Victory

Victory
Bab 14


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Oti sesampainya di luar perpustakaan.


"Ceileee.... yang lagi pe de ka te...," goda Ticka.


"Ngaco! Ada apa?" tanya Oti lagi.


"Laras udah dapat nama nyokapnya," jawab Ticka.


"Bener, Ras?" Laras mengangguk.


"Kita ke sana siang ini habis sekolah."


"Siang ini?" tanya Oti.


"Iya, mau kapan lagi?" Ticka balas bertanya.


------------------


Oti dan sahabatnya turun dari angkot yang membawa mereka.


Bener di sini?" tanya Oti pada Laras.


Laras melihat kertas kecil yang dibawanya.


"Ya. Ini jalannya."


Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan yang berada di tengah-tengah perumahan penduduk.


"Itu dia tempatnya!" seru Laras sambil menunjuk rumah di tempatnya. Oti dan Ticka melihat ke arah yang ditunjuk Laras. Tempat itu salon kecantikan dengan nama "BEAUTY"


"Ada yang bisa dibantu?" tanya salah seorang wanita pegawai salon saat mereka bertiga masuk.


"Nggg.... Tante Wijaya ada?" tanya Laras. Pegawai wanita itu memandang Laras sejenak.

__ADS_1


"Adik ingin bertemu dengan Ibu?"


"Benar. Tadi saya sudah menelepon. Bilang aja dari Laras, anaknya Bu Lestari," kata Laras.


Pegawai wanita itu masuk. Oti, Ticka, dan Laras melihat-lihat keadaan sekitar salon. Cukup besar. Ada sekitar sepuluh kursi untuk pelanggan. Saati itu keadaan salon memang ngga begitu ramai. Hanya ada sekitar tiga atau empat pelanggan.


"Kamu yakin dia bisa membantu Oti?" tanya Ticka.


"Pasti. Kata Ibu, Salon Tante Wijaya termasuk yang terbaik di Bandung. Salon ini juga berkembang atas usahanya daru bawah."


Seorang wanita setengah baya, tapi masih berpenampilan menarik, keluar dari salon.


"Laras, ya?" tanya wanita tersebut.


"Tante..."


"Kamu udah besar sekarang..." Tante Wijaya memegang pundak Laras. Diam-diam Oti dan Ticka memerhatikan wajah wanita di hadapan mereka ini. Mereka menduga Tante Wijaya pasti hampir sama dengan usia ibu mereka. Tapi wajah Tante Wijaya masih terlihat kencang, dan masih menampakkan sisa-sisa kecantikannya.


"Terakhir kali Tante liat kamu saat kamu berusia tujuh tahun... Sekarang kamu sudah demikian cantik, sama seperti ibu kamu," puji Tante Wijaya.


Laras balas memuji. Tapi Oti dan Ticka dapat melihat wajah Laras memerah.


"Baiklah. Kemarin Ibu kamu udah nelepon. Katanyab temen kamu ada yang mau ikut kontes kecantikan?"


"Bukan kontes kecantikan, Tante, tapi pemilihan Putri SMA...," kata Laras.


"Sama saja... Sebentar..."


Tante Wijaya memanggil sebuah nama. Nggak lama kemudian mucullah cowok berambut panjang yang diikat le belakang. Walaupun dia cowok, tapi gaya jalannya lebih mirip cewek. Sangat feminim.


"Ini. Iwan. Dia yang akan ngebantu kamu. Maaf, Tante ngga bisa menangani langsunh, karena kesibukan Tante. Tapi jangan khawatir. Iwan yang terbaik di seluruh salon milik Tante. Dia sering mendandani peserta kontes kecantikan..." Tante Wijaya menerangkan. Laras hanya mengangguk. Dia tahu, wanita kaya Tante Wijaya yang punya beberapa salon di Bandung pastilah sangat sibuk. Mau menemani mereka aja udah merupakan kehormatan tersendiri.


Laras menerima jabatan tangan Iwan.

__ADS_1


"Jadi ini anaknya. Hmmm... cantik juga. Tinggal tambah sedikit make-up biar ngga keliatan pucat di depan kamera, bisa kalo untuk masuk ke final. Bahkan mungkin bisa dapat nomor," ujar Iwan dengan gayanya yang khas sambil mengamati wajah Laras.


Bukan Laras yang mau ikut, Om, eh Kak, eh..." Laras jadi keliatn kikuk.


"Iwan. Panggil aja Iwan. Jadi siapa? Kamu?" Iwan menunjuk Ticka. Ticka menggeleng.


"Lalu?"


Pandangan Iwan dan Tante Wijaya tertuju pada Oti yang berdiri di belakang Laras dan Ticka.


"Kamu?" tanya Iwan lirih sambil menunjuk Oti. Secara bersamaan Oti dan kedua sahabatnya mengangguk. Iwan mengamati tubuh Oti mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan sebaliknya berulang-ulang dengan tatapan ngga percaya. Tante Wijaya juga terkejut. Semula dia menyangka yang akan ikug kontes adalah Ticka.


"Gimana, Tante? Bisa, kan? Untuk sementara ini usahakan agar bisa lolos ke final dulu," tanya Laras pada Tante Wijaya.


"Gimana, Wan? Bisa?" Tante Wijaya balik bertanya pada Iwan.


"Enggg... mungkin...," jawab Iwan dengan nada ragu. Pikirannya dipenuhi berbagai macam pikiran melihat penampilan Oti yang lebih mirip cowo.


---------------------------


Oti, yang baru kali ini masuk salon kecantikan, tersiksa ketika wajahnya dirias. Beberapa kali Iwan menegurnya karena terlalu banyak bergerak. Oti sendiri sebetulnya sedikit risih wajahnya diobrak-abrik, apalagi oleh cowo, walaupun Iwan "agak lain" dari cowok biasanya. Kalo bukan ingat dirinya lagi di rias, pengin rasanya dia matahin tangan Iwan yang berani memegang-megang wajahnya.


Ticka dan Laras cuma cengengesan melihat kelakuan Oti yang menurut mereka kayak "cacing kepanasan". Ticka bahkan beberapa kali menggoda Oti, membuat Oti semakin banyak bergerak.


Selasai dirias untuk keperluan foto, Oti langsung dipotret di studio foto.


Menjelang malam baru cewek itu pulang. Tubuh Oti serasa mau rontok. Bagi cewek itu, duduk dirias lebih melelahkan daripada bertanding karate. Selain itu Oti merasa mukanya bertambah berat karena kosmetik yang masih menempel.


Ai yang membuka pintu rumah kaget melihat wajah Oti yang lain dari biasanya.


"Jangan komentar," kata Oti sebelum Ai sempat buka mulut.


Ai mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dia hanya memandang kaka tirinya dengan heran.

__ADS_1


Oti langsung menuju kamarnya di lantai atas. Keinginannya kini cuman satu. Dia pengin cepat mandi dan menghapus kosmetik tebal pada wajahnya, kemudian pergi tidur.


__ADS_2