Victory

Victory
Bab 16


__ADS_3

Ternyata hari ini bukan Raka aja yang ngerasa happy. Oti juga. Sejak siang tadi dia jalan bareng Bayu. Oti akhirnya nggak bisa nolak ajakan Bayu buat jalan, karena sebenarnya dia juga suka sama cowok itu. Mereka berdua nonton film di bioskop, makan, dan jalan-jalan di mal. Karena itu sepulangnya ke rumah, wajah cewek tomboi itu tampak berseri-seri.


Malam ini udara Bandung terasa panas. Raka yang udah pengen tidur, terpaksa mengurungkan niatnya. Matanya ngga mau terpejam. Karena itu dia memutuskan nonton TV di ruang tengah. Siapa tau dirinya bisa ketiduran di depan TV.


Jam menunjukkan pukul 23.00. Dengan remote di tangannya, Raka mencari saluran TV yang masih siaran. Nasibnya sial. Nggak ada acara yang disukainya. Yang ada berita tengah malam dan acara bincang-bincang. Ada saluran yang nayangin film, tapi film yang diputar film kacangan. Film yang isinya tembak-tembakan melulu, yang menurut Raka udah ketahuan yang mana penjahatnya dari awal cerita.


"Belum tidur?" sebuah suara terdengar di belakang Raka. Ternyata Oti berada di sana. Cewek iti mengenakan T-shirt bergambar Dora the Explorer dan celana pendek selutut.


"Panas. Gak bisa tidur. Lo sendiri kenapa belum tidur?"


"Gue lagi ngerjain sesuatu," kata Oti.


"Apa? Tugas?" tanya Raka.


"Want to know...," jawab Oti sambil melihat ke arah TV yang sedang menyiarkan acara musik.


"Eh, jangan diganti dulu! Ada Ayumi-Hamasaki!" seru Oti ketika dilihatnya Raka hendak mengganti saluran TV.


"Tapi itu kan lagu Jepang?" kata Raka.


"So what? Gue seneng lagu-lagu Jepang kok."


"Emang lo ngerti bahasanya?" tanya Raka.


"Emang harus ngerti buat bisa nikmatin lagunya?" Oti malah balas bertanya.


Oti duduk di karpet, di samping Raka. Agak mendesak, sehingga Raka terpaksa bergeser ke samping.


"Sori," kata Oti singkat.


Beberapa saat lamanya mereka terdiam, menonton acara TV.


Bukannya lo lagi ada kerjaan?" tanya Raka.


"Lagi refreshing dulu. Suntuk juga kan kelamaan di depan komputer," kata Oti.


"Komputernya gak dimatiin?" tanya Raka.

__ADS_1


"Biarin aja. Ntar gue juga balik


Enak aja bilang gitu! Boros listrik tau! Gerutu Raka dalam hati.


"Eh, thanks ya udah bikin komputer gue bisa nge-print," ujar Oti.


"You're welcome. Kenapa lo gak nge-print di komputer gue? Kan kamar gue gak dikunci. Kalaupun dikunci, Ai pegang kunci duplikatnya."


"Gak ah. Malas mindahin file-nya. Gue gak punya disket, dan belum punya flashdisk. Lagian ntar kalo ada apa-apa dengan komputer lo, gue lagi yang ketempuhan. Gue kan rada-rada gaptek."


Raka pengin bicara tentang apa yang dia temukan di komputer Oti, tapi Oti yang lebih dulu angkat bicara.


"Kata Ai lo lagi happy? Habis kencan?"


"Lo sendiri? Bukannya lo juga habis kencan?" Raka balas bertanya.


"Kok ditanya bales nanya sih?"


"Kalo iya kenapa?" Raka malas balas bertanya lagi.


"Ya nggak apa-apa aja" Oti jadi salah tingkah sendiri. Cewek itu menggaruk-garuk rambutnya lalu menguk air putih di gelas yang di bawanya.


