
"Waaahh... Enak banget!!" seru Oti sambil menyantap sepiring mi goreng di hadapannya.
Untung aja suasana warung yang berada di depan hotel tersebut sepi, hanya pemilik warung yang memandang Oti dan Raka yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum.
Raka membelalakkan matanya ke arah Oti. Tapi seperti biasa Oti cuek aja. Selama hampir seminggu ia nggak dapat menikmti mi goreng, salah satu makanan favoritnya.
Makanan sepanjang minggu itu terdiri atas berbagai jenis makanan yang katanya mengandung sedikit lemak dan kolesterol.
Makanan yang menurut Oti lebih layak jadi makanan kambing, walaupun dihidangkan do hotel bintang lima. Dalam sekejap sepiring penuh mi goreng di hadapannya habis nggak tersisa.
"Mang! Tambah satu lagi!" seru Oti. Raka memandang adik tirinya dengan heran.
"Lo bener-bener laper atau doyan?" tanya Raka. Dia yang sedari siang belum makan pun gak 'seganas' itu cara makannya.
"Sori. Abis gue udah lama gak makan mi goreng." kata Oti santai.
"Baru juga seminggu Lagian bukannya makanan di hotel enak-enak?" tanya Raka.
"Enak apanya? Setiap hari yang disediain selalu sayur dan buah-buahan. Emangnya gue kambing? Kalaupun ada daging cuman sedikit. Beda dengan jatah panitia," kata Oti.
"Itu karena mereka menghindari makanan yang mengandung lemak dan kolesterol. Kan buat jaga tubuh," kata Raka.
"Bagi gue itu semua siksaan. Syukurlah semua akan berakhir besok. Apa pun hasilnya, gue bersyukur bisa makan dengan bebas lagi," kata Oti lagi.
"Walaupun lo kalah dari Revi?"
Ucapan Raka membuat Oti menghentikan makannya sejenak. Dia memandang Raka.
"Lo udah tau?" tanyanya.
"Banyak yang bisa ditanya. Salah sendiri banyak saksi," jawab Raka kalem.
"Ternyata seorang Oti bisa panas juga dan ngelakuin hal yang tadinya paling dibenci, hanya buat menjaga supaya dirinya nggak kalah," lanjutnya.
"Bukan gitu...," sergah Oti.
"Gak usah dijelasin lagi. Pokoknya apapun itu, lo harus berusah sebaik-baiknya. Jadi gue gak capek-capek nyiarin langsung besok."
Oti tersenyum mendengar perkataan Raka.
Udara Bandung yang dingin menusuk tulang. Badan Oti menggigil ketika angin malam menyambar tubuhnya. Aneh, padahal tadi di kamar hotel dia kepanasan.
__ADS_1
Raka yang melihat Oti kedinginan segera melepas jaket kulit yang dipakainya, dan menyampirkannya ke bahu Oti. Oti kaget, nggak nyangka Raka akan berbuat demikian.
"Eh, gak usah..."
"Udah... jangan banyak alasan. Gue liat lo kedinginanm Ntar lo sakit lagi. Gak lucu kan kalo besok lo masuk angin."
Oti hanya diam mendengar ucapan Raka. Dia menyesal kenapa tadi ngga bawa jaket dari kamar. Tapi nggak tau kenapa Oti merasa hangat dan nyaman saat Raka melingkari pundaknya untuk memakaikan jaket. Tanpa sadar wajahnya tersipu-sipu. Untung Raka nggak memerhatikannya. Dia sibuk menyantap makan malamnya.
"Mengenai pemilihan ini, menurut lo tindakan gue ini berdasarkan emosi, ya?" tanya Oti. Mendengar pertanyaan Oti, Raka menghentikan makannya.
"Gue gak bermaksud bilang gitu. Apa pun yang lo lakukan, itu semua terserah lo. Asal lo gak lakuin hal yang gak bener, gue gak akan ngelarang," kata Raka.
"Gue tau. Gue sekarang juga merasa tindakan gue cuma berdasarkan emosi. Andaikan gue kalah dari Revi, habislah gue. Revi bakal makin nginjek-nginjek harga diri gue. Pindah sekolah kayaknya jalan terbaik kalo itu sampai terjadi," putus Oti.
"Gue sendiri belum tau sifat temen sekolah lo yang namanya Revi itu. Tapi kayaknya lo benci banget sama dia, ya?"
"Bukannya benci. Gue cuman gak senang liat kelakuan dia dan teman-temannya yang seenaknya aja terhadap orang lain, terutama anak baru kayak gue. Dan saat itu, gue pikir, satu-satunya jalan untuk menghentikan sifat Revi adalah dengan ngalahin dia dalam pertandingan yang selalu i banggakan dengan mengandalkan kecantikannya. Karena itu gue terima tantangannya. Padahal kalo gue mau berpikir jernih, kayaknya Laras atau Ticka lebih berpeluang dari gue kalo aja mereka ikut," kata Oti jujur.
