Victory

Victory
Bab 55 #END


__ADS_3

Enam bulan kemudian...


Seorang cewek berambut panjang dan beerbaju putih dengan celana hitam turun dari angkot, di depan gedung Sabuga, ITB, tempat sedang diadakan pameran buku berskala nasional.


"Yah... udah telat," gumam Ai saat melihat jam tangannya. Suasana saat itu lagi ramai-ramainya. Ai baru saja habis latihan PMR di SMA-nya dan langsung ke tempat pameran karena ada janji dengan seseorang.


Setelah nitipin tasnya di counter penitipan ( dan sempet ngasih senyum manis ke petugasnya yang ternyata lumayan imut,) Ai segera masuk ke ruangan pameran. Sesampainya di dalam, dia celingukan. Pameran ini sangat ramai oleh pengunjung, maklum hari Minggu.


Pandangan Ai tertuju pada panggung mini yang berada di bagian depan ruang pameran ruangan. Di latar belakang panggung itu terdapat spanduk dengan tulisan besar-besar:


JUMPA PENGARANG NOVEL BEST SELLER:


LOVE DESTINY


VICTORY FEBRIANI


Ai tersenyum. Novel perdana Oti udah berulang kali dibacanya. Dia tau kenapa novel itu laris dan disukai banyak orang. Oti menulis novelnya dengan hati, dengan seluruh jiwa dan perasaanya. Seolah-olah Oti ingin memberitahukan pada semua orang apa yang ia rasakan saat menulis novelnya. Bahkan saking larisnya, kabarnya novelnya mau difilmkan, walau menurut Oti itu baru pembicaraan awal.


Ai menoleh karena ada yang menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Baru datang, ya? Kok ngos-ngosan?" tanya Raka yang tiba-tiba sudah ada di belakang Ai.


"Iih, Kakak. Kak Oti mana?" tanya Ai.


"Ngerasa bersalah nih?"


Suara itu datang dari belakang Raka. Dan ketika Raka menyingkir, Ai melihat cewek berkacamata tipis berambut panjang sebahu duduk di kursi roda.


"Sori deh, Kak... soalnya Ai baru selesai latihan jam setengah satu. Mana jalan macet lagi. Kakak tau kan, gimana lalu lintas di Bandung kalo hari Minggu," kata Ai minta maaf.


"Ya udah gak papa. Acaranya juga belum dimulai kok!" kata Oti.


"Kan nungguin kamu he... he... he..."


Ai cuman tersenyum mendengar ucapan Oti yang bernada bercanda itu.


Seorang panitia acara mendekat ke arah Oti dan memberitahu acara akan dimulai.


"Ke sana yuk!" ajak Oti ke Ai. Mereka bertiga pun berjalan ke panggung.

__ADS_1


Sesampainya di depang panggung, masalah kecil pun timbul. Panggung yang lumayan tinggi itu membawa masalah tersendiri bagi Oti. Dia nggak mungkin naik sendiri ke panggung menggunakan kursi rodanya. Oti menoleh ke arah Raka. Tanpa ngomong sepatah kata pun, Raka seolah tau apa yang diinginkannya. Raka memanggil seorang panitia cowok di dekatnya.


"Tolong ya...," pinta Raka. Lalu dia mengambil tas yang ada di pangkuan Oti dan memberikannya pada Ai.


"Kamu pegangin tas Kak Oti."


Setelah mengatakan itu, Raka menyelipkan kedua tangannya ke punggung dan kaki Oti. Oti pun merangkulkan kedua tangannya ke leher Raka.


Dengan satu gerakan, Raka mengangkat Oti dan membopongnya. Apa yang dilakukan Raka menarik perhatian orang-orang yang ada di situ. Tapi Raka tidak perduli.


Raka membopong Oti ke panggung diikuti Ai dan panitia yang membawa kursi roda. Sesampainya di tengah panggung, Oti kembali duduk di kursi rodanya.


"Makasih ya...," ujar Oti dibalas senyuman Raka.


Ai melihat kebahagiaan Oti dan Raka. Kebahagiaan yang berlandaskan cinta. Kelumpuhan Oti sama nggak memudarkan rasa cinta di hati mereka, malah semakin merekatkannya. Cincin pertunangan yang melingkar di jari Oti dan Raka. Membuktikan hal itu.


Ada sedikit perasaan iri di hati Ai melihat kebahagiaan keduanya. Dia nggak tau apakah dirinya nanti juga mendapat kebahagiaan seperti yang didapat kedua kakaknya itu.


Tapi walau begitu, dalam hatinya Ai juga ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Dia bersyukur dapat melihat dan merasakan langsung kemenangan kekuatan cinta yang suci, yang dapat mengalahkan segala macam rintangan dan waktu. Sesuatu yang udah langka di dunia ini, dunia yang penuh kepalsuan dan kemunafikan.

__ADS_1


__ADS_2