bayu. Diam-diam dia curiga. Mungkin aja ini permainan baru Revi. Walau Oti udah menolongnya, bukan nggak mungkin Revi masih membenci dan memusuhi Oti.
"Kalo suka Oti, kejar dia. Dia cewek yang baik
Gue nggak berhak ngehalangin lo," kata Revi.
"Revi, kamu..."
"Tapi asal lo ingat, gue juga masih suka sama lo. Gue tetap akan berusaha ngedapatin lo, tapi kali ini dengan cara yang fair. Gue gak akan berbuat macem-macem lagi. Janji."
Bayu gak tau apa yang harus dikatakannya. Dia hanya terdiam, bahkan seuasai Revi berbicara.
"Halooo...Bay, lo masih di situ?" tanya Revi.
"Ehh... iya... Sungguh gue gak tau harus ngomong apa..."
"Gak usah ngomong apa-apa, pokoknya lo berusahalah ngedapatin Oti. Keliatannya dia juga suka sama lo. Tapi gue juga gak akan menyerah. Gue akan tunjukkin ks semua orang kalo gue bisa mendapatkan apa yang gue mau, dengan cara yang fair. Liat aja... bye..."
Telepon ditutup. Tapi Bayu masih terpaku di tempatnya. Di tempat lain, Revi akhirnya nggak bisa lagi menahan isak tangisnya yang sedari tadi di tahannya. Butiran air mata mengalir menyusuri kedua pipinya yang putih.
-----------------------
Oti sudah keluar dari rumah sakit. Tapi dia tetap harus istirahat di rumah hingga lukanya kering. Dia juga ngga boleh banyak bergerak untuk mempercepat kesembuhan lukanya.
Karena itu, praktis selama Oti di rumah, Raka sibuk melayani segala kebutuhannya, bergantian denga Ai tapi nggak tau kenapa, paling sering Raka yang melayani Oti, dan anehnya dia senang melakukan tugasnya itu.
Dia senang menemani Oti makan, dan berbincang-bincang dengannya. Bahkan Raka kini juga jarang ke rumah Ajeng, saat libur atau malan minggu. Untung aja Ajeng dapat menerima alasan Raka merawat Oti. Ajeng juga pernah menjenguk Oti di rumah.
Selain Laras, dan Ticka, orang lain yang sering datang menjenguj Oti adalah Bayu. Terus terang kalo Bayu datang, ada perasaan lain di hati Raka, seperti muncul perasaan cemburu di hatinya. Raka sendiri sudah berusaha mengusir perasaan itu.
Dia tau dirinya nggak boleh jatuh cinta pada Oti yang notabene adalah adik tirinya. Dia berusaha bersikap biasa dan sok nyibukin diri kalo Bayu datang. Tapi perasaan itu terus mengusik hatinya. Apalagu kalo melihat Bayu dan Oti ngobrol berdua dengan akrab, bahkan kadang-kadang mesra. Oti ketawa lepas, bahkan sampe ngakak, seolah-olah bahagia kalo ada di dekat Bayu.
Jam tujuh malam, Bayu baru aja pulang. Sementara itu, hujan mulai turun di luar rumah. Sekarang emang sudah memasuki musim hujan. Raka lagi manasin sop bikinan Ai sore tadi, untuk makan malam mereka.
__ADS_1
Ai sendiri habis magrib pergi ke rumah tetangganya yang juga satu sekolah dengannya. Selesai manasin sop, Raka naik ke kamar Oti.
"Ot, lo mau makan di sink atau turun?" Raka nawarin. Oti yang lagi asyik memegang dan mengamati sebuah benda, menoleh.
"Ntar aja deh. Gue belum laper," jawab Oti.
"Ya udah kalo gitu" Raka hendak berbalik ketika Oti memanggilnya.
"Ka, bagus nggak?" tanya Oti sambil menunjukan benda yang sedari tadi dipegangnya. Ternyata jam tangan yang berwarna keperakan.
