Victory

Victory
Bab 8


__ADS_3

"OK, para KQ-mania, nggak terasa waktu udah hampir nunjukkin jam dua belas tengah malam. Dan itu berarti tuntas juga kebersamaan kita dalam Your Night untuk malam ini. Kita berjumpa lagi besok, terima kasih atas kebersamaan para KQ-mania, and get a better day tomorrow with QLY 103,2 Mhz, see you..."


Sebuah lagu berirama mellow mengiringi kata-kara Raka. Raka melepas headset di kepalanya. Dia menguap sebentar.


"Udah ngatuk ya, Ka?" tanya Dewo yang bertugas sebagai operator siaran mendampingi Raka ketika cowok itu keluar dari ruang siaran.


"Iya, Mas. Tadi pulang sekolah ada pelajaran tambahan, jadi gak sempet istirahat."


"Ok deh! Met istirahat aja."


"Sama-sama, Mas" Raka mengambil jaket kulit nya yang tergantung di kursi pada salah satu sudut ruangan. Raka tahu Dewo nggak akan langsung pulang seperti dirinya.


Dia masih akan mengatur dan me-mixing beberapa lagu, karena QLY FM, radio tempatnya bekerja emang siaran 24 jam, walaupun acara yang dibawakan Raka merupakan acara terakhir malam ini. Seterusnya QLY FM hanya memutar lagu-lagu hingga menjelang pagi, dan Dewo bertugas mengatur lagu-lagu tersebut.


----------


setengah jam kemudian Raka sampe di rumahnya. Pasti udah pada tidur! batin Raka melihat keadaan rumahnya yang gelap.


Selama ini setiap pulang malam, Raka sebetulnya selalu waswas meninggalkan adiknya sendirian di rumah, Apalagi itu terjadi hampir setiap hari.


Karena itu di studio, dia selalu menyempatkan diri menelepon adiknya, memastikan semua baik-baik saja.


Sejak kedatangan Oti, rasa waswas itu sedikit berkurang. Paling nggak sekarang ada yang nemenin Ai di malam hari. Walaupun begitu ada sesuatu yang masih mengganjal hatinya.

__ADS_1


Menurut ayahnya, sewktu di SMP Oti sering keluyuran pulang malam. Raka khawatir kelakuan Oti akan sama disini. Walaupun ayahnya sudah mengingatkan Oti agar mengubah kelakuannya, tapi Raka masih sangsi. Apalagi kini dia jauh dari pengawasan orang yang lebih tua. Nggak ada yang perlu ditakutinya.


Kalo sekarang Oti selalu ada di rumah sepulang sekolah, mungkin aja karena belum begitu mengenal daerah Bandung, atau belum begitu mengenal teman-teman barunya.


Lalu, apakah nanti kebiasaanya akan menular ke Ai? Ai yang sangat alim dan polos itu? Mudah-mudahan nggak. Apalagi Raka melihat Ticka dan Laras, teman-teman baru Oti, sepertinya bertipe cewek-cewek alim yang nggak suka macam-macam. Mungkin aja adik tirinya itu emang sudah berubah.


Dengan kunci yang dibawanya, Raka membuka pintu depan. Lampu ruang tamu memang udah dimatikan. Tapi masih ada cahaya, seperti cahaya TV. Dan benar saja. Oti masih asyik nonton TV. Dia sama sekali nggak terusik kehadiran Raka.


"Lo belum tidur?" tanya Raka. Mendengar pertanyaan Raka baru Oti menoleh.


"Udah pulang?" dia balik bertanya. Basi! pikir Raka. Terang aja dia udah pulang. Kalo nggak masa sih sekarang dia ada di sini?


"Kalo lo bdlum tidur, kenapa nggak bukain pintu? jadi gue gak perlu pakai kunci cadangan. Lo denger suara motor gue, kan?"


"Ooo, itu lo? Gue kirain tukang ojek"


"Eh, lo minjam CD player gue?" tanya Raka.


"O iya, tadi gue beli CD baru, jadi gue pinjam CD player lo sebentar," kata Oti.


"Ya udah, sekarang kembaliin ke kamar gue," kata Raka.


"Sekarang? Besok aja deh! Malas nih ngangkatnya. Kan lumayan berat, gak bisa sekali ngangkat"

__ADS_1


"Enak aja! Tadi lo mau minjamnya. Sekarang disuruh ngembaliin nggak mau. Lagian kenapa lo gak pinjam punya Ai sih?" tanya Raka.


"Bukan gitu. Sekarang kan udah malam. Punya Ai tadi di pake. Ya gue pake aja yang lagi nganggur. Lagian apa lo butuh sekarang? Kalo lo butuh ambil aja sendiri. Tapi keluarin dulu CD gue, and kalo lo mau pinjem jangan dulu Gue belum selesai ngedengerinnya," kata Oti.


Pengin rasanya Rak mencekik cewek di hadapannya. Tapi Raka masih bisa menahan diri.Raka kembali ke kamarnya.


"Eh, tunggu..." Suara Oti menghentika langkah Raka.


"Ada apa?" tanya Raka tanpa menoleh.


"Lo besok sibuk nggak?" tanya Oti.


"Emang kenapa?"


"Pulang sekolah anterin gue beli CD player, ya? Tadi gue udah bilang Papa, dan Papa setuju. Sekalian gue juga mau beli TV buat di kamar."


"Kenapa harus sama gue? Lo kan bisa sendiri. Barangnya minta diantwe aja ke rumah," kata Raka.


"Bukan soal bawanya. Kali aja lo tau toko yang murah di Bandung. Kan lumayan bisa ngirit. Lagian lo kan agak ngerti barang-barang elektronik. Biar gue nggak salah beli."


Raka terdiam sejenak mendengar ucapan Oti.


"Gak bisa. besok gue ada pelajaran tambahan, abis itu langsung siaran,"

__ADS_1


"Kalo gitu lo bisanya kapan? Hari Minggu bisa?" tanya Oti.


"Kayaknya gue sibuk terus. Gak ada waktu buat nemenin lo belanja," jawab Raka lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan Oti yang hanya bisa melongo mendengar jawaban kakak tirinya.


__ADS_2