
Oti sudah sadar. Tapi karena kondisinya belum benar-benar stabil, ia masih berada di ICU. Beberapa bagian tubuhnya seperti kepala, kaki, dan tangannya emang masih dibalut perban.
Keliatannya nggak ada luka serius pada tubuh Oti. Hanya patah tulang pada tangan kirinya, dan beberapa tulang rusuknya.
Saat Oti sadar, semua yang menunggunya berharap-harap cemas, menanti apa yang terjadi. Oti cuman diam begitu tau bagian bawah tubuhnya kayak mati rasa.
Tapi diluar dugaan, tidak ada ekspresi shock atau terkejut pada wajahnya. Justru mamanya yang terus-terusan menangis tersedu-sedu sambil memeluk Oti, diikuti pandangan ayahnya dan Raka, yang ikut masuk ke ICU. Oti juga keliatan tabah ketika ayahnye memberitahukan tentamg kelumpuhannya.
"Gak papa... Yang penting Oti selamet," ujar Oti lemah saat diberitahu papanya. Papanya mengangguk pelan sambil menjelaskan juga mengenai ginjalnya yang terpaksa di angkat.
"Itung-itung Oti istirahat. Oti sudah tau kok bakal kayak gini. Ada yang memberitahukan lewat mimpi. Mungkin Papa Ardi," ujar Oti tenang, membuat semua orang yang melihatnya merasa terharu.
"Oti, mungkin kamu akan mendapatkan ginjalmu kembali," kata papanya.
"Cangkok ginjal ya, Pa? Oti pernah dengar soal itu. Trus... siapa yang jadi donornya?"
"Belum ditentukan. Antara gue sama ayah, tergantung hasil tes nanti," Raka yang menjawab.
"Lo? Tapi ntar lo atau Papa bakal hidup dengan satu ginjal. Ini nggak fair! Oti nggak mau kalo nanti bikin susah orang lain..." gumam Oti yang biarpun lemah tapi tetap protes dan gak mau menyusahkan orang lain.
"Gak papa, Sayang. Kalo nanti hasil tes menunjukkan kami berdua bisa jadi donor buat kamu, biar Papa yang jadi donor..." jawab papanya.
"Tapi..."
"Papa sudah tua. Sudah tidak banyak aktivitas. Sekarang kamu masih muda. Masa depan kamu masih panjang..."
"Pa..."
"Udah, jangan pikirkan duli soal ini. Yang penting kamu istirahat aja dulu, supaya cepat sembuh..." kaya papanya sambil membelai rambut Oti. Oti nggak bisa membantah ucapan papanya lagi.
Raka dan ayahnya berpandang-pandangan, tidak berani mengatakan alasan sebenarnya cangkok ginjal itu perlu dilakukan.
----------------
Hampir seminggu Oti berada di rumah sakit. Kecuali kakinya yang lumpuh, kesehatannya sudah mulai membaik. Kemajuannya begitu pesat, sampai akhirnya dr. Satrio memususkan memindahkannya dari ruang ICU ke ruang rawat biasa.
Oti pun keliatan ceria. Tampaknya ia sudah bisa menerima keadaan tubuhnya. Apalagi hampir setiap hari Laras menjenguknya, sepulang dari kegiatan MABIM.
Selain Laras, Ticka juga pernah datang pas hari minggu. Dan seperti Laras saat pertama kali mengetahui kondisi Oti, Ticka pun menangis sambil memeluk sahabatnya itu. Justru Oti yang sibuk menghibur Ticka biar tidak terlalu bersedih.
Sore itu, seperti biasa sepulang jadi Panitia MABIM, Raka langsung pergi menjenguk Oti. Di dekat lift, dia ketemu dr. Satrio. Raka pun menanyakan tentang hasil tes DNA dia dan ayahnya.
"Hasilnya belum keluar. Selain di sini, kami melakukan tes sampel ke RSCM Jakarta, agar hasilnya lebih akurat," jawab dr. Satrio.
"Lalu, kapan kira-kira hasilnya bisa keluar, Dok?"
"Mungkin satu atau dua hari lagi hasilnya akan keluar. Selain itu melihat kemajua Victory, mungkin satu ginjalnya yang tersisa bisa menerima beban yang harus ditanggungnya," sahut dr. Satrio sambil menepuk pundak Raka. Tubuh Raka terasa disiram air dingin karena rasa lega luar biasa.
__ADS_1
"Tapi tentu semua harus kita tes lagi. Sabar ya...," lanjut dr. Satrio. Raka mengangguk penuh semangat. Ia bergegas ke kamar Oti.
Mendekati kamar Oti, keliatan sepi. Tidak terlihat seorang pun di sana. Raka membuka pintu kamar Oti. Juga tidak ada seorang pun, selain Oti yang keliatannya sedang tertidur lelap.
Kemana yang lain? tanya Raka dalam hati.
Pandangan Raka kemudian beralih pada Oti. Raka mendekati adik tirinya itu. Kedua mata Oti terpejam. Sekilas Raka melihat ada bekas air mata di kedua pipi cewek itu. Kayaknya Oti habis nangis.
Ada apa dengan Oti?
Kenapa dia sampe nangis
Bukannya selama ini Oti tidak pernah mengeluarkan air mata kesedihan? Bahkan ketika mengetahui dirinya lumpuh, cewek itu tetap tabah dan tidak menangis sedikit pun. Melihat itu Raka jadi ingat Ayu, adik Ajeng yang juga lumpuh. Ayu juga keliatan tegar menghadapi apa yang menimpa dirinya.
