
Penderitaan Raka belum hilang.Saat sekolah udah dimulai, dia harus ngantarin Oti dulu di hari pertamanya sekolah. Lagi lagi dia didesak ayahnya.
Oti nggak satu sekolah sama Raka. Dia sekolah di SMA Yudhawastu. Ya, karena nilai ijazah nya gak cukup buat masuk ke SMA Negeri.
Oti sendiri sebetulnya juga bersedia pergi sendiri tanpa diantar. Tapi dia juga didesak ayahnya untuk diantar Raka.
Alasan ayah Raka, Oti belum hafal benar daerah Bandung dan sekitarnya. Di mana Kalo nyasar? Raka sendiri sebetulnya nggak percaya orang kaya Oti bisa nyasar. Malah menurut Raka tuh anak Kayaknya lebih demen kalo nyasar, jadi bisa sekalian jalan-jalan. Tapi namanya juga orang tua, ayah Raka khawatir Oti mengalami kesulitan di hari pertamanya.
Begitulah, pagi-pagi Raka udah ngebut dengan motornya, berboncengan dengan Oti. Motor Tiger yang dibelinya lima tahun lalu itu di kebutnya dengan kecepatan tinggi, seolah-olah dia sengaja memancing kengerian Oti.
Tapi anehnya, Oti sama sekali enggak bereaksi. Sepanjang perjalanan Dia hanya diam membiarkan dirinya diterpa angin kencang di perjalanan.
Memasuki Kompleks SMA Yudhawastu, Raka memperlambat laju motornya. Beberapa meter dekat pintu gerbang, dia berhenti. Suasana di sekitar sekolah emang masih sepi. Maklum baru jam enam.
Oti emang harus datang lebih awal karena sebagai murid baru dia harus ikut Masa Orientasi Siswa atau yang beken disebut MOS. Sebenarnya menurut Oti sendiri, MOS cuma bahasa kerennya perpeloncoan!
" kata Ai Lo juga jadi panitia MOS di sekolah lo, ya? Kok nggak pergi pagi-pagi" tanya Oti membuka kebekuan. Dia melihat beberapa siswa panitia MOS berjaga di depan pagar. Itu bisa dilihat dari pita hitam yang melingkar di lengan kanan seragam SMA mereka. kaya orang berkabung aja😂
" Udah nggak. Gue sekarang jadi PP," jawab Raka singkat.
__ADS_1
"PP? Apaan tuh? Pulang-Pergi?"
"Pengawas Panitia. Gue ngawasin panitia, kalau ada yang nggak sesuai sama aturan."
"Ooo...gitu, kayak provost? Sekolah lo jauh nggak dari sini?" tanya Oti lagi.
"Tadi di perempatan Achmad Yani, belok ke kiri..."
"Lumayan. Emang kenapa?"
"Gak pengin tau aja."
"Kamu siswa baru?" tanya panitia cewek itu dengan suara setengah membentak dan wajah sengaja digalak - galakin. Mungkin biar kelihatan berwibawa, sambil memandang ke seluruh tubuh Oti yang masih pakai seragam SMP. Iseng, Raka memperhatikan panitia cewek itu. wajahnya lumayan juga. Setelah ngebentak Oti, panitia cewek itu bahkan sempat melirik kearah Raka dan buru-buru memalingkan wajah saat tahu Raka memandang dirinya.
"Iya"jawab Oti pendek.
Karena jaraknya cukup jauh, Raka nggak bisa mendengar apa yang dibicarakan Oti dan kakak kelasnya. Apalagi keadaan udah mulai rame dengan anak-anak baru lain yang udah mulai datang. Tapi Raka kemudian melihat salah seorang panitia cewek mencekal tangan Oti dan membawanya masuk ke sekolah.
"Ada apa ini," tanya Raka dalam hati.
__ADS_1
Dan Raka menemukan jawabannya saat melihat anak-anak baru yang lain. Selain memakai seragam SMP asal masing-masing, mereka juga paks aksesoris yang rada-rada "aneh".
Yang cewek rambutnya dikepang dua dan diikat pita merah dan ijo, sedang yang cowok pakai kaos kaki sepak bola setinggi lutut dengan warna merah di kaki kanan dan ijo di kaki kiri.
Mereka juga bawa tas sekolah yang dibuat dari karung bekas dan tali rafia sebagai gantungannya, yang menurut Raka pasti merupakan tugas dari panitia.
Pantes aja panitia tadi ngebentak Oti. Oti kan nggak pake apa-apa selain seragam SMP-nya. Tas sekolahnya juga tas ransel biasa. Pokoknya kayak mo berangkat sekolah biasa aja.
Raka nggak tau apa Oti emang nggak tau soal ini, atau pura-pura nggak tau. Lagian menurut Raka tuh anak terlalu cuek pas pendaftaran ulang, padahal biasanya di situ murid udah dikasih tau harus ngapain dan bawa apa pas pertama masuk sekolah.
Raka tersenyum membayangkan hukuman yang bakal diterima adik tirinya itu.
"Biar tau rasa dia!" Kata Raka dalam hati.
------------
__ADS_1