
Peluk dan cium Ticka dan Laras menyambut Oti di sekolah begitu dia datang.
"Selamat lo masuk final, Ot!" kata Ticka dengan ekspresi gembira, sambil menyerahkan amplop yang dibawanya pada Oti.
"Amplop itu emang dialamatkan ke rumah Ticka, karena Oti nggak ingin Raka dan Ai tau bahwa dia mengikuti acara pemilihan putri SMA.
Amplop itu berisi surat yang menyatakan dia lolos ke babak final. Juga terdapat kertas lain yang berisikan jadwal dan tata cara mengikuti babak final, dan daftar finalis berdasarkan abjad.
Namanya sendiri berada di urutan ke-18 dari 20 finalis yang berhak masuk final. Oti juga melihat nama Revi berada diurutan kedua belas.
Dia juga masuk!Batin Oti.
"Revi juga masuk tuh!" ujar Ticka. Oti mengangguk.
"Udah gue bilang, kan? Lo pasti bisa kalo lo
mau," lanjut Ticka.
"Kini kedudukan kalian masih seri, karena sama-sama masuk final," Laras menambahkan. Ekspresi wajah cewek itu keliatan biasa-biasa aja. Nggak menampakkan kegembiraan yang berlebihan kaya Ticka.
"Kok lo gak gembira sih? Lo gak senang masuk final?" tanya Ticka melihat ekspresi Oti yang biasa aja, nggak menunjukkan kegembiraan.
"Ya setidaknya kasih ekspresi gembira kayak gue kek..."
"Emang harus?" tanga Oti.
"Ya harus dong...!!" tegas Ticka.
__ADS_1
"Udah-udah." Laras melihat bibit-bibit 'Perang' diantara Oti dan Ticka.
"Selanjutnya, gimana, Ot? Lo masih mau terus maju, kan?" tanya Laras kemudian. Oti terdiam sejenak, kemudian mengangguk.
"Tentu aja. Gue gak akan kalah sama ratu kesiangan itu, maju terus pantang mundur....," kata Oti mantap. Semangatnya muncul lagi.
"Bagus." Laras menepuk pundak Oti.
"Kalo begitu nanti siang kita ke tempat Tante Wijaya lagi."
"Nanti siang?" tanya Oti.
"Iya. Kamu harus bersiap-siap sejak dini. Ingat, pemilihannya sebulan lagi."
Oti nggak menjawab. Wajahnya seketika itu juga berubah. Dia hanya dapat membayangkan wajahnya kembali diacak-acak Iwan.
Tante Wijaya dan Iwan, yang mendengar kabar lolosnya Oti ke babak final, nggak bisa menutupin rasa terkejutnya. Terutama Iwan yang hanga bisa geleng-geleng kepala, seakan gak percaya kabar itu.
"Jadi bagaimana, Wan?" tanya Tante Wijaya sambil tersenyum kepada Iwan.
"Ya... mungkin seperti yang kita bicarakan, Tante," jawab Iwan.
Ada apa, Tante?" tanya Laras bingung. Demikian juga Oti dan Ticka.
"Begini... Tante pernah berbincang-bincang dengan Iwan mengenai kemungkinan seandainya Oti masuk final...," Tante Wijaya menjelaskan.
"Dan Tante maupun Iwan berpendapat, jika Oti ingin berhasil di final nanti, bukan hanya penampilan wajah dan rambut yang harus diubah."
__ADS_1
"Maksud Tante?"
"Biasanya dalam pemilihan semacam itu bukan hanya wajah dan bentuk tubuh yang dinilai. Gaya berjalan, cara berbicara, bahkan cara duduk pun ikut dinilai."
Mendengar ucapan Tante Wijaya, ketiga cewek di depannya berpandangan.
"Jadi maksud Tante, Otu harus mengubah cara bicara dan gaya jalan Oti?" tanya Oti.
"Yaaaa.... seperti itulah...," jawab Tante Wijaya.
"Emang kenapa? Ada yang salah dengan cara bicara dan gaya jalan Oti?"
"Bukan salah. Tapi namanya juga pemilihan untuk wanita. Tentu aja juri akan menilai berdasarkan standar wanita normal," jawab Iwan.
Oti membelalakkan matanya ke arah penata rias itu.
"Gue kira Iwan benar, Ot. Kalo mau menang, lo harus mengubah gaya jalan sama bicara lo. jangan kaya preman gitu," kata Ticka.
"Habis gimana lagi. Orang dari dulu gaya gue begini kok. Susah kan ngubahnya."
"Kalo mau berusaha pasti bisa," jawab Tante Wijaya.
Oti, Laras, dan Ticka kembali memandang wanita itu dengan heran.
"Nanti Iwan yang akan melatih Oti. Bukan begitu, Wan?" tanya Tante Wijaya sambil melirik Iwan, yang tampaknya sedang berpikir keras bagaimana cara mengubah gaya Oti. Rasanya itu mission impossible.
Sejak saat itu, setiap akhir pekan Oti selalu mendapat pelatihan khusus dari Iwan, satu hal yang membuatnya tersiksa.
__ADS_1