Nggak ingin mengganggu tidur Oti, Raka memilih untuk keluar kamar. Tapi baru beberapa langkah dia mendekati pintu, Oti terbangun.
"Lo udah dateng?" tanya Oti lirih.
Raka menoleh.
"Sori, gue gak mau ngebangunin lo."
Oti tersenyum kecil.
"Gak papa. Emang ini saatnya gue bangun kok."
"Ayah dan Tante Heni?" tanya Raka.
"Mereka pulang. Gue yang minta. Kasian kan, terutama Papa. Istirahatnya kurang karena nungguin gue,"
Oh, gitu... Lo habis nangis? Kenapa?" tanya Raka langsung.
"Kata siapa? Gosip tuh! Gue gak papa kok"
Oti berusaha mengelak sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
"Ot, gue kan sudah pernah bilang lo tuh gak bakat bohong. Jangan bilang nggak ada apa-apa. Baru sekali gue liat lo ngeluarin air mata, yaitu saat mutusin pergi ke London. Dan sekarang. Kenapa?"
Oti diam sejenak. Tidak langsung menjawab pertanyaan Raka.
"Lo sudah tau soal kalung iti dari Laras, kan? Soal gue?" Oti balik bertanya.
"Ot, jangan ngalihin masalah," kata Raka.
"Atau... ini ada hubungannya?"
Oti memalingkan wajahnya ke jendela. Pamdangan matanya mendadak menjadi kosong.
__ADS_1
"Jangan salahin Laras. Dia hanya gak tega melihat lo menderita," kata Raka.
"Gue gak nyalahin Laras. Dia sahabat terbaik yang pernah gue punya. Gue tau dia sangat perhatian ke gue," kata Oti.
"Kenapa lo begitu, Ot?"
"Gue kan udah pernah bilang..."
"Gue tau. Tapi kan lo nggak perlu nutupin perasaan lo, apalagi boong sama gue," sergah Raka.
"Gue gak ada pilihan lain," kata Oti.
Suasana hening sejenak. Masing-masing berdiam diri.
"Ka, apa lo akan tetap mencintai gue? Apa pun yang terjadi?"
Raka tertegun sejenak mendengar pertanyaan Oti.
"Tentu saja," jawabnya.
"Walaupun gue lumpuh dan gak bisa jalan lagi? Dan lebih burul lagi, kalo aja ginjal lo sama ginjal Papa nggak bisa dicangkok ke gue, gue bakal jadi orang lumpuh yang sakit-sakitan..." tanya Oti.
"Lo ngomong apa sih? Operasi pencangkokan itu pasti sukses. Lo bisa kembali seperti semula, walau nggak bisa jalan," kata Raka tegas.
Sebenarnya ia tak sabar ingin memberitahu kata-kata dr. Satrio tadi, tapi takut salah, jadi informasi itu disimpannya sendiri.
"Andai nggak bisa, dan gue tetap seorang yang lumpuh dan sakit-sakitan seumur hidup gue, apa lo tetap mencintai gue?" tanya Oti.
Mendengar pertanyaan itu Raka menghela napas sejenak.
"Ot, biarpun seluruh badan lo lumpuh dan sakit-sakitan, cinta gue pada lo gak akan berubah. Gue mencintai lo bukan karena fisik lo, tapi karena sifat dan hati lo. Apa pun yang terjadi, gue akan selalu berada di sisi lo. Mendampingi lo."
Ucapan Raka tidak terasa membuat Oti yang sedang memalingkan wajah kembali meneteskan air mata.
"Ot? Lo nangis? Jadi ini yang membuat lo nangis?" tanya Raka. Tangannya menyentuh lembut wajah Oti, memalingkannya sehinggak menghadap ke arahnya.
"Biasanya lo selau tabah..."
"Ka, boong kalo gue tabah menghadapi semua ini. Manusia manapun akan hancur hatinya pas tau dirinya jadi cacat, dan kondisi fisik yang sudah tidak seperti dulu lagi. Gue pura-pura bersikap tabah di hadapan Papa, Mama, dan yang lainnya, biar mereka nggak terlalu bersedih. Tapi saat sendirian, gue sering mikirin hal ini. Dalam hati, gue juga takut menjadi cacat, takut segala impian gue seketika terenggut, dan takut tidak ada seorangpun yang mau berada di dekat gue. Gue gak mau hal itu terjadi," ratap Oti.
Raka mendelatkan badannya ke arah Oti dan menarik kepala Oti hingga bersandar di dadanya.
"Hati lo bener-bener mulia, Ot. Dalam keadaan begini, lo masih sempat mikirin perasaan orang lain. Jangan khawatir, nggak akan ada yang berubah. Gue gak akan ninggalin lo, kapan pun lo butuh gue," kata Raka. Tangannya mengelus rambut Oti.
"Jangan tingalin gue, Ka. Gue takut. Gue benar-benar butuh lo," ujar Oti di sela-sela isak tangisnya.
"Nggak akan. Walau gue sekarang sadar kalo kita gak akan pernah bersatu selamanya. Tapi gue akan selalu mendampingi lo, ada di sisi lo sampai lo punya seseorang yang benar-benar mencintai lo seperti halnya gue, dan mau mendampingi lo selamanya," janji Raka.
__ADS_1