Victory

Victory
Bab 5


__ADS_3

Oti emang bener-bener bandel. Setelah hari pertama MOS dia nggak pake aksesoris dan bawa semua ketentuan yang disyaratkan untuk anak baru, hari-hari berikutnya dia sering terlambat masuk.



Alasannya sederhana, dia nonton TV sampai larut malam. Padahal peserta MOS diwajibkan hadir satu jam sebelumnya, buat apel pagi dan pemeriksaan tugas di lapangan.




Kontan aja, sesampainya di sekolah, cewek itu sering menjadi sasaran panitia yang udah "setia" nungguin di gerbang sekolah.




Tapi Oti cuek aja. Sakinh cueknya, beberapa kakak kelasnya yang cewek gemas melihat kelakuan Oti, bahkan ada yang berniat menculiknya, dan memermaknya habis-habisan. Untung aja hal itu dicegah Bayu dari kelas 2 IPS 3, sang ketua MOS.




"Saat ini MOS kita sedang diawasi ketat! Jangan berbuat sesuatu di luar acara yang dapat merusak pelaksanaan MOS ini!" ujar Bayu mengingatkan anggota panitia lain.



Bayu nggak cuma mengingatkan anak buahnya. Dia juga aktif mengontrol setiap tindakan panitia lainnya.




Oti sering ketemu Bayu, karena ruang eksekusi bagi peserta yang dianggap bersalah berdekatan dengan posko panitia, selain itu Bayu juga sering ada di ruang eksekusi.




Karena sering ketemu lama-lama Oti jadi suka melihat wajah Bayu yang emang agak imut itu. Bahkan saking sukanya, kadang-kadang Oti sengaja bikin kesalahn agar dibawa ke ruang eksekusi, dengan harapan dapat ketemu Bayu. Karena itu dia kecewa berat kalo ternyata Bayu lagi nggak ada di posko.




Ternyata Bayu salah satu anggota panitia yang jadi favorit, baik di kalangan peserta MOS cewek, atau sesama panitia, bukan hanya Oti.




Karena itu nggak heran kalo dari hari ke hari penyelenggaraan MOS, ruang elsekusi makin ramai oleh anak-anak baru yang melakukan pelanggaran. Dan hampir seluruhnya yang melakukan pelanggaran cewek, termasuk Oti. Ada-ada aja pelanggaran yang dilakukasln, bahkan sampai ada yang mengaku kelupaan pake pita!😂




----------



"Pantes aja lo betah masuk ruang eksekusi," komentar Ticka salah seorang teman sekelas Oti saat mereka lagi istirahat.




Oti nggak langsung menjawab. Dia masih asyik makan pisang goreng sebagai sarapannya (Padahal udah hampir jam sepuluh! Tapi karena Oti tadi gak sempet sarapan, dia menganggap itu sebagai sarapan) sambil duduk di salah satu koridor sekolah, agak terpisah dengan teman-temannya yang berkumpul.



Oti nggak peduli dengan keadaan di sekelilingnya, termasuk empat cewek anggota panitia yang berdiri nggak jauh dari tempatnya dan terus memandang tajam ke arahnya sambil sesekali berbisik, seolah-olah sedang mengawasinnya.




Tiba-tiba Ticka menyikut Oti, dan menggerakkan kepala, seolah menunjuk empat panitia itu. Oti melihat ke arah yang ditunjuk Ticka, kemudian melanjutkan makan.




"Gue udah tau! Biarin aja!," jawab Oti pendek.



Beberapa saat kemudian, sepotong pisang goreng udah pindah ke dalam perutnya.

__ADS_1



"Lo masuk ruang eksekusi?" tanya Oti setelah selesai makan.



Ticka mengagguk.



"Gue penasaran, kenapa cewek-cewek kaya lo sengaja bikin pelanggaran."



"And?"



"Pantes aja doi jarang ada di lapangan, ternyata lebih sering ngejogrok di situ."



"Maksud lo, Kak Bayu?"



"Siapa lagi..."



Dalam sejenak. Ticka kembali melanjutkan makannya.



"Emang lo naksir Kak Bayu?" tanya Ticka.



