
"Hah? Siaran langsung pemilihan putri SMA?"
Tyas kepala bagian siaran Qly FM mengangguk.
"Iya. Ini baru pertama kali diadakan. Rencananya pemilihan putri SMA ini mau berformat sama dengan Putri Indonesia atau Miss Universe. Ada masa karantinanya segala. Dan karena finalnya diadakan di Bandung, rencananya radio kita akan nyiarin secara langsung acara itu dari Hotel Horison, dua minggu lagi. Itu masih sejalan dengan kebijakan radio ini, yang segmennya kawula muda. Dan Mas Yudhi merasa nggak ada salahnya kita nyiarin acara kayak gitu, karena banyak sisi yang kita gali, nggak hanya dari segi penampilan para pesertanya. Mas Yudhu udah dapat konfirmasi dari panitia. Tinggal masalah teknis aja."
"Tapi kenapa harus Raka yang jadi host-nya? Raka kan nggak tau apa-apa tentang kontes-kontes kayak gitu," protes Raka.
"Habis siapa lagi? Kata Mas Yudhi kamu yang cocok. Kamu kan masih SMA, jadi masih dekat dengan kehidupan sekolah. Lagipula kamu kan nggak sendiri. Ada Andini juga. Kalian bis bekerja sama dan saling mengisi," katavTyas tegas.
Raka menggaruk-garuk kepalanya yang gak gatal, seolah berat mengiyakan permintaan Tyas.
"Mau ya? Ada uang insentifnya loh! Lumayan buat nambah-nambah uang saku kamu. Lagipula disana pasti banyak cewek cakep. Kamu bisa puas ngecengin mereka. Soal materi gak perlu dipikirin. Gak beda kok sama acara outdoorlainnya. Paling tinggal melaporkan jalannya pemilihan dan apa yang terjadi di situ, serta sedikit wawancara dengan para penonton dan peserta jika memungkinkan. Juga ada sedikit kuis, dan mungkin nanti akan ada polling untuk mwmilih putri SMA favorit pilihan pendengar Qly. Gimana? Kamu mau, kan?"
Dengan berat hati Raka terpaksa mengangguk.
"Iya deh, Mbak..."
---------------------
Ada yang berubah pada diri Oti. Paling nggak itulah yang dirasakan Raka beberapa hari ini. Adik tirinya itu jadi lebih kalem di rumah. Gaya bicaranya pun agak berubah. Sekarang Oti gak lagi meledak-ledak kalo lagi ngomongong. Dia terkesan lebih kalem, dan bicara seperlunya.
"Lo gak apa-apa kan?" tanya Raka saat
mereka berdua sedang di ruang tengah. Malam ini dia memang gak ada jadwal siaran, sehingga bisa berada di rumah dari sore.
Terus terang, Raka jadi khawatir jika sikap Oti ngga kayak biasanya. Dia takut jika perubahan sikap Oti itu menyangkut dirinya. Bisa-bisa dia kena marah ayahnya lagi.
"Maksud lo?" Oti balas bertanya. Ai yang berada di dekat mereka menghentikan kegiatannya mengerjakan tugas sekolah, dan melihat kedua kakaknya dengan was-was. Dia takut bakal timbul perang dunia baru.
"Gue lihat akhir-akhir ini lo agak pendiam. Gak kayak biasanya. Lo sakit? Atau ada masalah?" tanya Raka.
Oti menatap tajam ke arah Raka. Demikian juga Raka. Saat itulah Raka baru menyadari wajah Oti sedikit berubah. Entah bagian mana, tapi kini wajah Oti keliatan lebih cerah
Oti sendiri heran karena perhatian Raka.
"Emang iya? Gue gak merasa tuh. Sikap gue biasa-biasa aja. Ai! Emang gue berubah?"
Ai hanya mengangkat bahu, kemudian meneruskan pekerjaannya. Tapi diam-diam dia tersenyum geli melihat kelakuan Oti. Ai tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Oti lagi latihan untuk penampilannya di malam final pemilihan putri SMA. Kata Iwan, dia harus sedikit mengontrol dirinya dan jangan asal bicara. Ai tahu kakaknya masuk final dari majalah remaja milik temannya, Oti sendiri udah mengakui hal itu dan minta Ai nggak bilang pada Raka.
"Bener?" Raka kayak nggak yakin.
."Bener. Lo jangan khawatir deh. Gue gak apa-apa kok! Mungkin aja gue sedikit capek."
"Ya udah kalo begitu. Gue kira lo sakit."
"Nggak. Tapi thanks ya lo udah merhatiin gue,"
__ADS_1
Kata Oti sambil tersenyum. Baru kali ini Raka melihat senyum Oti begitu manis.
Mereka berdua kembali tenggelam dalam kesibukanya masing-masing. Oti nonton acara TV, sedang Raka membaca koran hari ini.
"Eh, Gue mau bilang Senin depan gue mau nginep di rumah teman seminggu," kata Oti tiba-tiba.
"Seminggu? Ngapain?"
"Hmmm... nemenin temen gue yang ditinggal bokap-nyokapnya ke luar kota seminggu. Dia takut tinggal dirumah sendirian, jadi minta tolong gue nemenin dia."
"Tapi sampai seminggu? Di rumah Laras atau Ticka?" tanya Raka khawatir.
"Bukan dirumah mereka. Ini temen gue yang lain. Cewek."
"Nggak ada teleponnya?"
"Ada sih... Tapi buat apa? Kalo lo perlu kan lo bisa nelpon ke HP gue. Gue juga ntar bilang ke Papa kok! Lo jangan khawatir deh. Gue nggak bakal macam-macam. Just stay."