Raka merasa wajah Oti sekarang sedikit lebih putih dan terlihat lebih bersinar dari biasa. Rambutnya yang agak panjang diikat karet ke belakang, makin menampakkan kecantikkan di wajahnya. Raka ngga tau wajah Oti udah dipermak habis-habisan di salon buat ngikutin pemilihan putri SMA.


lama-lama Oti merasa Raka sedang memerhatikan dirinya.


"Ada apa?" tanyanya sambil menoleh.


"Nggak. Nggak ada apa-apa kok." Raka cepat memalingkan mukanya.


"Lo keliatan capek. Kenapa gak tidur aja?" kata Oti mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar lagi."


Kemudian mereka berdua terdiam kembali. Menonton acara TV yang ada di hadapan mereka. Raka tampak canggung setelah Oti memergoki ia sedang mencuri pandang ke arahnya.


"Ayah pernah bilang, supaya lo jangan selalu pulang malam. Gue disuruh ngawasin lo," kata Raka akhirnya, membuka pembicaraan lagi.

__ADS_1


"Emangnya gue anak kecil harus diawasin!?" sergah Oti.


"Bukan gitu. Lo kan baru di sini, wajar dong kalau..."


"Papa cerita kalau di gue di Jakarta suka ngeluyur, pulang malam, dan lain sebagainya?" tiba-tiba Oti memotong pembicaraan Raka. Raka menatap Oti, kemudian mengangguk.


"Papa, selalu nganggap gue masih kecil..," lanjutnya.


"Semua orangtua pasti begitu...," kata Raka.


"Tapi Papa nyuruh Oom dan Tante untuk selalu mengawasi gue dengan ketat. Pdahal ke Gio, Papa ngga seketat itu."


Dio adik Oti berumur sepuluh tahun, anak hasil perkawinan ayah Raka dengan ibu Oti, yang selalu di panggil Raka dengan sebutan Tante Heni. Tidak seperti Oti, Dio ikut ayah-ibunya ke London dan bersekolah di sana.


"Mungkin karena dia cowok, beda sama lo. Lagi pula lo kan jauh dari mereka," kata Raka.


"Apa bedanya? Gue bisa jaga diri kok. Kalau alasan Papa, gue akan berbuat macam-macam di luar, emangnya lo gak bisa? Ai gak bisa?"


"Jangan bawa-bawa gue atau Ai. Ai ngga kayak lo," kata Raka galak.


"Gue tau. Gue cuman ngebandingin aja. Lagian Papa bukan Papa kandung gue, kenapa malah lebih rese ngurusin gue. Kenapa ngga anak-anaknya aja dia urus?"


Kata-kata Oti kontan memancing emosi Raka. Dia kembali teringat kejadian yang lalun saat perceraian ibunya.


"Masih mending ayah mau ngurusin lo! Kalo ingat perlakuan dia ke ibu, demi ibu lo....," kata Raka dengan suara meninggi.


"Jangan bawa-bawa mama gue!" suara Oti tak kalah kerasnya.


"Kenapa nggak? Ibu lo yang ngehancurin keluarga ini! Ngebikin gue sama Ai kehilangan Ayah!"


"Lo..." Oti hampir aja melayangkan tangan kanannya, hendak menampar Raka. Kalau aja nggak ingat siapa yang ada di hadapannya.


"Udah malam, gue ngga mau ribut-ribut. Jadi lo gak ngarepin kehadiran gue di sini? Fine! Gue akan pergi! Gue sebetulnya juga gerah tinggal di sini," kata Oti tegas


"Mau pergi ke mana? Gimana kalau Ayah tanya?" tanya Raka mulai cemas.


"Mau kemana itu urusan gue. Lo jangan sok nguatirin gue. Kalau Papa tanya, bilang aja itu atas kemauan gue!" Sehabis berkata demikian Oti beranjak dari duduknya, dan langsung menuju kamarnya di lantai atas, meninggalkan Raka yang terdiam.

__ADS_1



__ADS_2