"Enak aja!" sambar Oti.



"Abis..."



"Gue seneng aja ngeliat dia. Orangnya tenang, kalem, tapi keliatan berwibawa. Gue juga senang ngeliat mukanya yang imut itu," kata Oti.




"Belum tentu. Sampe sekarang gie gak mau mikirin soal cowok! Gue belum mau pacaran," sergah Oti.



"O ya? Kenapa?" tanya Ticka.



"Males aja..."



"Malas atau lo lagi naksir cowok lain?" Tanya Ticka dengan nada menggoda.



Oti nggak menjawab pertanyaan itu. Pandangannya sedang tertuju le arah empat panitia cewek yang sedari tadi mengawasinya.



Saat itu di depan keempat cewek itu, lewat seorang anak baru berambut panjang yang dikepang yang membawa baki berisi dua gelas kopi panas.




Oti mengenalnya sebagai Laras, salah seorang teman sekelasnya yang juga jadi "target" para cowok kakak kelasnya.



Dia sendiri nggak begitu mengenal Laras, karena selain beda kelompok, Laras juga sangat pendiam dan agak pemalu. Keempat panitia cewek itu berpandangan melihat Laras lewat di depan mereka.



__ADS_1


"Heiii!!" Suara keras terdengar dari arah empat cewek panitia itu.


Bersamaan dengan itu Laras terlihat terjatuh diantara mereka.




Baki berisi gelas kopi panas yang rencananya akan disuguhkan untuk para guru di ruang guru tergeletak di lantai, sedang gelas nya pecah berantakan. Tumpahan kopi menyebar ke mana-mana. Termasuk ke baju putih yang dikenakan Laras dan keempat panitia cewek tersebut.




"Vi, baju lo...," kata salah satu dari empat panitia cewek tersebut.



Yang ditunjuk, seseorang berambut panjang dan agak kemerah-merahan memang sedang melihat pakaiannya. Emang, dibanding tiga temannya, dia paling banyak terkena tumpahan air kopi, karena posisinya saat itu tepat berhadapan dengan laras.



"Iiih...,"serunya jijik.



Kemudian dia memandang Laras yang setengah berjongkok menahan sakit karena tangannya terkena pecahan gelas.



"Kurang ajar!!" cewek berambut panjang itu menarik tubuh Laras hingga berdiri, kemudian langsung menamparnya dengan keras sehingga tubuh Laras terhuyung.



"Ma...ma...af, Kak....!" kata Laras terbata-bata sambil menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.




Tapi rupanya cewek berambut panjang itu nggak puas dengan jawaban Laras. Dia kembali menarik kerah baju Laras.



"Enak aja lo minta maaf! Lo kira baju gue bisa bersih kalo lo minta maaf?!!"katanya dengan suara yang keras, yang membuat perhatian seluruh orang yang mendengarnya tertuju pada mereka. Anggota panitia lain berdatangan.




"Ada apa?"tanya salah satu cowok anggota panitia.



"Ini ada anak baru numpahin kopi. Tumpahnya kena ke kita-kita! Liat tuh, baju Revi paling banyak kena" jawab salah satu dari empat panitia, yang rambutnya pendek.



Cewek berambut panjang yang bernama Revi terus memaki Laras yang hanya bisa diam tertunduk.



"Dasar tolol! Gak punya mata, ya!! Cantik-cantik buta!!! Lo punya masalah sama gue!!?" maki Revi.



Anggota panitia lain berusaha menenangkan Revi, sementara Laras mulai ngga bisa menahan isak tangisnya.



"Udah,udah..." salah satu panitia yang bernama Bowo mencoba menetralisir keadaan.



Revi memegang tangan Laras.



"Lo ikut ke ruang eksekusi sekarang!" ujarnya ketus.



"Rin! Bawa dia ke ruang eksekusi! Gue mau ngebersihin baju gue dulu!!" Lanjutnya kemudian pada salah seorang temannya sambil menarik tubuh Laras yang tengah terisak. Anggota panitia yang lain nggak ada yang dapat mencegah hal itu.



__ADS_1


-----



__ADS_2