
Sekarang siapa yang akan menyampaikan kabar tersebut pada Oti?
Raka mengajukan diri untuk menyampaikan kabar mengenai gagalnya operasi.
Mulanya ayahnya menolak. Tapi setelah Ai dan ibu tirinya mendukung, akhirnya ayahnya mengalah. Alasannya, Raka-lah orang yang paling dekat dengan dengan Oti dan mengerti sifat gadis itu. Raka pun janji akan melihat kondisi Otu dahulu sebelum menyampaikan berita tersebut.
Raka masuk ke kamar Oti, sementara yang lainnya menunggu di luar. Oti asyik baca manga yang baru dibelikan Ai.
"Hei... lo udah dateng?" sapa Oti saat melihat kedatangan Raka. Oti meletakkan manga yang sedang dibacanya dan melepaskan kacamatanya.
"Yang lain mana? Kok gak pada masuk? Tadi Ai juga keluar? Ada apa?" tanya Oti sambil pandangannya ke arah pintu.
"Lagi pada cari makan. Makanya gue disuruh ngejagain lo," jawab Raka berbohong. Ia lalu duduk di sisi tempat tidur Oti. Melihat wajah Oti yang polos, Raka nggak tega mengatakan yang sebenarnya, walaupun sebagian hatinya mengatakan sebaliknya. Ternyata Oti dapat membaca apa yang tersirat di wajah Raka.
"Ada apa, Ka? Lo kok kayaknya bingung banget...," tanya Oti.
"Gak. Gak papa," gagap Raka.
Mendengar jawaban Raka, tangan kanan Oti memegang tangan kiri Raka.
"Lo tau persamaan gue sama lo?" tanya Oti.
"Apa?" tanya Raka.
"Sama-sama gak bisa bohong. Makanya sebaiknya lo terus terang. Ada apa sih?" desak Oti.
Raka menarik napas sebentar. Mencoba mengumpulkan kata demi kata untuk mdmberitahu Oti.
"Ada kabar baik dan kabar buruk," kata Raka lirih.
"Yang buruk dulu," kata Raka tegas.
"Hasil tes untuk donor ginjal sudah keluar," kata Raka.
"Trus? Siapa yang cocok? Lo atau Papa?" tanya Oti.
Kembali Raka menyusun kalimat yang tepat supaya Oti tidak terlalu terkejut. Tapi rupanya dia tidal perlu mengatakan kelanjutan kalimatnya, karena Oti terlalu pintar Oti menebak apa yang hendak dikatakan Kakaknya.
"Hasilnya pasti jelek, kan? Gue gak bisa dioperasi?" tanya Oti memastikan.
"Ot..."
__ADS_1
"Kalo hasilnya bagus, nggak mungkin lo bingung kayak gini. Mama pasti sudah masuk ke kamar dan ngomong langsung ke gue. Iya, kan?"
Raka mengangguk perlahan. Oti melirik ke arah jendela kamarnya yang menghadap ke arah koridor. Sekilas dia melihat ada bayangan di sana.
"Papa, Mama, Ai, dan Dio, mereka semua nggak pergi. Mereka semua di luar kamar. Lo yang disuruh ngomong kd gue?" tebak Oti, Raka hanya diam sambil menggenggam tangan kanan Oti dengan kedua tangannya.
Oti menghela napas. Dia sudah siap jika hal ini terjadi. Manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan juga yang menentukan. Walaupun begitu, perasaan sedih, kecewa, dan putusnya harapan juga menghinggapi benaknya, walaupun Oti nggak ingin memperlihatkannya.
Sejenak Oti memejamkan kedua matanya, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak.
"Gue tau perasaan lo, Ot! Walau lo berusaha nyembunyiin. Gue tau lo kecewa mendengar berita ini. Begitu juga gue. Tapi ini kenyataan yang harus kita terima," kata Raka berusah menghibur Oti.
Setelah beberapa saat, Oti membuka kedua matanya, kemudian tersenyum kecil. Tampaknya dia sudah bisa menerima kabar itu.
"Ya udah, sekarang kalo boleh gue tau, apa kabar gembiranya?" tanyanya.
Raka tersenyum lemas.
"Ternyata kata dr. Satrio, lo bis hidup dengam satu ginjal. Ginjal lo yang tersisa sanggup menopng fungsi tubuh lo. Selain itu... Gue gak tau apa berita ini bisa mengurangi kesedihan lo..." Raka berhenti sejenak.
"Hasil tes DNA gue dan Ayah berbeda dengan hasil tes DNA lo. Dengan kata lain, ternyata lo bukanlah anak kandung Ayah."
"Yang bener? Lo gak boong, kan?"
Raka menggeleng. Kemudian dia menceritakan perbincangannya dengan dr. Satrio. Juga kemungkinan Oti mendapat donor lain, walaupun kemungkinan itu sangat kecil.
"Berarti gue masih mungkin punya ginjal baru... Sekecil apa pun harapan itu, tetap aja harapan," ujar Oti lirih. Kemudian dia menatap Raka.
"Ka, bilang terus terang, lo sebenarnya seneng mendengar hasil tes itu, kan? Senang setelah tau kalo gue nggak punya hubungan darah dengan lo?" tanya Oti.
