
Pepatah yang mengatakan "Sepintar-pintarnya orang ngerjain ulangan, pasti ada juga salahnya" ternyata juga berlaku bagi Oti dan Raka. Sepandai-pandainya mereka menyembunyikan hubungan mereka, akhirnya tercium juga oleh Ai.
Kecurigaan Ai bermula dari seringnya Raka pergi berduaan dengan Oti, terutama malam minggu. Oti dan Raka juga ngga bersikap cuek-cuekan lagi saat keduanya ada di rumah. Oti sekarang sering ikut Raka kalo ke sekolah. Padahal biasanya dia ngga pernah ikut, kecuali kalo telat bangun.
Pancaran mata kedua kakaknya saat bersama, membuat kecurigaan Ai semakin kuat. Tapi Ai belum berani nanyain hubungan kedua kakaknya itu secara langsung. Dia menunggu saat yang tepat untuk itu. Dan akhirnya saat itu pun datang, ketika Ai sedang berdua dengan Oti di rumah. Raka belum pulang karena masih siaran malam.
"Kak...," Ai mulai membuka pembicaraan.
Keliatannya dia masih ragu-ragu. Ngomong nggak ya?
"Ada apa?" tanya Otu yang sedang nonton TV, sambil makan kacang goreng buatan neneknya Laras. Makannya ditodong lagi. Gak takut jerawatan tuh anak?😂
"Kak Oti pacaran sama Kak Raka?"
Suara Ai sangat pelan, tapu cukup untuk membuat Oti bagaikan disengat listrik ribuan volt. Oti menghentikan makannya dan menoleh ke arah Ai yang duduk beberapa meter darinya dengan pandangan tajam.
"Maaf kalo Ai..."
"Ai tahu dari mana?"
__ADS_1
Ucapan Oti membuat Ai jadi tambah yakin.
"Jadi Kakak beneran pacaran dengan Kak Raka?"
Oti menghela napas. Dia nggak tau apa yang harus dikatakannya sekarang. Raka nggak ada di sini, sehingga ngga bisa membantu. Walaupun begitu Oti menyadari saat ini pasti akan tiba. Cepat atau lambat hubungan mereka pasti akan diketahui pihak lain.
"Ai lihat akhir-akhir ini Kak Oti sangat dekat dengan Kak Raka. Ngga kayak sebelumnya. Sikap kakak berdua juga lain. Dan yang membuat Ai mengambil kesimpulan demikian, malam minggu kemarin, saat kakak berdua pulang, kebetulan Ai belum tidur. Ai lihat Kak Raka mencium kening Kak Oti."
Selama ini Oti dan Raka emang berusaha bersikap wajar, baik di depan Ai maupun teman-teman mereka. Tapi tetap aja ada sesuatu yang berubah. Oti dan Raka ngga menyadari hal itu.
"Terus terang, kalo Kak Oti dan Kak Raka pacaran, Ai senang, karena itu sesuai dengan harapan Ai."
"Kamu nggak keberatan Kak Oti pacaran sama Kak Raka?" tanya Oti yang heran dengan ucapan Ai.
"Nggak. Justru Ai sangat ngeharepin hal itu. Ai sangat sayang sama Kak Oti dan Kak Raka. Dan Ai ingin selalu bersama kakak berdua. Tadinya Ai ngerasa hal itu nggak mungkin, karena melihat sikap Kak Oti yang cuek dengan Kak Raka, juga sebaliknya. Tapi setelah peristiwa tertembaknya Kak Oti, Kak Raka jadi sangat parhatian ke Kak Oti. Dan Itu membuat harapan Ai tumbuh kembali, walaupun Ai tau sangat sulit untuk memujudkannnya. Untunglah akhirnya bisa terwujud," kata Ai sambil tersenyum.
"Kamu setuju walau kami berdua saudara? Kakak-beradik?" tanya Oti.
"Tapi kan Kak Oti dan Kak Raka bukan saudara kandung. Nggak ada hubungan darah. Tentu saja Ai setuju. Yang nggak boleh adalah kalo Ai yang pacaran sama Kak Raka. Itu baru dosa. Inses."
__ADS_1
"Apalagi kalo Kak Oti sama Ai, ya? Lebih gak boleh lagi he... he... he...," sahut Oti.
Ucapan Ai menimbulkan angin segar di hati Oti. Satu kekhawatiran dirinya dan Raka sudah terlewati. Ao setuju dengan hubungan mereka. Tinggal kedua orang tua mereka aja yang jadi kekhawatiran terbesar.
"Ai nggak tau. Tapi Ai kira asal kakak berdua membcarakannya baik-baik, Ayah dan Ibu pasti mengerti. Lagi pula Kakak kan nggak melakukan kesalahan. Ngga kayak Kakak Raka yang memanggil ibunya Kak Oti dengan sebutan Tante Heni, Ai memanggilnya dengan sebutan Ibu. Bener kan Kakak ngga melakukan kesalahan?" Ai mengulangi ucapannya. Tatapan mata cewek itu memandang Oti penuh arti.
"Maksud kamu?" Ai hanya terus memandang Oti. Lama-lama Oti ngerti apa naksud perkataan Ai.
"Ooo itu... kalo itu maksud kamu, jangan khawatir. Walau tinggal serumah, tapi kami masih bisa menjaga diri kami dari hal-hal kayak gitu. Kakak dan Kak Raka udah berjanji untuk ngga melakukan hal-hal yang dapat merugikan hubungan kami. Percayalah," kata Oti.
"Ai percaya. Kalo perlu Ai akan membantu ngomongin ke Ayah dan Ibu."
"Jangan!" segah Oti.
"Kenapa?" tanya Ai bingung.
"Maksud Kakak, jangan dulu. Biar Kak Oti atau Kak Raka yang menyampaikan langsung pada Papa dan Mama. Kami sedang menunggu waktu yang tepat. Untuk itu sementara ini mereka jangan sampai tau. Kamu bisa jaga rahasia ini, kan?" tanya Oti.
"Jangan khawatir. Kakak percaya deh sama Ai. By the way, mana nih acara makan-makannya? Kok jadian ngga dirayain sih?" tanya Ai.
__ADS_1
"Wah... Kak Oti lagi bokek sekarang. Kamu minta sama Kak Raka aja, ya? Dia lagi banyak duit loh! Baru terima bonus dari radionya. Ntar kalo mau makan-makan, ajak-ajak Kak Oti. Kak Oti juga pengin he... he... he...," jawab Oti kumat gilanya.