
Kelima finalis sudah berkumpul di panggung. Mereka berganti pakaian. Masih memakai gaun, tapi dengan model dan motif berbeda.
Oti mengenakan gaun biru muda. Rambut kelima finalis itu disanggul ke belakang, konon hal itu untuk memudahkan mereka mengenakan mahkota bagi yang terpilih sebagai juara.
"Baik! Inilah saat yang paling menegangkan bagi kita semua..." MC mulai mengawali pembacaan pemenang.
"Favorit kedua ialah... Cindy Kasenda, wakil dari SMA Negeri 2 Menado, Sulawesi Utara!"
Tepuk tangan riuh mengiringi pemberian hadiah bagi favorit kedua.
"Favorit pertama ialah... Risma Listsmar, wakil dari SMA Negeri 1 Bukit Tinggi, Sumatera Barat!"
Kembali Risma memeluk Oti yang berada di sebelahnya.
"Kamu pasti jadi juara, Ot..." bisik Risma.
"Mudah-mudahan..," kata Oti balas berbisik.
Juara ketiga direbut Belly Rizkyani Ayu, peserta dari SMA Prapanca, Jakarta. Kini tingaal tersisa Otu dan Revi, untuk memperebutkan gelar putri SMA tahun ini.
"Baik, kini saatnya pemberian anugrah putri SMA Indonesia tahun ini. Tinggal dua finalis, dan keduanya wakil tuan rumah, bahkan mereka sekolah di SMA yang sama. Tapi ini memang kebetulan. Tidak ada unsur rekayasa di sini. Keduanya menunjukkan mereka pantas menjadi putri SMA tahun ini...," kata-kata MC yang berpanjang-panjang malah membuat suasana makin menegangkan.
Sebelumnya, ketua panitia dan wakil pihak sponsor dipersilahkan naik ke panggung untuk bersiap-siap memberikan mahkota dan tongkat kepada yang terpilih menjadi Putri SMA.
"Dan Putri SMA tahun ini adalah..."
Seketika itu juga suasana ruangan menjadi hening kayak kuburan. Semua bagaikan menahan napas, terutama teman-teman Oti.
__ADS_1
Mereka sadar, inilah pertaruhan terakhir teman mereka. Raka sendiri sangat tegang menantikan hal itu, hingga siaran di ambil alih oleh Andini. Musik pengiring menambah tegang suasana dalam aula.
Oti melirik ke arah Revi. Dia sadar, detik ini yang paling menentukan.Siapa yang akan tertawa dan siapa yang akan menangis.
Entah dari mana datangnya, terdengar suara meneriakkan nama Victory. Beberapa penonton cowok berdiri dari tempat duduknya dang mengacungkan jarinya membentuk huruf "V".
Tindakan itu diikuti penonton yang lain, dan akhirnya hampir seluruh penonton diruangan itu melakukan gerakan yang sama, jari membentuk huruf "V" sambil meneriakkan nama Victory, termasuk Ticka dan Laras. Suasana menjadi gemuruh.
"Putri SMA tahun ini adalah..." MC mengulangi perkataanya.
"VICTORY FEBRIANI!! Wakil dari SMA Yudhawastu, Bandung, Jawa Barat!"
Seketika itu suasana di Aula Hotel Horison serasa meledak. Ticka langsung berpelukan dengan Laras. Keduanya nggak bisa membendung air mata mereka. Air mata terharu dan bahagia.
Demikian juga Oti. Dia gak percaya mendengar hal itu. Dia menang? Oti masih gak percaya, sehingga hanya diam ketika Risma memeluknya sambil mengucapkan selamat. Matanya berkaca-kaca.
Nggak! Ini pasti kesalahan! batin Revi. Walau begitu cewek itu mencoba tegar. Dia gak berani memandang ke arah Oti, juga penonton. Revi hanya mencoba tersenyum saat menerima hadiah sebagai runner-up.
Ketika mahkota dan tongkat diserahkan kepada Oti, tepuk tangan meriah sekali lagi bergema di seluruh ruangan.
Kertad dan pita berwarna-warni di jatuhkan dari atas mengiringi penobatan Oti sebagai Putri SMA. Oti sendiri keliatan berusaha menahan perasaanya. Dia berusaha gak ngeluarin air matanya, walaupun nggak mudah. Walau tomboi, tapi Oti juga perempuan yang perasaanya bisa tersentuh di saat-saat seperti ini.
Di tengah-tengah susana penobatannya, Oti menghampiri si MC, dan minta waktu bicara sebentar.
"Mohon perhatian sebentar..." terdengar suara Oti melalui mic. Suasana ruangan yang riuh perlahan-lahan menjadi tenang. Musik pengiring pun diberi isyarat untuk berhenti. Semua mata tertuju pada Oti.
"Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih untuk penghargaan yang diberikan pad saya malam ini. Saya merasa sangat tersanjung...," Oti mengawali pembicaraanya. Sejanak ia menahan napas, seperti ada sesuatu yang ditahannya.
__ADS_1
"Oti mau ngapain?" tanya Ticka. Laras hanya menggeleng.
"Perlu diketahui bahwa saya mengikuti acara ini, karena alasan tertentu yang tidak bisa saya ungkapkan di sini. Mungkin sebagian teman saya mengetahui alasan apa itu."
"Dan karena tujuan saya mengikuti acara ini telah tercapai, maka penghargaan ini sudah tidak ada artinya bagi saya..."
Kata-kata Oti menganggetkan semua yang hadir.
"Jangan-jangan Oti ingin..."
"Dengan diiringi permintaaf maaf serta tidak mengurangi rasa hormat pada acara Pemilihan Putri SMA ini, dengan inj saya mengatakan mengundurkan diri sebagai Putri SMA tahun ini..."
Keputusan yang mengejutkan, bahkan bagi Revi. Suasana gedung kembali riuh.
"Saya sadar ada sebagian dari pendukung saya, terutama teman-tenan saya kecewa pada keputusan ini. Tapi keputusan saya sudah bulat. Menjadi Putri SMA bukanlah salah satu tujuan hidup saya. Karena itu saya maaf kepada semua yang sudah mendukung saya, dan berterima kasih atas semua dukungan tersebut. Saya tidak akan melupakannya. Terima kasih."
Selesai berbicara, Oti menghampiri ketua panitia yang masih berada di panggung. Sambil mengucapkan permintaan maaf, ia melepas mahkota dan bersama tongkatnya menyerahkan kembali pada ketua panitia. Sementara itu tepuk tangan riuh dan teriakan nama Victory kembali bergema.
"Kenapa Oti? Kenapa dia ngelakuin hal ini?" tanya Ticka nggak habis mengerti.
"Oti memang cerdik," sahut Laras.
"Cerdik? Apa maksud kamu?" tanya Ticka.
"Kalo Oti mundur, siapa yang akan jadi Putri SMA? Tentu saja Revi sebagai *runner-u*p. Dengan demikian Oti mempermalukan Revi dua kali. Yang pertama saat dia tadi mengalahkan Revi, dan yang kedua ketika dia melepas gelarnya dan memberikannya kepada Revi. Hal itu berarti Revi seolah menerima gelar yang dibuang Oti Dan itu akan membuat kedudukan Oti setingkat di atas Revi. Orang akan selalu ingat, walaupun Revi saat ini memegang gelar Putri SMA, Putri SMA yang sebenarnga adalah Oti."
Mendengar penjelasan Laras, Ticka mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Kamu memang cerdik, Ot," gumamnya.