
"Raka!"
Suara yang memanggil Raka seperti pernah didengarnya. Suara yang nggak pernah didengarnya selama dua tahun terakhir. Raka menoleh, dan...
"Oti?"
Raka seperti nggak percaya dengan pandangannya sendiri. Tapi bener, yang berdiri beberapa meter di hadapannya adalah Oti. Ya, bener-bener Oti.
Raka masih bisa ngenalin Oti, walau penampilan cewek yang berdiri di hadapannya beda dengan Oti yang terakhir kali dilihat Raka di bandara. Rambut Oti sekarang panjang sebahu, dan tergerai bebas. Dan yang bikin beda adalah kacamata tipis yang sekarang di pake Oti.
"Haiii..." Oti melambaikan tangan dan menghampiri Raka.
"Kok bengong? Kaget ya ketemu gue?" tanya Oti pada Raka yang masih melongo di tempatnya. Suara Oti keliatan biasa-biasa aja, seolah nggak ada beban sama sekali.
"Eh... nggak." Raka baru tersadar.
"Lo berdua duluan deh. Ntar gue nyusul...," lanjutnya kemudian pada Irma dan Adun.
"Tapi jangan lama-lama ya? Yuk, Dun!" kata Irma lalu menarik tangan Adun menjauhi Raka.
"Cewek kamu?" tanya Oti setelah mereka tinggal berdua.
"Temen kuliah," jawab Raka.
__ADS_1
"Emang mau ke mana?" tanya Oti.
"Mau ke kantin. Makan. Lo udah makan?" tanya Raka.
"Udah tadi."
Raka kembali memandang Oti. Sampai saat ini dia belum percaya yang berdiri di hadapannya ini bener-bener Oti. Dan kacamata itu... Raka sebetulnya nggak begitu kaget melihat Oti pakai kacamata. Ai pernah cerita padanya.
"Kok bengong lagi? Lo gak seneng ketemu gue?" tanya Oti lagi dengan nada menggoda.
"Kenapa lo bisa ada di sini?" tanya Raka akhirnya.
"Nah gitu dong. Gue kira lo nggak pernah nanya kenapa gue ada di sini?" kata Oti.
"Siapa sih?" tanya Irma.
Adun cuman mengangkat bahu.
"Mana gue tau. Mungkin adiknya, temennya, atau bisa aja ceweknya Raka. Kenapa? Cemburu?"
"Yeee... Kenapa gue harus cemburu?" tanya Irma.
-----------------
__ADS_1
"Gue nggak bisa lama di sini karena udah di tunggu Laras." kata Oti.
"Laras?"
"Ya. Lo nggak tau dia masuk UNPAD juga? Di Fikom? Gue tadi nganterin dia daftar ulang, terus mampir aja ke sini, siapa tau ketemu lo. Soalnya Ai bilang lo dari pagi udah ngejogrok di sini," kata Oti.
"Lo tadi me rumah?" tanya Raka.
"Iya lah! Gue sebetulnya pengen ngobrol banyak sama lo. Karena itu lo ntar malem jemput gue di tempat neneknya Laras, ya? Lo masih ingat rumahnya, kan?" tanya Oti.
Raka mengangguk.
"Jangan lupa pake pakaian yang rapi! Jangan pake kaus oblong sama jins! Minimal harus pake kemeja," kata Oti.
"Emang kita mau ke mana?" tanya Raka.
Oti mengedipkan mata.
"Ntar lo juga tau. Gue tunggu loh! Inget! Jam tujuh pas, jangan sampe telat!" Setelah ngomong gitu Oti meninggalkan Raka, setengah berlari menuju sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari situ.
Sepeninggal Oti, Raka masih tetap terpaku di tempat. Dia emang kaget ngeliat kemunculan Oti yang tiba-tiba.
Sikap Oti tadi sama sekalin nggak nunjukin sikap orang yang pernah mencintainya. Sama sekali nggak nunjukkin sikap kekasih yang terpisah selama dua tahun.
__ADS_1
Sikap Oti keliatan santai, seperti saat pertama kali datang dan ketemu Raka dua tahun yang lalu.