
"Saat umur delapan tahun, Ayu jatuh dari pohon. Nggak lama kemudian dia kena demam hebat. Suhu badannya sangat tinggi. Setelah itu, kedua kakinya ngga bisa digerakkin lagi," tutur Ajeng.
Wajahnya menampakkan kesedihan yang mendalam. Raka yang duduk disampingnya hanya dapat menatap wajah cewek itu. Dari ucapan Ajeng, keliatan dia sangat menyayangi adiknya. Sementara itu, Ayu keliatan asyik menonton acara musik, ngga jauh dari mereka.
"Kamu tentu sangat sayang sama adik kamu," ujar Raka. Ajeng mengangguk.
"Hanya kami berdua anak Mama dan Papa. Sejak kecil kami berdua biasa bermain bersama. Ayu sempat shock setelah tahu dirinya lumpuh. Butuh waktu lama buat ngembaliin kepercayaan dirinya. Itu juga belum sepenuhnya berhasil. Sampe sekarang dia masih ngga mau bermain dengan teman-teman sebayanya. Sepulang sekolah, Ayu lebih banyak mengurung diri di rumah."
Ucapan Ajeng itu membuat pandangan Raka terhadap cewek itu berubah. Dia sama sekali nggak nyangka Ajeng yang menjadi incaran setiap cowok di kelasnya ini punya cerita yang mengharukan. Raka jadi simpati terhadap Ajeng.
"Jadi itu sebabnya kamu selama ini belum punya cowok?" Nggak tau kenapa pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Ketika sadar Raka menyesali kebodohnnya. Shit! batinnya. Gimana kalo Ajeng marah.
Tapi Ajeng ternyata nggak marah. Dia cuma tersenyum mendengar pertanyaan Raka.
"Mungkin itu salah satunya. Waktu Ajeng selalu tersita buat sekolah, latihan paskibraka, dan nemenin Ayu. Ajeng ngga punya waktu lagi buat pacaran. Apalagi kalo ternyata cowok Ajeng nanti ngga mau ngerti keadaan keluarga Ajeng, keadaan Ayu. Bagi Ajeng, Ayu segala-galanya..."
"...Dan kamu tahu, akhir-akhir ini, salah satu yang dapat membangkitkan kepercayaan diri Ayu adalah kamu. Mendengar suara kamu di radio dapat membuat Ayu selalu ceria dan sejenak dapat melupakan kekurangannya," kata Ajeng kemudian sambil menatap Raka.
__ADS_1
------------------------------------------
Oti lagi ngerjain PR ( atau lebih tepatnya, nyontek PR punya Laras ) di perpustakaan sekolah saat Bayu menghampirinya.
"Katanya kamu mau ikut pemilihan putri SMA?" tanya Bayu lirih.
"Rupanya gosipnya udah nyebar, ya?" jawab Oti tanpa mengalihkan pandangan.
"Kenapa, Ot?"
Oti menoleh menatap Bayu.
"Bukan begitu. Kudengar kamu bertaruh dengan Revi, benar?" tanya Bayu.
Oti nggak menjawab pertanyaan Bayu, malah kembali mengerjakan PR-nya.
"Apa gunanya? kamu udah tahu sifat Revi. Kenapa masih dilayani?"
__ADS_1
Kata-kata Bayu membuat Oti kembali menghentikan kegiatannya. Dia kembali menatap Bayu, kali ini dengan tatapan mata tajam.
"Apa Kakak akan berdiam diri kalo Kakak dihina seperti yang udah Revi lakukan pada Oti?" jawab Oti tegas.
Oti melirik pintu. Tampak Ticka dan Laras berdiri di depan pintu perpustakaan, memberi tanda padanya untuk keluar.
"Permisi, Kak," kata Oti sambil membereskan bukunya.
"Mau ke mana?"
"Ada perlu..." kata Oti.
"Eh, Oti...." Bayu memegang lengan Oti yang hendak beranjak dari kursinya.
"Ada apa lagi, Kak?" tanya Oti.
"Kamu pulang jam berapa? Bisa bareng ngga? Aku mau konsultasi lagi soal mesin mobil," kata Bayu.
__ADS_1
"Hmmmm..... gimana ya? Lihat nanti aja deh.."