Victory

Victory
Bab 48


__ADS_3

Oti ternyata ngajak Raka makan malam di sebuah rumah makan di daerah Lembang. Kata Oti, Laras yang merekomendasikan tempat ini, karena selain masakannya enak, tempatnya juga cukup tenang untuk mengobrol, dengan diiringi alunan musik lembut.


Sungguh romantis. Raka sama sekali nggak habis pikir kenapa tau-tau Oti pengin makan di tempat kayak gini. Ini bukan tempat favorit Oti yang sebelumnya lebih suka makan di penggir jalan atau di warung-warung sederhana.


Pertamanya mereka cerita banyak hal. Sebetulnya Oti yang banyak cerita sih. Dia cerita soal dirinya selama dua tahun ini, soal sekolahnya di London. Oti bahkan cerita soal tulisannya yang sebentar lagi akan diterbitin.


"Tadinya gue iseng aja, daripada bete nggak ada kerjaan. Tapi pas gue kasih liat ke Laras, eh, tuh anak malah ngirimin ke penerbit. Untung lolos buat diterbitin. Kalo ngga kan gue malu," cerita Oti dengan semangat '45.


"Emang lo bikin cerita apa?" tanya Raka.


"Ada deh... Ntar lo juga tau. Pokoknya kalo buku gue terbit, lo harus beli. Awas kalo nggak!" kata Oti tegas.


Raka tersenyum mendengar "ancaman" Oti. Untuk beberapa saat lamanya Oti diam. Juga Raka.


"Sekarang lo jawab pertanyaan gue, kenapa lo bisa ada di sini? Apa Ayah sama Tante Heni tau lo pergi ke Bandung?" tanya Raka kemudian.


Oti terdiam sejenak mendengar pertanyaan Raka. Kemudian dia menjawab,


"Boleh dibilang ini kebetulan."


"Maksud lo?" tanya Raka.


"Lima hari yang lalu Mama dapat telpon bahwa Nenek sakit keras. Mama berkeras pergi menengok Nenek. Tadinya Mama mau pergi bareng Dio, tapi Dio nggak mau, jadi Mama minta gue nemenin."


"Dan Ayah setuju?" tanya Raka.


"Tadinya Papa keberatan. Papa takut gue bakal ketemu lo. Tapi Papa ngga tega juga ngebiarin Mama pergi sendiri, sedang Papa juga nggak bisa ninggalin pekerjaannya. Akhirnya Papa ngizinin gue nemenin Mama. Kebetulan juga gue lagi gak ada kerjaan. High school gue lagi libur. Tapi Papa wanti supaya gue jangan ke Bandung atau ketemu lo," kata Oti.


"Dan lo ngelanggar larangan Ayah. Jadi lo kabur dari Tante Heni?" tanya Raka.


"Ko lo nuduh gitu?" tanya Oti.


"Soalnya..."


"Mama nggak kayak Papa. Mama masih bisa diajak ngomong. Walau tadinya keberatan, tapi Mama akhirnya ngizinin gue ke Bandung. Itu juga setelah keadaan Nenek udah membaik. Gua bilang aja kangen sama temen-temen lama. Kangen sama Laras, Ticka, juga Ai."


"Nekat lo. Gimana kalo Papa tau?" tanya Raka.


"Kata Mama, Papa jangan sampai tau. Karena itu gue nggak boleh lama-lama di Bandung. Besok gue harus udah balik ke Jakarta. Rencananya lusa gue sama Mama balik ke London."


"Besok?"


"Iya. Kenapa?" tanya Oti.


"Nggak. Gak papa?" kata Raka.


Suasana jadi hening. Raka masih bertanya-tanya, kenapa Oti sampe nyuri-nyuri waktu untuk ketemu dengannya. Apa sebenarnya yang ada di benak cewek itu?


"Lo udah punya pacar lagi, Ka?" tanya Oti memecah keheningan.


Mendengar pertanyaan Oti, Raka nggak langsung menjawab. Dia malah menatap Oti.


"Jangan salah sangka. Gue cuman nanya. Kalo lo gak mau jawab juga gak papa," lanjut Oti setelah melihat tatapan Raka.

__ADS_1


Raka sedikit menunduk. Dia jadi ingat Irma yang punya sifat yang hampir sama dengan Oti. Agak tomboi dan cuek. Tapi tetap aja Irma bukanlah Oti.


"Nggak. Belum," jawab Raka akhirnya.


"Gimana dengan Ajeng? Lo gak berhubungan dengan dia lagi?" tanya Oti.