"Bagaimana bisa senang? Itu berarti lo gak jadi dioperasi. Dan lo mungkin gak akan kenbali seperti semula dalam waktu lama. Lo kehilangan semuanya. Terutama kesempatan kuliah lo."
"Kata siapa? Gue gak merasa kehilangan semuanya kok! Soal kuliah gue, gue kan masih bisa kuliah walau nggak bisa jalan. Sejujurnya, lepas dari kelumpuhan dan kesehatan gue, bagaimana perasaan lo mendengar hasil tes itu?" desak Oti.
Raka terdiam sejenak.
"Gue akuin, sebagian hati gue emang seneng begitu tau lo bukan anak kandung Ayah. Tapi kalo boleh milih, gue lebih milih hasil tes DNA itu cocok, jadi lo bisa dioperasi. Asal lo bisa sehat lagi, gue rela ngorbanin apa saja, termasuk diri dan perasaan gue."
"Emang sekarang gue nggak bahagia?" Ucapan Oti membuat Raka terperanjat. Oti tersenyum padanya. Senyum manis yang keluar kalo dia sedang gembira.
"Lo ingat ucapan lo yang kemaren? Lo bilang akan selalu ngedampingin gue, dan berada di sisi gue kapan pun gue membutuhkan lo? Sekarang gue tanya, lo sungguh-sungguh kan dengan ucapan lo?" tegas Oti.
__ADS_1
"Tentu aja. Gue sungguh-sunggu...," kata Raka.
"Bener. Lo gak akan berubah pikiran?" tanya Oti lagi.
"Bener. Emang lo percaya?" Raka balas bertanya.
"Gue percaya kok." Senyum Otu kian melebar. Raka kembali melihat aura kecantikan dari dalam diri Oti. Membuat duka pada diri cewek itu seakan-akan hilang dibawa angin.
"Sekarang saatnya lo membuktika ucapan lo..." kata Oti.
"Maksud lo?" tanya Raka.
Pandangan Oti beralih menatap langit-langit di atasnya.
"Kalo gue tau hasilnya begini gue rela jadi lumpuh. Bahkan andaikata waktu dapat berputar lagi dan gue bisa milih, gue tetap pilih keadaan kayak gini, asalakn gue bisa mendapatkan cinta gue lagi."
"Ot, maksud lo...," tanya Raka ragu.
"Ini mungkin cara Tuhan mengatakan kebenaran. Cara Tuhan bilang pada semua orang, kalo kita saling mencintai, dan kita nggak melakukan kesalahan apa pun. Juga cara Tuhan menguji kekuatan cinta kita." Oti kembali menoleh ke arah Raka.
"Sekarang beban gue udah hilang. Gue udah gak punya perasaan bersalah pada Papa, ataupun Mama. Sekarang terserah lo. Apa pun yang akan lo lakuin, gue gak akan nyalahin lo, termasuk kalo lo berubah pikiran, dan akan ninggalin gue. Gue tau, sekarang gue cewek lumpuh yang nggak bisa jalan. Tentu tidak sebanding dengan lo. Gue pasti akan selalu ngerepotin lo, jadi beban bagi lo, apalagi dengan kondisi tubuh gue yang nggak kayak dulu. Mungkin aja lo malu kalo jalan atau berduaan sama gue."
Saat mengucapkan kalimat tersebut, tampak mata Oti berkaca-kaca. Raka sejenak terperangah mendengar ucapan Oti. Kemudian kedua tangannya menggenggam erat tangan Oti.
"Gue gak akan berubah pikiran, sampai kapan pun. Lo sama sekali nggak jadi beban buat gue. Malah, lo lah sumber kebahagiaan gue. Gue gak bisa bayangin hidup gue kalo nggak bersama lo."
Seusai berbicara Raka mendekatkan wajahnya, dan mencium kening Oti yang masih dibalut perban. Tiba-tiba Oti memeluk tubuh Raka. Dia nggak peduli dengan badannya yang masih dalam proses penyembuhan.
"Kita akan lalui ini bersama. Kalo Ayah masih tidak setuju dengan hubungan kita, kita akan hadapi bersama," ujar Raka lirih di dekat telinga ini.
Oti tidak bisa lagi membendung air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya. Air mata itu air mata kebahagiaan dari cewek yang kembali mendapatkan cinta sejatinya.
"Gue sayang lo, Ka...," bisiknya.
"Gue juga sayang lo, Ot. Kata-kata lo bener. Kalo ini cara Tuhan untuk menguji kekuatan cinta kita, kita udah melaluinya. Kita udah menang. Ini kemenangan lo, Victory," kata Raka balas berbisik.
-------------------------
Tanpa diketahui mereka berdua, Ai bersama Dia, serta ayah dan ibunya menyaksikan kejadian tersebut dari balik jendela, dengan perasaan terharu. Tante Heni bahkan sampai menitikkan air mata. Sedangkan Ai menoleh, menatap ayahnya yang berdiri di sampingnya.
"Yah, Ai mohon, jangan pisahkan mereka lagi. Kak Raka adalah sumber kebahagiaan Kak Oti, juga sebaliknya," Ai memohon pada ayahnya sambil berlinang air mata. Sebagai jawaban, ayahnya menoleh pada Tante Heni yang hanya mengangguk pelan, seolah mendukung permohonan Ai, lalu merengkuh pundak anak gadisnya itu.
__ADS_1