"Dari siapa? Bayu?" Raka balik bertanya. Dengan melihat sekilas aja Raka tau jam tangan yang dipegang Oti itu harganya sangat mahal. Dan cuman orang kayak Bayu yang bisa beli jam kayak gitu. Lagipula jam tangan itu tidak ada sebelum Bayu datang.
Oti mengangguk mendengar pertanyaan Raka.
"Waktu berantem di Fame, jam tangan gue kacanya agak retak. Jadi Bayu ngebeliin jam tangan baru. Gimana? Bagus gak?"
"Lumayan," komentar Raka pendek. Oti mengernyitkan kening mendengar jawaban Raka. Apalagi melihat ekspresi muka Raka saat menjawab pertanyaanya.
Oti menyimapan jam tangan yang dipegangnya ke dalam kotaknya, dan memasukkannya kembali ke tas plastik.
"Lo gak seneng, kan? Makanya gue masukkin."
"Kok gitu? Kata siapa gue gak seneng?" tanya Raka lagi.
"Dari raut muka lo. Udahlah, gak usah dibahas. Lagian gue juga rada kagok make jam semahal ini. Jadi kudu hati-hati. Jam gue yang lama masih bisa jalan kok! Tinggal diganti kacanya aja," kata Oti.
"Lo mau kembaliin ke Bayu?"
"Lo mau? Kalo nggak lo kasih ke Ajeng aja. Kayaknya dia lebih cocok pake jam tangan semahal ini," kata Oti.
"Gimana ntar sama Bayu?" tanya Raka.
"Gak usah dipikirin deh. Itu urusan gue. Lo mau nggak?"
Raka menggeleng. "Nggak ah. Kan lo yang dikasih."
__ADS_1
"Ya udah..." Kemudian Oti hendak bangkit dari tempat tidurnya. Saat bergerak, dia meringis menahan sakit pada bagian perutnya.
"Mau ke mana?" tanya Raka.
"Makan," jawab Oti singkat.
"Di sini aja. Ntar gue ambilin."
"Gak ah. Lagian gue juga sekalian mo nonton TV. Bosen kan di kamar terus," kata Oti.
"Emang lo udah bisa jalan?"
"Makanya bantuin dong."
Raka memapah tubuh Oti menuruni tangga. Tangannya agak bergetar ketika memegang tubuh Oti yang terasa hangat. Ketika mereka sampai anak tangga terbawah, tiba-tiba lampu di rumah mereka padam.
"Ka!" jerit Oti. Spontan dia memeluk tubuh Raka, membuat Raka sedikit gelagapan.
"Pasti karena hujan," ujar Raka lirih.
"Lo disini dulu, biad gue cari senter atau korek," lanjutnya.
Di luar dugaan Oti malah mempererat pelukannya.
"Jangan tingalin gue Ka. Gue takut!"
Raka heran mendengar ucapan Oti. Setahu dia, Oti bukanlah cewek yang takut gelap. Kalo tidur lampu kamarnya selalu dimatiin. Kenapa sekarang dia jadi berubah? Tapi Raka nggak nanyain hal itu. Dia hanya membelai punggung dan rambut cewek itu.
Untunglah gak lama kemudian lampu kembali menyala. Raka melonggarkan pelukan Oti. Saat itulah dia melihat wajah Oti sedikit memerah. Oti hanya tertunduk.
"Sori, tadi gue cuman refleks," ujar Oti.
Raka nggak menjawab. Beberapa saat lamanya mereka berdua hanya diam. Nggak sepatah katapun terucap. Untunglah nggak lama kemudian terdengar suara pintu depan di buka. Ternyata Ai yang baru pulang. Tubuhnya yang dibungkus jaket keliatan basah.
"Tadi disini mati lampu nggak?" tanya Ai, tanpa memerhatikan apa yang dilakukan kedua kakaknya.
__ADS_1