Raka kembali menatap tajam ke arah Oti, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakannya.
"Lo mau masuk karantina buat pemilihan putri SMA, kan?" tanya Raka. Pertanyaan itu membuat Oti terenyak karena di luar perkiraannya.
"Da... da... dari mana lo tau?" Oti menoleh ke arah Ai yang sedang menatap ke arahnya. Ai hanya menggeleng, tanda bukan dia yang ngomong ke Raka.
"Qly FM akan menyiarkan langsung malam pemilihannya. Dan gue yang jadi host-nya. Saat liat daftar finalisnya, gue liat nama lo. Tadinya gue gak percaya. Tapi data diri lo ngejelasin semuanya. Lagi pula berapa banyak sih cewek yang namanya Victory Febriani?" Raka menjelaskan. Oti hanya terdiam mendengar penjelasan Raka. Wajahnya sedikit memerah.
"Kenapa lo gak terus terang ke gue?" tanya Raka lagi.
"Gue gak ngizinin? lo belum bilang ke Ayah, kan?" tanya Raka.
Oti menggeleng.
"Walau gue masih belum percaya lo ikut acara kayak gitu, dan apa alasan lo ikut, tapu gue gak berhak ngelarang lo ikut kegiatan apappun, selama kegiatan itu benar. Gue pikir, sika lo selama ini berhubungan dengan acara itu, kan?" kata Raka. Tumben dia bisa ngomong kayak gitu.
"Ya. Tapi lo jangan khawatir. Gue cuman latihan kok," kata Oti.
"Kenapa Ayah dan Ibu lo gak dikasih tau?"
"Kenapa ya?Mungkin gue pikir, mereka, terutama Papa akan ngelarang gue jika dikasih tau. Lo tau kan sifat Papa? Papa pasti beralasan kegiatan itu akan mengganggu sekolah gue. Apalagi gue harus bolos sekolah seminggu. Makanya, gue rencanannya mau ngasih tau kalo acara itu udah selesai. Syukur-syukur kalo gue menang."
"Emang lo yakin bakal menang?" Raka mengamati Oti dengan saksama. Menurutnya, hanya keajaiban yang membuat Oti bisa menang. Masuk final juga udah untung.
"Selalu ada kemungkinan, kan? Jadi lo setuju gue ikut karantina?"
Raka menghela napas.
"Gimana ya?" ujarnya ragu-ragu.
Ai yang melihat semua itu jadi ikut-ikutan tegang. Keringat mengalir di wajahnya, menantikan jawaban kakaknya.
__ADS_1
"Tapi tadi lo bilang...," Oti sudah siap merajuk.
"Tapi gue gak tanggung jawab kalo Ayah tau hal yang sebenarnya dan marah, walau gue nggak bilang ke Ayah," kata Raka.
"Jadi lo setuju?" tanya Oti senang.
Raka mengangkat bahu.
"Abis mau gimana lagi? Udah tanggung sih lo sampe final."
"Asyyyiiikkk!!!" tanpa sadar Oti memeluk Raka yang ada di sampingnya. Ai ikut menarik napas lega. Ternyata sikap kakaknya nggak seperti dugaannya semula.
"Sori...," kata Oti tersadar dan melepaskan pelukannya. Wajahnya memerah lagi. Demikian juga Raka. Walau mereka adik-kakak, tapi pelukan tadi membawa sedikit perasaan aneh di antara mereka berdua. Apalagi wajah mereka sebelumnya belum pernah sedekat tadi. Mungkin karena mereka berdua bukan saudara kandung.
"Jadi, lo akhir-akhir ini pulang malam karena latihan buat acara itu?" tanya Raka.
Oti mengangguk. "Tapi sebenarnya gue jadi gak pede nih, karena tau lo mau datang."
"Emang kenapa?" tanya Raka penasaran.
"Lo pasti kaget melihat gue nanti," kata Oti.
Terus terang, Raka sebenarnya juga penasaran ingin melihat Oti pakai gaun pas pemilihan nanti. Suatu hal yang belum pernah dilihatnya selama ini.
Jangankan gaun, rok aja Oti nggak punya. Raka jadi geli membayangkan Oti pakai gaun. Dia benar-benar gak bisa membayangkannya.
"Kenapa senyum-senyum?" sergah Oti.
"Nggak. Gak apa-apa kok! Persiapan lo udah beres?" tanya Raka.
"Udah. Gue dibantu Ticka sama Laras."
"Pantas aja wajah lo rada-rada berubah. sedikit..."
"Sedikit apa? Sedikit cantil ya?" jawab Oti ge-er.
"Sedikit aneh!" sahut Raka sambil tertawa.
"Enak aja!" sergah Oti galak. Ia lalu beranjak dari duduknya.
"Udah ah! Gue mau ngerjain PR dulu. Ntar kemaleman, lagi!" katanya lalu melangkah ke kamarnya di lantai dua.
"Ot!" panggil Raka lagi.
"Ada apa?"
"Boleh gue tau alasan lo ikut acara itu? Sebab gue tau siapa lo. Ikut pemilihan putri SMA bukan salah satu hobi lo. Pasti ada hal lain yang menyebabkan lo sampai nekat ikut acara kayak gitu."
Oti berhenti sejenak. Tanpa menoleh dia lalu berkata, "Kalo gue kasih tau, berarti gue harus ngebunuh lo saat ini juga."
__ADS_1
Kata-kata Oti persis seperti dalam film-film action. Ai hanya cekikian mendengar jawaban Oti tersebut. Oti pun melanjutkan langkah menuju kamarnya