Raka terdiam sejenak mendengar parkataan Oti. Dia tau mental Oti saat ini sedang down. Dan tugasnyalah mengembalikan kepercayaan diri adik tirinya ini.
"Lo lakuin ini untuk temen-temen lo, kan?" tanya Raka.
"Kalo gitu lo tetap berusaha, seperti kata lo tadi, apa pun hasilnya. Gue yakin temen-temen lo ngeharepin lo mersih hasil yang terbaik. Mereka pasti mendoakan lo. Kalaupun lo gak menang, mereka harus tau lo udah berusaha keras. Hal itu akan membuat lo semakin berharga di mata mereka, sehingga walaupun Revi terus menginjak harga diri lo, nggak akan mengubah penilaian mereka terhadap lo," kata Raka panjang lebar.
"Bisa aja lo. Tapi kalo liat finalis lain, gue jadi rada gak pede. Apalagi waktu penilaian. Kayaknya gue banyak ngelakuin kesalahan deh. Terutama nanti pada saat para finalis diminta memperlihatkan kebisaan mereka."
"Emang lo nunjukkin apa? Karate?" tanya Raka.
"Tadinya mau sih, tapi dilarang Iwan. Lo tau kan, yang ngelatih gaya gue. Katanya itu malah dapat ngurangin penilaian, karena kesannya jadi nggak cewek banget."
"Trus lo nunjukkin apa?" Raka coba mengingat-ngingat, apa lagi kebisaan Oti selain karate.
"Nyanyi" sahut Oti pede.
"Nyanyi?"
"Iya. Abis kebanyakan finalis juga nyanyi, ya gue ikut-ikutan aja. Gak tau deh suara gue fals atau nggak. Abis gue gak sempet berpikir panjang Tapi katanya saat pemilihan besok, kalo masuk lima besar, para finalis dapat menampilkan kebiasaanya yang lain, malah kemungkinan akan mendapat nilai tambah."
Dalam keadaan normal, Raka pasti akan bilang suara Oti bagus, tapi lebih bagus lagi kalo Oti gak nyanyi. Tapi sekarang dia gak mau kembali mematahkan kepercayaan diri Oti yang udah mulai tumbuh.
"Lo ada rencana nunjukin apa?" tanya Raka hati-hati.
__ADS_1
Oti hanya mengangkat bahunya tanda nggak tau.
"Paling nyanyi lagi. Atau lo ada ide?"
"Ide? Lo aja gak tau, apalagi gue," sergah Raka.
"Kirain... eh, lo mau tau gue waktu itu nyanyi apa?" tanya Oti.
"Apa?" Raka balas bertanya dengan heran.
"Gue bawain Love Destiny-nya Ayumi Hamasaki. Lo tau kan lagunya?"
"Tau. Tapi itu kan bahasa Jepang? Emang lo hafal?" tanya Raka.
"Kalo gak hafal masa gue bawain sih? Itu kan salah satu lagu favorit gue. Untung gue bawa iPod, jadi sebelumnya gue sempet latihan dulu sambil dengerin lagu aslinya yang ada di iPod gue."
Seorang cowok yang mengenaka T-shirt bertuliskan "PANITIA" masuk ke warung tempat mereka makan. Oti sedikit kaget. Cepat dia memalingkan wajah dan menarik topi yang dipakainya ke bawah buat nutupin wajahnya.
Untungnya cowok itu cuman memesan dua piring nasi goreng dan meminta makanan itu diantarkan ke depan hotel, kemudian kembali ke kuar.
"Kayaknya lo mesti balik sebelum ketauan. Gue juga mau langsung balik. Kasian Ai," kata Raka. Dia membayar harga makanan.
Kemudian mereka berdua kembali ke hotel. Sempat juga kucing-kucingan sama beberapa orang panitia yang lagi nongkrong di depan hotel.
"Sampa ketemu besok," kata Oti.
"Ya, besok," kata Raka.
Oti melepas jaket milik Raka yang sedari tadi di kenakannya, dan menyerahkan kembali pada kakaknya itu.
"Lo jangan sampai sakit. Kalo lo gaj dateng, sia-sia dong gue bertanding besok," ujar Oti, seakan membalas ucapan Raka pas di warung. Raka tersenyum sambil menerima jaket dari adiknya.
"Udah ya... Salan buat Ai. Byeee..." Oti melambaikan tangan kemudian berbalik.
"Ot!" panggil Raka. Oti kembali menoleh.
"Jangan melihat sesuatu dari luarnya aja. Gue yakin lo punya kelebihan. Sesuatu dari dalam dan mungkin hal itu nanti akan dilihat para juri. Bagaimanapun jangan putus asa. Berusahalah sebaik-baiknya. Tunjukkan kalo nama lo emang Victory."
"Bye..."
Kali ini setengah berlari menuju ke lift sambil jelalatan menoleh ke kiri-kanan, kalo -kalo ada anggota panitia di sekitar tempat itu.
__ADS_1