Victory

Victory
Bab 23


__ADS_3

Nggak cuman Raka, semua yang mengenal Oti juga nggak percaya melihat penampilan Oti malam ini. Bahkan Bayu pun sampai melongo. Padahal penampilan Revi dan finalis lainnya pun nggak kalah cantiknya dari Oti, bahkan ada yang lebih cantik


"Gila, Bay, lo pinter juga. Kalo tau Oti bisa jadi secakep ini, udah dari dulu gue gebet dia," komentar Aris, salah satu teman Bayu.


"Hebat betul Iwan, bisa mengubah Oti jadi kayak gini," puji Ticka takjub.


"Ini bukan kehebatan Iwan, tapi karena Oti udah mengeluarkan apa yang selama ini tersembunyi di balik penampilannya," sahut Laras yang berada di samping Ticka. Ticka hanya mengangguk, tanda setuju dengan pendapat sahabatnya itu.


Selesai berlenggak-lenggok dan diperkenalkan di atas panggung, para finalis kembali ke belakang panggung untuk bersiap-siap ke acara berikutnya, yaitu wawancara.


Kemampuan dan wawasan mereka akan dinilai para juri. Setiap finalis diberi satu topik oleh pembawa acara atau yang lebih beken dengan sebutan MC, dan diminta menguraikan opininya untuk topik tersebut. Pokoknya kayak pemilihan Miss Universe deh!


"Bagus! Iwan lihat kamu dapat menyedot perhatian penonton, terutama teman-teman kamu," puji Iwan sambil merapikan riasan wajah Oti. Setiap finalis emang boleh membawa seorang asisten saat pemilihan. Biasanya mereka membawa penata riasnya mereka sendiri.


"Ah, yang bener?" tanya Oti nggak percaya. Dia merasa dirinya hampir-hampir nggak dapat bergerak di panggung karena begitu gugup.

__ADS_1


"Bener deh. Masa Iwan boong."


------------------------


Revi dipanggil sebagai finalis kedua belas. Dia di minta pendapatnya mengenai kehidupan.


"Kehidupan adalah hal terpenting dalam diri manusia. Bisa melihat matahari terbit esok hari, merupakan karunia besar. Banyak yang tidak menyadari hal itu. Banyak orang yang menyia-nyiakan hudup mereka, atau bahkan menyia-nyiakan hidup orang lain, merampas hak hidup seseorang. Padahal kita semua tau, kehidupan yang kita miliki merupakan pemberian dari tuhan. Oleh karena itu, hanya Tuhan pulalah yang berhak mengambil kehidupan itu, dan bukan manusia..." tepuk tangan mengiringi ucapan Revi.


"Gue gak nyangka Revi bisa ngomong kayak gitu. Kayak bukan dia aja," komentar Ticka.


Ofi berjalan ke depan mic yang berada di tengah panggung. Kemudian dia diminta mengambil memilih nomor pertanyaan yang ada di layar monitor sebuah notebook yang ada di sisi MC. Setelah itu MC membacakan pertanyaan sesuai nomor yang dipilih Oti.


"Anda siap?" tanya si MC. Oti mengangguk, walau saat ini jantungnya deg-degan banget.


"Baik. Apa definisi Anda tentang cinta?" suatu pertanyaan yang mengundang keriuhan di kalangan penonton. Oti nggak langsung menjawab. Dia memikirkan jawabannya sejenak. Cinta? Oti membatin.

__ADS_1


"Cinta... cinta adalah saat kita memberi tanpa mengharapkan akan menerima..," jawab Oti yang makin membuat riuh susana.


"Cinta merupakan pengorbanan yang sangat besar untuk seseorang yang dekat dengan kita. Cinta adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Bahkan dari hidup sekalipun. Orang rela mengorbankan nyawanya demi cinta. Cinta seseoran akan tetap ada, walaupun orang itu telah meninggal. Tapi orang itu tidak akan dapat hidup jika tidak memiliki cinta. Hidupnya akan terasa hampa, tidak ada bedanya dengan orang mati. Karena begitu berharga, maka cinta harus dijaga dengan baik. Orang yang merusak arti cinta tidak berhak hidup di dunia ini, karena dunia tanpa cinta adalah kebohongan belaka..."


Suasana seketika itu menjadi hening. Beberapa saat kemudian, terdengar tepuk tangan dari penonton di sudut belakang, disusul penonton lain.


Mereka memberikan applause yang luar biasa kepada Oti. Oti hanya tersenyum, sebelum dipersilahkan turun dari panggung.


Gak nyangka Oti bisa ngucapin hal kayak gitu! batin Raka.


"Bagus banget jawaban kamu...," sambut Risma di belakang panggung sambil memeluk Oti.


"Kita semua sampai terpana mendengarnya. Itu kata-kata kamu? Atau kamu ambil dari sumber lain? Di mana? Kahlil Gibran? Atau Sigmund Freud?" tanya Risma.


"Bukan... dari komik Jepang!" jawab Oti seenaknya, yang membuat Risma hanya bisa melongo.

__ADS_1


__ADS_2