Victory

Victory
Bab 45


__ADS_3

Kampus Jurusan Geologi Universitas Padjajaran, Jatinangor.


Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Kampus keliatan sepi. Tentu aja karena sekarang masa liburan. Kalaupun ada beberapa orang di sekitar kampus, itu nggak lain para calon mahasiswa yang sedang sibuk melakukan pendaftaran ulang. Itu bisa dilihat dari dandanan mereka yang rata-rata rapi dan bawa-bawa map.


Sebetulnya tadi pagi kampus Geologi sempat ramai penuh calon mahasiswa yang sibuk daftar ulang. Mereka calon-calon mahasiswa yang lolos SPMB yang baru diumumin minggu lalu.


Menjelang siang, jumlah calon mahasiswa itu semakin berkurang, walau pendaftaran buka sampe jam tiga sore. Dna menjelang siang, jumlahnya semakin didominasi panitia MABIM yang merangkap panitia pendaftaran yang merupakan mahasiswa tingkat dua dan tiga (bisa dilihat dari jaket almamater warna oranye yang mereka pakai).


Entah sial entah untung, anak-anak yang berhasil tembus masuk kuliah Jurusan Geologi UNPAD ini, soalnya kalau di kampus lain mahasiswa baru hanya digojlok pas masa MABIM yang resmi, di kampus ini masa penggojlokan dimulai begitu pendaftaran ulang!


Di salah satu sudut ruang kuliah, keliatan Raka sedang duduk bareng dua temannya. Mereka semua memakai jaket almamater, dengan syal hitam dan bertuliskan "TATIB" melingkar di lengan kanan masing-masing.


Dihadapan mereka berdiri seorang calon mahasiswa baru, cewek. Calon mahasiswa baru itu hanya diam tertunduk mendengar apa yang dikatakan Raka dan yang lainnya.


"Jadi kamu udah tau apa kesalahan kamu? Saya nggak mau kamu masuk lagi ke ruangan ini karena kesalahan yang sana. Ngerti?" kata Irma, salah satu teman Raka dengan suara agak membentak. Yang dibentak cuman diam dengan wajah masih tetap tertunduk.


"Jawab! Kamu ngerti nggak!?" kali ini Irma agak meninggikan suaranya, membuat si anak baru agak kaget.


"Mengerti... Kak...," jawab calon mahasiswa agak gemetar.


Raka bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri si calon mahasiswa.


"Ya udah. Sekarang kamu boleh pulang. Samle ketemu tanggal delapan belas. Kamu pulang naik apa?" kata Raka sambil menepuk pundak cewek berambut sebahu itu.


"Sama teman, Kak. Sudah ditungguin di depan."


"Baik. Kamu boleh keluar."

__ADS_1


Seleninggal calon mahasiswa cewek itu, kedua teman Raka menatap dirinya.


"What?" tanya Raka heran.


"Kok tumben lo tadi baek banget, Ka? Biasanya lo justru yang paling galak di antara kita," tanya Irma.


"Baek apanya? Gue biasa-biasa aja kok. Mungkin karena udah siang, dan gue udah agak laper, jadi gue udah gak mood buat ngebentak-bentak," jawab Raka membela diri.


"Ooo... gitu..., kirain lo ada feeling sama dia. Tapi dia lumayan manis juga kok. Pepet terus aja, Ka...," timpal Adi, yang biasa dipanggil Adun sama teman-temannya.


"Pepet, emangnya bus?" sahut Raka, kemudian mereka semua tertawa.


Sebetulnya ada sebab lain kenapa tadi Raka bersikap baik. Wajah calon mahasiswa itu mirip sekali dengan seseorang yang pernah di kenalnya. Orang yang udah lama gak diliatnya. Ya, wajah mahasiswa baru itu mirip sekali dengan Oti.


Sejak perpisahannya dengan Oti di bandara dua tahun yang lalu, Raka emang belum pernah melihat lagi cewek yang pernah mengisi relung hatinya itu. Bahkan berkomunikasi juga nggak. Mungkin karena Oti dilarang ayahnya berhubungan dengan Raka. Raka cuman tau kabar Oti dari Ai yang sering menelepon kakak tirinya itu.


Sesuai janjinya pada Oti, Raka berusaha keras melupakan bayangan cewek itu.


Kata Ai, Oti nggak pernah nanyain kabar Raka kalo lagi nelpon. Oti juga nggak pernah berusaha menghubungi dirinya.


Raka pernah berpikir buat nelepon Oti, sekedar say hello. Tapi niat itu kemudian dirungkannya. Dia gak pengin menimbulkan masalah baru kalo ayahnya tau dia berusaha menghubungi Oti. Dan apa kata Oti pada Raka ntar? Bisa-bisa dianggap nggak nepatin janji.


Kegiatan kuliah yang padat mmebuat Raka sedikit demi sedikit bisa melupakan Oti. Apalagi dia ketemu teman-teman baru, dan nggak sedikit teman ceweknya yang sebetulnya naksir dia. Tapi sejauh ini Raka belum mau pacaran lagi. Nggak tau kenapa. Yang jelas bukan karena belum bisa melupakan Oti, tapi karena Raka lagi males aja.


Tapi setelah melihat mahasiswa baru itu, Raka melihat sosok Oti kembali hadir di hadapannya. Karena itu nggak heran kalo dia seakan-akan jadi patung di depan Yusi, sementara kedua temannya sibuk "menginterogasi" anak baru itu.


"Ka... kok bengong sih?" suara Irma membuyarkan lamunan Raka.

__ADS_1


"Eh... nggak kok."


"Hayooo... mikirin siapa? Masih mikirin Yusi?" goda Adun.


"Nggak. Gue cuman capek aja," kata Raka.


"Mo makan? Kita mo makin nih... Laper," tawar Irma.


"Lo mau nraktir?" tanya Raka.


"Boleh aja, tapi ntar lo anterin gue pulang. Gimana?" kata Irma.


"Gak masalah," sambut Raka.


"Gue nggak, Ma?" protes Adun.


"Nggak ada jatah buat lo...," balas Irma.


"Yeee..."


Raka hanya tersenyum sambil memandang Irma yang juga balas memandangnya. Irma, selalu ceria dan berwajah manis. Udah lama terdengar gosip diem-diem Irma naksir Raka. Bahkan dia bela-belain jadi TATIB di kepanitiaan MABIM biar bisa deket sama Raka. Raka sih nggak terlalu menanggapi gosip itu. Yang jelas dia emang suka berteman dengan Irma, suka ngobrol dengannya. Selain cantik, Irma memang juga enak diajak ngobrol, dan selalu ceria.


Irma juga agak-agak tomboi, sama seperti Oti. Dan ngga cuman Irma, tapi hampir seluruh cewek yang kuliah di jurusan geologi rata-rata emang punya bakat tomboi. Mungkin karena suasana perkuliahan yang sering ngadain kegiatan sekolah di lapangan alam terbuka seperti gunung atau di pinggiran sungai di daerah-daerah pedesaan, membuat cewek-ceweknya biasa berpenampilan kayak pencinta alam saja.


Tapi hubungan Raka dan Irma cuman sebatas teman, nggak lebih.


"Kok bengong lagi? Mau nggak?" tanya Irma.

__ADS_1


Raka mengangguk pelan, kemudian mereka bertiga melangkah keluar ruangan, berjalan ke arah kantin terdekat yang berjarak sekitar seratus meter dari gedung kuliah.


__ADS_2