"Setelah lo pergi, kami mencoba berhungan lagi. Tapi dasar nggak jodoh, hubungan kami cuman bertahan beberapa bulan. Ajeng masih nganggap dirinya sebagai pelarian cinta gue ke lo. Akhirnya kami sering ribut, dan putus. Sekarang katanya Ajeng udah punya cowok lagi. Temen kuliahnya," kata Raka.


"Sayang banget. Padahal Ajeng kan cantik. Baik lagi. Gue rasa kalian bisa jadi pasangan serasi," kata Oti menyesal.


"Kalo udah takdir, mau diapain lagi. Gimana dengan lo? Katanya mau ngegaet Pangeran William?" goda Raka.


"Yah, dia sih naksir gue, tapi guenya gak betah hidup di Istana. Banyak aturannya," jawab Oti sambil cengengesan.


"Trus? Kenapa gak cari lagi?" tanya Raka.


"Males. Gue nggak suka orang bule. Gue masih suka produl lokal," jawab Oti.


"Kan banyak orang Indo yang sekolah di sana?"


"Iya sih. Tapi kebanyakan orang Indo yang kuliah di sana cuman karena ortunya tajir. Jadi sekolahnya gak serius. Kebanyakan hura-huranya. Gue gak seneng cowok kayak gitu, yang cuman ngehabisin kekayaan ortunya buat sesuatu yang gak berguna. Emang ada sih beberapa orang Indo yang bener-bener niat sekolah, atau yang dapat beasiswa karena otak mereka. Tapi terus terang, gue belum nemuin yang tipenya gue suka," cerita Oti.


"Emang tipe cowok kayak gimana yang lo suka?" tanya Raka.


"Yang kayak lo!" ucapan Oti membuat Raka sedikit terperanjat. Dia hampir tersedak steak yang sedang dikunyahnya.


"He... he... he... bercanda kok! Lagian tipe cowok kayak lo kan langka banget. Di dunia ini mungkin hanya satu banding seribu, atau bahkan satu banding sejuta," kata Oti.


Sialan! Emang gue makhluk langka!? batin Raka.


"Karena gue tampan, baek, dan pengertian


...," jawab Raka sekenanya.


"Yeee... ge-er. Kecuali tampan, semua yang lo sebutin ada benernya. Tapibada satu hal yang gue suka dari lo, yang membuat lo berbeda dengan cowok-cowok lain yang gue kenal selama ini..."


Oti berhenti sejenak. Tampaknya ia ingin melihat realsi Raka. Wajah Raka terlihat sedikit memerah. Sambil tersenyum, Oti melanjutkan ucapannya,


"...Lo sangat mandiri. Walau lo tau Papa bisa membiayai sekolah lo sampai selesai dan segala kebutuhan hidup lo di atas rata-rata, tapi lo gak ngandelin biaya dari Papa. Lo lebih seneng mencari biaya sendiri untuk kebutuhan lo. Bahkan setelah lulus, lo nolak pas Papa nawarin lo kuliah di luar negeri. Lo lebih milih kuliah di sini dengan usaha lo sendiri. Gue tau, mungkin ini karena hubungan lo dengan Papa di masa lalu. Tapi biar bagaimanapun, gue kagum sama lo,"


Wajah Raka terlihat tambah memerah. Wajahnya niscaya akan bertambah merah kalau saja dia tau Oti sudah mengaguminya sejak lama.


Sejak SMP, saat dia mendengar pembicaraan papa-mamanya yang membahas putra sulung papanya yang nolak pindah bersama mereka, saat ibu mereka meninggal, dan memilih tinggal berdua dengan adiknya. Sikap kakak tiri yang belum pernah dilihatnya itu yang menimbulkan kekaguman pada diri Oti, dam sedikit demi sedikit mengikis sifat hura-hura dalam diri cewek itu. Oti bahkan memutuskan sendiri untuk ngelanjutin sekolahnya di Bandung dan tinggal serumah dengan saudara-saudara tirinya, walaupun semula papanya keberatan.


Kekaguman itu berubah menjadi rasa cinta, setelah dekat dengan Raka dan melalui berbagai perjalanan hidup berdua. Sayangnya, perjalanan cinta mereka harus kandas setelah diketahui ternyata Raka dan Oti merupakan saudara seayah.


"Lo sendiri kenapa nggak mencari pengganti Ajeng? Masa nggak ada cewek yang naksir lo?" tanya Oti.


"Gue... gue belum bisa ngelupain lo," jawab Raka.


