
Setelah itu suasana mendadak jadi kaku. Oti dan Raka nggak banyak ngomong. Mereka pun keluar dari kafe dengan menyimpan perasaan masing-masing.
Tanpa diketahui Raka dan Oti, ada yang memerhatikan mereka dari sebuah mobil kijang yang diparkir di sudut lain tempat parkir.
"Itu orangnya..." ujar salah seorang yang berada do balik kemudi.
"Lo yakin?" tanya temannya yang duduk di sampingnya.
"Gue gak bakal lupa sama cewek sialan itu. Cewek yang udah bikin gue ngedekam di penjara selama setahun lebih. Dan saatnya sekarang dia membayar apa yang pernah dia lakukan pada diri gue!"
Cowok yang memegamg kemudi iti menghidupakan mesin mobilnya, lalu menekan pedal gas dalam-dalam. Dengan kecepatan tinggi, mobil kijang biru tua itu melesat dari tempat parkir, menuju ke arah Oti dan Raka yang sedang berjalan ke mobil mereka.
Suara mobil yang kian dekat mengalihkan perhatian Oti dan Raka.
"Raka!! Awas...!!"
Refleks Oti yang udah terlatih mendorong tubuh Raka untuk menghindari mobil yang melaju ke arah mereka. Raka terjerembap di sisi lain. Dia selamat dari mobil yang akan menabraknya, Oti nggak.
Walau setelah mendorong Raka Oti masih mencoba menghindar, tapi udah terlambat. Kontan aja Oti terlempar beberapa meter, dan bagian belakang tubuhnya menghantam mobil lain yang sedang diparkir. Benturan yang terjadi sangat keras, hingga akhirnya alarm yang dipasang pada mobil yang dihantam tubuh Oti sampai berbunyi.
"Cepat kabur!"
Mobil kijang yang menabrak Oti segera tancap gas, mencoba kabur. Beberapa orang dan petugas keamanan yang melihat kejadian itu mencoba menghalangi, tapi nggak berdaya menghadapi mobil yang sedang dipacu dengan kecepatan tinggi.
"Oti!!"
__ADS_1
Raka menghampiri tubuh Oti yang tergeletak di tanah. Darah mengalir dari mulut, dan beberapa bagian tubub cewek itu. Oti diam ngga bergera.
"Otiii!!!" jerit Raka sambil memeluk tubuh Oti.
---------------
Hingga jam dua dini hari, Raka masih ada di Rumah Sakit Hasan Sadikin, tempat Oti dirawat.
Saat ini Oti sedang manjalani operasi darurat untuk menyelamatkan jiwanya. Beberapa tulang cewek itu diketahui patah, disertai pendarahan hebat dalam tubuhnya. Operasi telah berlangsung lebih dari dua jam dan belum ada tanda-tanda akan selesai.
Raka ingat ucapan Oti saat makan malam:
Mungkin ini terakhir kalinya gue bisa ketemu sama lo.
Apakah ini pertanda? tanya Raka dalam hati. Dia nggak pengin sesuatu yang buruk menimpa Oti.
Jika ini hukuman atas perbuatan kami, aku memohon ampun padaMu! Tolonglah dia, Tuhan!
Raka melihat bangku yang ada di koridor rumah sakit. Di situ ada Ai yang tertidur dalam pelukan Laras. Mata Ai sembap, sehabis menangis. Ai, seperti Laras tetap ingin nunggu operasi Oti selesai walau Raka udah nyaranin adiknya pulang aja. Besok Ai harus sekolah.
"Nggak mau! Ai nggak bakal bisa tenang kalo gak tau kondisi Kak Oti!" alasan Ai.
------------------
Satu hal yang Raka baru tau, Oti ternyata bohong. Dia nggak pergi ke Jakarta bersama mamanya.
__ADS_1
Raka baru tau setelah mengabari apa yang menimpa Oti pada ayahnya di London. Ternyata Tante Heni ada di London, dan nggak pergi ke mana-mana.
Mendengar kabar itu, tentu aja ayahnya marah besar. Raka sendiri bisa membayangkan dirinya akan jada sasaran amarah ayahnya begitu tiba di sini. Begitu mendengar kabar tentang apa yang menimpa Oti, ayahnya dan Tante Heni langsung terbang ke Jakarta.
"Oti emang bohong sama Kak Raka. Dia pergi ke Bandung sendirian, tanpa sepengetahuan mama dan papanya," kata Laras yang matanya juga sembap sehabis nenangis.
"Tapi kenapa Oti ngelakuin hal itu?" tanya Raka.
"Kalo Kakak pengin tau, Kakak bisa liat tas tangan Oti," kata Laras.
Tas tangan Oti?
Penasaran dengan ucapan Laras, Raka mengambil tas tangan Oti yang disimpan di mobil lalu membukanya. Nggak ada yang istimewa. Cuman ada dompet, make-up sederhana kayak bedak dan lipstik, tisu, serta beberapa lembar lipatan-lipatan kertas. Sama seperti layaknya tad wanita-wanita lain.
Raka lalu membuka dompet Oti. Ada kartu pengenal, beberapa lembar uang dalam mata uang Rupiah, Poundsterling, dan Euro, juga dua kartu kredit.
Raka meraba sesuatu dalam dompet Oti. Sesuatu yang tersembunyi pada salah satu saku dompet. Dia segera merogoh benda tersebut. Dan betapa terkejutnya Raka melihat apa yang didapatnya.
Di tangannya kini tergenggam seuntai kalung kuning keemasan, dengan huruf "VR" di matanya. Itu kalung yang ia berikan kepada Oti di bandara dulu. Berarti Oti bohong saat bilang dia nggak nyimpen kalung itu lagi.
Kenapa Oti melakukan itu?
Apa maksud sebenarnya?
Apa Oti benar-benar udah melupakan cintanya?
__ADS_1
Raka memerhatikan foto Oti pada salah satu kartu pengenalnya. Saat diperhatikan baik-baik, barulah terlihat, Oti mengenakan kalung pemberiannha. Walaupun nggak ada pada semua foto pada beberaa kartu pengenal yang ada dalam tas Oti terlihat cewek itu mengenakan kalung atau nggak, tapi pada foto yang terlihat, semua mengenakan kalung yang sama, bukan kalung yang dipakainya saat ini.
Bahkan di foto kartu perlustakaan di London yang dibuat hanya dua minggu sebelum Oti datang ke Jakarta, rantai kalung tersebut terlihat jelas sekali.