Nggak tau, keberanian apa yang membuat Raka mengatakan hal itu. Dia sendiri udah nggak berharap hubungannya dengan Oti akan terjalin kembali. Lagi pula mungkin aja Oti udah dapat melupakan hubungan mereka. Terbukti sekarang Oti nggak pake kalung yang dinerikannya di bandara dulu.


Mendengar jawaban Raka, Oti hanya menghela napas.

__ADS_1


"Kalung yang gue kasih dulu masih lo pake?" tanya Oti.


Sebagai jawaban, Raka mengeluarkan kalung yang tersembunyi di balik bajunya. Kalung bermata proyektil peluru.


"Kenapa?" tanya Oti singkat.


"Gue udah berusaha ngelupain lo. Ngelupain cinta kita. Tapi nggak bisa. Mungkin karena gue bener-bener mencintai lo," kata Raka.


"Tapi lo tau itu nggak bener! Biar bagaimanapun kita nggak akan bisa pacaran. Lo tau itu. Lagi pula gue nggak nyuruh lo ngelupain secara pribadi. Gue hanya minta lo ngelupain cinta yang pernah kita bina. Hubungan kita nggak akan bisa terputus sama sekali, karena kita kakak-beradik."


"Justru itu yang membuat gue susah ngelupain cinta kita. Karena gue masih berhubungan dengan lo," kata Raka.


"Mungkin jika gue menghilang dari hadapan lo untuk selamanya, lama-lama lo akan ngelupain gue," kata Oti.


"Jangan bicara yang enggak-enggak," sergah Raka.


Suasana kemudian hening. Hanya terdengar alunan musik berirama slow di seluruh penjuru kafe.


"Jadi, lo udah bisa ngelupain cinta kita. Karena itu lo gak pake lagi kalung yang gue kasih di bandara. Lo gak lagi nyimpen kalung itu?" tanya Raka.


"Seperti gue pernah bilang, gue akan nemuin lo kalo udah bisa ngelupain cinta kita. Sekarang gue ada di sini. Di depan lo. Lo udah tau kan apa artinya?" tanya Oti


"Oti, lo..."


"Raka gue nggak mau ngebahas itu lagi. Tujuan gue ke Bandung cuman buat ketemu lo, Ai, dan temen-temen gue. Gue pengin lihat keadaan lo, sebagai Kakak gue. Nggak lebih. Lo bisa ngerti, kan?" suara Oti bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir.


Raka memandang Oti, kemudian mengangguk pelan.


"Sori. Gue ke toilet sebentar," kata Oti, kemidian bangkit dari kursinya.


Sepeninggal Oti, Raka menghempaskan diri pada kursi. Dia menyesali kebodohan dirinya yang nggak bisa menahan perasaan. Sekarang Raka nggak tau bagaimana pandangan Oti terhadap dirinya.


Cukup lama Oti berada di Toilet, sebelum kembali di kursinya. Raka sempat melihat wajah Oti. Wajah dengan tanda-tanda kayah habis nangis. Walau agak tertutup kacamata.


"Lo nggak papa kan, Ot?" tanya Raka.


"Mungkin ini terakhir kalinya gue bisa ketemu sama lo," kata Oti.


"Terakhir kali? Kenapa? Apa karena ucapan gue tadi?" tanya Raka panik.


"Gue rasa, sebaiknya gue jangan ketemu lo lagi sampai lo bener-bener udah menghapus cinta lo ke gue. Nggak tau sampai kapan. Mungkin sampe gue atau lo udah nikah sama orang lain, atau mungkin juga untuk selamanya. Itu semua tergantung lo," kata Oti.


"Tapi gue cuman ngomong sejujurnya. Gue..."


"... gue bisa ngerti. Justru itu salah satu yang gue suka dari lo. Lo selalu bicara terus terang dan apa adanya. Tapi sori, lo juga tau sifat gue. Gue nggak akan mentingin diri gue sendiri," kata Oti.


"Walau harus ngorbanin kebahagiaan lo?" tanya Raka.


Oti memandang Raka tajam.


"Kata siapa? Gue nggak merasa berkorban. Gue udah nggak ada perasaan apa-apa ke lo. Gue ketemu cuman mau mastiin lo juga udah gak punya perasaan apa-apa ke gue. Dan gue kecewa karena ternyata lo belum berubah," kata Oti.


"Maafin gue. Gue nggak bermaksud membuat lo kecewa. Lo pasti membenci gue. Iya, kan?" tanya Raka.

__ADS_1


"Gue gak bisa membenci lo. Gue hanya melakukan apa yang gue rasa harus gue lakukan. Ini semua untuk kebaikan gue, lo, dan keluarga kita," kata Oti.


__ADS_2